Tuesday, November 17, 2015

Antropologi Pemikiran Kaum Teroris 1





Bagi kita semua yang telah mencicipi kebebasan dan prestasi modernitas, Karen Armstrong merekomendasikan, “kita tak boleh berhenti untuk berempati dan bersimpati terhadap kesusahan dan penderitaan yang dialami sebagian komunitas kaum fundamentalis Islam.” Ibarat pecandu narkoba, mereka tidak boleh dianggap sebagai kaum yang melanggar hukum yang harus dikejar-kejar, melainkan harus dipandang sebagai kaum yang membutuhkan perawatan untuk mengobati penyakit ketergantungan dan ketakutan irasional mereka. “Modernisasi”, menurut Karen Armstrong, “seringkali dirasakan tidak sebagai sebuah pembebasan melainkan sebuah serangan agresif”.


Kata Pengantar

Ada baiknya mengikuti tulisan ini - walaupun ditulis sudah beberapa tahun yang lalu namun masih up to date sampai hari ini. Penulisnya bernama Al Chaidar, dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh.

Tak pelak lagi paparan Al Chaidar yang begitu baik. Ia mengenal kategori Islam secara umum, maupun “Islam Fundamental” yang berbeda dengan “Islam Radikal”, dan memahami pula Barat melalui analisis Karen Armstrong yang menawarkan pendekatan yang bukan pendekatan militer tapi sebagai pendekatan intelektual yang dalam.

Baik bagi golongan menengah muda Muslim, karena paparan dalam blog ini menghantarkannya kepada gambaran yang lengkap dan menyeluruh dan berbeda dari apa yang dilihatnya dalam pemberitaan-pemberitaan media massa dan jejaringan sosial lainnya yang selama ini ada.

Dengan itu posisinya sebagai generasi muda muslim dapat memberikan sumbangan positif dan membangun bagi kehidupan dalam pergaulan nasional dan internasional dalam memahami dunia dan memahami “Islam sebagai rahmatan lil ‘alamīn”. Yaitu berperan serta sebagai solusi dunia di millennium ke-3 ini dan sampai akhir zaman, karena semangat Islam adalah amar makruf (agent of development) dan nahi mungkar (agent of change). Sebagaimana yang dipaparkan juga dalam blog kami yang bertajuk: Memahami Terorisme.

Dan juga sebagai komparatif studi dan pengetahuan yang berkaitan dengan terorisme lainnya seperti dalam uraian yang bertajuk: Tragedi Paris dan Kemunafikan Dunia.

Mudah-mudahan kejadian-kejadadian terror di Perancis dalam minggu ini, di Palestina, di Syria, di Myanmar, di Irak, di Afghanistan dan belahan dunia lain dapat di akhiri. Kami sebagai salah seorang penduduk Bumi di era seperlima abad ke-21 atau sepersepuluh millennium ke-3 ini rasanya malu. Karena apa? Sementara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi maju pesat menukik keatas hampir-hampir vertical, namun prihatin dalam melihat kemunduran sosiologis dalam bernegara dan berantar negara di abad globalisasi ini yang begitu “brutal” dan tidak manusia antara negara maju dan dunia ketiga. Seolah-olah kembali ke abad tengah (the medieval ages) Eropah.

Kami berharap kalau yang mau dibaca itu sebaiknya seperti apa yang dipaparkan Karen Armstrong [1] dari pada hanya berpegang kepada teori The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order oleh Samuel P. Huntington [2]. Wallahu ‘alam bish-shawab. □


Latar Belakang

D
ari pengakuan para tersangka tindak pidana terorisme Bom Bali 12 Oktober 2002, jelas terlihat sebuah ekspresi emosi keagamaan. Ali Gufron, salah seorang tersangka teror Bom Bali, bahkan menyatakan sikapnya dengan tegas dan sederhana: “… membalas kezaliman dan kesewenangan AS dan sekutunya terhadap kaum Muslim dengan maksud agar mereka menghentikan kezalimannya.” Ada suatu nilai yang bekerja dan mendikte jalan pikiran mereka. Ali Ghufron misalnya, menyatakan bahwa pemboman itu adalah “aksi pengabdian kepada Tuhan.” Maka Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi, dan kelompoknya merasakan suatu delusion of grandeur, perasaan mempunyai atau mewakili atau mendapatkan titah dan menjadi bagian dari unsur kebesaran yang berkeyakinan dirinya mengemban misi khusus dari Tuhan.

Kaum teroris senantiasa merasa diri sebagai “pejuang Tuhan” yang terpanggil untuk bertindak atas nama Tuhan dan agama, menjadi “tangan Tuhan” di muka bumi untuk merealisasikan “kemurkaan-Nya” dalam sebentuk resis-tensi, pemboman. Akibat dari interpretasi dan ekspresi emosi keagamaan yang delusif ini, maka tragedi pun terjadi dan sejumlah besar spekulasi pun muncul di tengah-tengah publik.

Tragedi serangkaian serangan bom kaum teroris di Bali, Makassar, Jakarta dan lain tempat di Indonesia telah memunculkan serangkaian spekulasi dari yang apologis hingga yang a-priori. Spekulasi pertama adalah tentang siapa pelaku serangan teror yang sangat terencana dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan teknikal yang canggih. Pelakunya diidentifikasi secara arbitrer sebagai anti-AS, anti-Israel, anti-demokrasi, anti kekuatan ekonomi kapitalis, dan militer global. Spekulasi kedua adalah tentang motif kaum teroris dalam melakukan tindakan penghancuran berlebihan terhadap tempat-tempat di mana kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS berada. Spekulasi ketiga adalah tentang sasaran-sasaran apa lagi yang akan dituju terhadap AS dan Israel.

Pelakunya secara allegedly (diduga) diidentifikasikan sebagai kaum fundamentalis Islam yang saat ini menjadi musuh bebuyutan AS, Osama bin Laden yang saat ini bersembunyi di Afghanistan (sekarang sudah tiada). Kalaupun bukan Osama, masyarakat dunia berasumsi bahwa pelakunya adalah orang-orang lain dari kalangan fundamentalis Islam yang memiliki hubungan doktrinal dengan jaringan Al Qaedah.

Sebagaimana diketahui, kaum fundamentalis Islam sangat berkarakter anti-AS, anti-Israel, anti-demokrasi, anti kapitalis, dan militer global. Motifnya, sejauh yang bisa dianalisa dari karakter politik luar negeri AS selama ini, adalah kebencian terhadap sikap AS yang sekular, anti-Islam dan yang terlalu posesif dan over-protective terhadap Israel. Sedangkan spekulasi tentang sasaran berikutnya, adalah respon biasa dari hilangnya rasa aman dan bergentayangannya rasa takut rakyat AS yang membutuhkan jawaban segera terhadap apa yang mungkin terjadi.

Spekulasi ini wajar sekali terbentuk karena kejadian ini begitu tiba-tiba, massive dan serempak dengan daya hancur yang sangat luar biasa. Spekulasi ini juga wajar karena telah menimbulkan amarah yang sangat besar rakyat dan pemimpin AS yang sedang merasa nyaman hidup dalam guyubnya modernitas, sekularisme dan kesejahteraan ekonomi tiba-tiba harus menghadapi mimpi buruk yang menyakitkan dan memalukan ini. Rakyat AS bukan kali ini saja menghadapi serangan kaum teroris. Bagi kaum fundamentalis dan radikal Islam —yang lebih dikenal awam dengan istilah ‘kaum teroris’—, melawan AS adalah melaksanakan kewajiban personal, sebuah jihad global. Maka, AS pun telah menempatkan teroris Muslim sebagai musuh sejak tahun 1979 (yang memunculkan nama “Ayatollah Khomeini” sebagai nama bagi musuh yang dipersepsikan itu) pada saat terjadinya Revolusi Iran dan memuncak pada peristiwa krisis teluk tahun 1990 (dimana muncul nama “Saddam Hussein” sebagai musuh, yang tadi sebagai teman dalam menghadapi Iran).

Dengan tertangkapnya para tersangka pelaku tindak terorisme di Indonesia dan di beberapa negara Asia Tenggara dan bahkan di Amerika dan Eropa, semakin memperlihatkan kepada kita bahwa jaringan organisasi kaum teroris sangat luas. Meski secara moral dan diplomasi internasional teroris diserang dengan “perang wacana” yang memojokkan mereka sebagai “kaum pengecut”, “kaum tak berperikemanusiaan”, “kaum yang berbahagia di atas penderitaan orang lain”, serta “kaum yang bertendensi penyakit jiwa”, namun kaum teroris terus-menerus muncul dalam peta politik dunia hingga kini untuk menyampaikan pesan-pesan yang sangat sulit diinterpretasikan. Begitu tersembunyinya musuh yang satu ini, telah menimbulkan kesan misteri dan ketakutan psikologis tersendiri. Bagi rakyat Amerika, teroris adalah hantu (spectre, momok) lain yang pernah dihadapi AS setelah hantu komunisme, sebentuk musuh ideologi, sekaligus musuh spiritual baru sebagaimana pernah diperingatkan oleh Huntington dalam The Clash of Civilization. Douglas E. Streusand bahkan berani menyebut “that specter is Islam”, yang kemudian diidentifikasi secara awam oleh publik AS sebagai “green peril” (bahaya hijau). Dan, dengan peristiwa serangan terhadap WTC dan Pentagon dua tahun silam (tulisan ini dibuat tahun 2003), nama Osama bin Laden muncul sebagai “musuh” untuk mengembalikan kepercayaan dari publik AS terhadap pemerintahnya dalam menangani terorisme dari kaum muslim.

Untuk konteks Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, problem terorisme ini memunculkan banyak dilema: antara menjaga perasaan ummat Islam dan law enforcement (penegakkan hukum) yang mesti ditegakkan. Lebih dari itu, ada sebuah kenyataan bahwa serangan brutal telah terjadi dan musuh mesti didefinisikan untuk kemudian diambil langkah-langkah selanjutnya sebelum mengeksekusi ‘penjahat’ yang walaupun terus bersembunyi di balik simbol-simbol dan alasan agama. Untuk mengetahui konteks teoritis kemunculan “teroris” ini, perlu disimak perkembangan pemikiran fundamentalisme dalam Islam. □ AFM



Catatan Kaki:

[1] Karen Armstrong

Karen Armstrong OBE FRSL is a British author and commentator known for her books on comparative religion. A former Roman Catholic religious sister, she went from a conservative to a more liberal and mystical Christian faith. Born: November 14, 1944 (age 71), Worcestersshire, United Kingdom. Education: St Anne’s College, Oxford, University of Oxford. Organizations founded: Charter for Compassion.

Kuotasi Karen Amstrong:
Compassion is not a popular virtue.
Kasih Sayang bukanlah ajaran kebajikan yang populer.
Mohammed was not an apparent failure. He was a dazzling success, politically as well as spiritually, and Islam went from strength to strength to strength.

Muhammad bukanlah sosok orang yang gagal dalam menjalankan misinya. Sebenarnya dia adalah orang yang berhasil serta mengagumkan baik secata politik (ajaran hubungan harmonis sesama manusia) maupun spiritual (beribadah kepada-Nya dan menjalankan ajaran-ajaran-Nya dalam hidup di Dunia untuk hari akhiratnya), dan Islam maju karena kekuatnnya - maju dengan kekuatannya - dari kekuatannya.

Islam is a religion of success. Unlike Christianity, which has as its main image, in the west at least, a man dying in a devastating, disgraceful, helpless death.

Islam adalah agama yang berhasil. Tidak halnya Kristen yang melihat gambaran dirinya seperti segala-galanya, setidaknya di dunia Barat seperti itu, padahal dia adalah manusia sekarat, memalukan, dan mati dalam ketiadaan daya.

[2] Samuel P. Huntington

Samuel P. Huntington, Political Scientist. Samuel Phillips Huntington was an influential American conservative political scientist, adviser and academic. Born: April 18, 1927, New York City, NY. Died: December 24, 2008, Martha's Vineyard, MA. Influenced: John Mearsheimer, Francis Fukuyama. Education: Harvard University (1951), University of Chicago (1948), Yale University (1946), Stuyvesant High School. Awards: Guggenheim Fellowship for Social Sciences, US&Canada. [Wikipedia].


Sumber:

https://serbasejarah.wordpress.com/2009/06/13/antropologi-pemikiran-kaum-teroris-1/□□□

Blog Archive