Saturday, November 14, 2015

Al-Idrisi Pencipta Peta Dunia 1




Minatnya yang besar pada matematika dan astronomi menjadikannya sangat ahli di bidang navigasi. Hal ini membawanya menjadi seorang yang sangat pakar di bidang geografi dan pembuatan peta. Sejarawan SP Scott memuji karya geografi Al-Idrisi sebagai sebuah era baru dalam sejarah pengetahuan. Informasi historis karya-karya Al-Idrisi sangat menarik dan berharga.

Kata Pengantar

Tak pelak lagi bahwa Peta (atau GPS zaman kini) sangat berguna dalam memandu perjalanan. Tanpa Peta akan sesat. Setidaknya mendapat kesulitan dalam perjalanan. Sebagai contoh tahun 2000 penulis mengadakan perjalanan ke benua Eropa, termasuk Inggris yang terpisah dari daratan Eropa. Dari Amerika ke Franfurt, Jerman menggunakan pesawat udara. Sesampainya di airport langsung menuju ke kounter penyewaan mobil yang sudah dipesan sebelumnya melalui internet. Perjalanan keliling Eropa dengan kendaraan mobil ketika itu menjadi mudah, karena menggunakan Peta yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Nah. Eropa di abad tengah belum semaju negeri-negeri Islam yang sudah terbiasa berlayar sejak dari Iraq, Kairo, Afrika Utara, India, pulau Sumatra, pulau Jawa dan China, dan sebaliknya. Pelayaran Muslim ketika itu dalam hubungan membawa barang dagang (berniaga) dan dakwah. Mereka mampu mengadakan pe;ayaran jauh karena ada Peta dan Astrolobe - penentu arah dan posisi kapal laut, Al-Idris lah penemu dan pembuat Peta Dunia yang di kagumi Eropah (Barat) sekurangnya sampai tiga Abad lebih. Lihat juga tulisan dengan tajuk Muslim Penjelajah Dunia.



Pendahuluan



A
l-Idrisi, nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti (أبو عبد الله محمد الإدريسي). Dikalangan orang Eropa (Barat) dikenal dengan nama Dreses. Muhammad al-Idrisi lahir di kota Afrika Utara, di kota semenanjung Ceuta (Sabtah), Maroko tahun 1100. Dia adalah pakar geografi, kartografi, mesirologi, botani  Dia seorang pengembara yang tinggal di istana Raja Roger II. Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah di Maroko. Ia keturunan dari Hasan bin Ali, putra Ali ra, dan cucu Nabi Muhammad saw. Ia tumbuh dan besar di Ceuta dan menempuh pendidikan di Cordova, Spanyol Al-Andalus. Dan wafat tahun 1166 M di Sisilia - pulau, sekarang bagian negara Italia.

Al-Idrisi juga merupakan ahli farmakologi dan seorang dokter. Namun, minatnya yang besar pada matematika dan astronomi menjadikannya sangat ahli di bidang navigasi. Hal ini membawanya menjadi seorang yang sangat pakar di bidang geografi dan pembuatan peta (kartografi), [lihat Gambar 1].
 
Hubungannya Dengan Raja Sisilia

Sisilia adalah tempat pertemuan dua peradaban, Barat (Eropa, Kristen) dan Timur (Middle East, Islam). Dikuasai oleh orang-orang Arab tahun 831, pulau ini dalam kendali Muslim sampai akhir abad ke-11. Selama rentang waktu tiga abad, orang-orang Arab Muslim membangun bendungan, sistem irigasi, waduk dan menara air, memperkenalkan tanaman baru seperti jeruk dan lemon, kapas, kurma, dan beras.
Pada awal abad ke-11, sekelompok tentara Norman yang dipimpin oleh Roger berkuda ke selatan Italia untuk merebut (pulau) Sisilia dari orang-orang Arab Muslim. Pada  tahun 1101 Roger berhasil menaklukkan Sisilia. Empat tahun kemudian, ia mewariskan Sisilia pada anaknya, Roger II, pada tahun 1130,  berperawakan tinggi, berambut gelap, berjanggut dan gemuk. Roger II, memerintah kerajaannya dengan bijaksana. Ia dikenal sebagai filsuf, matematikawan, dokter, ahli geografi, dan penyair.

Pada tahun 1138, di istana kerajaan Palermo, Sisilia, Roger II mengadakan pertemuan dengan seorang cendikiawan Muslim terkemuka. Saat cendikiawan Muslim itu memasuki aula, sang raja bangkit, dan membawanya melintasi marmer berkarpet untuk menduduki tempat terhormat di samping Raja. Cendikiawaan Muslim itu diminta datang dari Afrika Utara untuk membahas mengenai pembuatan peta (atlas) dunia. Cendikiawan Muslim tersebut yang merupakan ahli geografi bernama Muhammad Al-Idrisi. Setelah belajar di Cordoba, Al-Andalus (Spanyol Islam), ia melakukan beberapa tahun perjalanan meliputi sepanjang Mediterania, Lisbon hingga ke Damaskus. Pada pertemuan itu, Roger II meminta Al-Idrisi untuk membantu pembuatan peta yang saat itu masih simbolik dan hanya berdasarkan pada tradisi dan mitos ketimbang penyelidikan ilmiah. Roger II ingin membuat sebuah peta dunia dengan menampilkan garis pantai, tanjung, teluk, perairan dangkal, dan pelabuhan.

Dimulai dengan Akademi Geografi


Keinginan Roger II untuk membuat peta ia percayakan kepada Al-Idrisi. Untuk melaksanakan proyek tersebut, Roger II mendirikan sebuah akademi geografi dengan dirinya sebagai direktur dan Al-Idrisi sebagai sekretaris. Roger II ingin tahu kondisi  yang tepat dari setiap daerah, iklim, jalan, sungai-sungai, dan laut dunia luar, [lihat Gambar 2].

Akademi geografi  tersebut dimulai dengan mempelajari dan membandingkan karya-karya geografi sebelumnya dari 12 cendikiawan yang 10 diantaranya adalah Muslim.
Dominasi Muslim di bidang geografi dikarenakan para pedagang Muslim sering mencatat perjalanan mereka, menjelaskan rute, dan kondisi kota-kota di sepanjang jalan. Beberapa di antara mereka adalah Ibnu Khurdadhbih, Al-Yaqubi, Qudamah, Ibnu Hawqal dan Al-Mas'udi. Dua ahli geografi lainnya dari era pra-Islam yaitu karya geografi Paulus Orosius dan Ptolemy.





Setelah memeriksa panjang lebar karya geografi mereka, Roger II dan Al-Idrisi memutuskan untuk mulai mengumpulkan informasi. Pelabuhan Sisilia dipilih sebagai tempat yang ideal untuk mulai mengumpulkan informasi. Selama bertahun-tahun, hampir setiap kapal yang merapat di Palermo, Messina, Catania, atau Siracusa diminta untuk menceritakan tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Tidak hanya mengandalkan informasi dari para pelaut, Roger II dan Al-Idrisi mengumpulkan informasi dari para wisatawan. Jika mereka menemukan wisatawan yang telah mengunjungi sebuah wilayah, maka wisatawan tersebut diminta untuk menceritakan daerah yang dikunjungi, tentang iklim negara tersebut. Selain itu, bagaimana kondisi sungai, danau, gunung, pantai, dan tanahnya; bagaimana kondisi jalan, bangunan, monumen, tanaman, kerajinan; impor dan ekspornya; bagaimana budaya, agama, adat dan bahasanya. Jika informasi yang didapatkan dirasa masih kurang, maka dilakukan ekspedisi ilmiah ke daerah-daerah tersebut. Dalam ekspedisi ilmiah terdapat juru gambar dan kartografer sehingga dapat merekam visual wilayah tersebut. Selama 15 tahun mengumpulkan informasi, Al-Idrisi dan Roger II membandingkan data, mencari fakta-fakta, dan membuang semua informasi yang bertentangan.  Akhirnya, pengumpulan informasi pun selesai dan pembuatan peta pun dimulai. □ AFM



Bahan Bacaan:

Wikipedia Republika Sumber-sumber lainnya. □□□

Blog Archive