Wednesday, June 29, 2016

Berharap Mendapati LAILATUL QADR


PENDAHULUAN

Lailatul Qadri khairum min alfi syahrin

Artinya: Lailatul Qadr atau Malam Kemulian itu lebih baik dari 1000 bulan. [QS Al-Qadar 97:3]



Pandangan Sains

L
ailatul Qadr, Malam Kemuliaan, merupakan malam istimewa.  Kenapa? Karena pada malam tersebut lebih utama dari seribu bulan, sebagaimana Allah Pencipta Alam Semesta menyebutkan dalam firman-Nya sebagai berikut:  “Lailatul Qadri khairum min alfi syahrin”. Artinya: Lailatul Qadr atau Malam Kemuliaan lebih baik dari 1000 bulan. [QS Al-Qadr 97:3]. Selama ini umat Islam mempercayai kebenaran adanya keberadaan malam Lailatul Qadr karena bersumber dari Al-Qur'an dan al-Hadist. Sehingga tidak begitu peduli dengan fakta-fakta ilmiah yang mungkin saja terjadi di alam semesta terkait sains yang membenarkan adanya malam Lailatul Qadr.

Kehadiran malam Lailatul Qadr sejatinya menjadi rahasia Allah Subhana wa Ta'ala (swt). Hanya ada sedikit informasi yang disampaikan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam (saw) kapan datangnya malam mulia ini. Diantaranya terjadi pada 10 malam terakhir Ramadhan yaitu di  antara malam-malam ganjilnya. Sementara ciri-ciri fisiknya dapat terlihat dari suhu yang sedang, pada pagi harinya udara matahari bersinar cerah namun tidak terasa panasnya, serta pada malam harinya tidak terlihat bintang.

Sebenarnya ciri-ciri fisik ini sudah ditemukan oleh Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA). Tetapi mereka tidak mempublikasikan tentang kebenaran adanya fenomena ini. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid.

Abdul Basith As-Sayyid menegaskan, kurang lebih 12 tahun lalu NASA pernah menemukan ciri dari malam Lailatul Qadr sesuai yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. Pernyataan tersebut mengutip ucapan seorang pakar NASA, Carner, seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir. Carner pada akhirnya masuk Islam dan harus meninggalkan jabatannya di NASA karena mengungkapkan kebenaran tersebut kepada harian Al-Wafd Mesir. [1][2]

Menurutnya NASA menemukan fenomena aneh dan tidak biasanya pada suatu malam karena tidak ada meteor yang jatuh ke atmosfer bumi serta suhu udara sedang. Padahal di malam-malam biasanya, jumlah meteor yang berjatuhan ke atmostfer bumi sekitar 20 meteor.

Fenomena ini sesuai dengan Hadist Nabi Muhammad saw yang mengatakan bahwa pada malam Lailatul Qadr langit terlihat begitu cerah, namun tidak terlihat bintang yang bersinar. Pada malam itu suhu udara juga tidak panas dan juga tidak dingin atau bersuhu sedang.

Carner juga mengatakan, bahwa pada pagi harinya NASA juga menemukan matahari yang bersinar begitu cerah namun tidak ada radiasi cahaya sekalipun. Hal ini juga sesuai dengan ungkapan Nabi saw yang mengatakan bahwa pada pagi hari matahari bersinar cerah namun tidak terasa panas. Lantas dari manakah Nabi Muhammad saw mengetahui pengetahuan tersebut? Tentu saja dari Dzat Yang Maha Besar, Allah swt.

Akibat kerap menyembunyikan fakta-fakta kebenaran tentang Al-Qur’an NASA sering mendapat kritikan dari para pakar Islam. Namun apapun yang telah disembunyikan NASA tidaklah menjadi soal bagi kita yang menyakini kebenaran Islam bukan dari sisi Ilmiah, namun karena keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt.


LAILATUL QADR

Malam Lailatul Qadr adalah sebuah malam yang oleh firman Allah swt dalam Kitab Suci Al-Qur’an disebutkan lebih baik dari seribu bulan. Malam ini hanya terjadi sekali dalam setahun, yaitu pada bulan Ramadhan. Salah satu kemuliaan bulan Ramadhan adalah karena terdapatnya malam yang istimewa ini di dalamnya. Oleh karena itulah maka malam yang mulia ini adalah merupakan malam yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh umat Islam di seantero dunia dengan penuh antusias, bagaikan menunggu kedatangan seorang Raja atau Tamu Istimewa.

Lailatul Qadr adalah malam yang terbaik dalam setahun, malam yang penuh dengan rahmat. Orang yang bahagia adalah orang yang dimudahkan oleh Allah swt mendapatkannya, karena kesungguhannya beramal saleh di malam itu. Semua malam di malam itu pahala dan nilainya tidak sama seperti amalan yang dikerjalan di malam-malam bulan lainnya.

Pada Lailatul Qadr - Malam Kemuliaan- inilah Al-Qur'an diturunkan dan Allah swt telah menyipatinya sebagai malam yang diberkahi, dan itu menunjukkan keutamaan dan keagungannya., sebagaimana Allah swt berfirman:

  • Innā anzalnāhu fī lailatil qadr
  • Artinya, Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadr - Malam Kemuliaan. [QS Al-Qadr 97:1]


  • Innā anzalnāhu fī lailatim mubārakah
  • Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. [QS Ad-Dukhān 44:3]


Lailatul Qadr terdapat di dalam bulan Ramadhan, karena Al-Qur'an diturunkan di dalam bulan Ramdhan, sebagaimana firman Allah swt menyubutkannya:

  • Syahru Ramadhānal ladzī unzila fī hil qur'ān.
  • Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalammnya diturunkan Al-Qur'an. [QS Al-Baqarah 2:185]

Di antara keutamaan Lailatul Qadr adalah bahwa setiap amalan di dalamnya ada pahala dan ganjarannya lebih baik daripada 1000 bulan yang tidak terdapat adanya Lailatul Qadr di bulan yang lain selain bulan Ramadhan, sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

  • Lailatul Qadri khairum min alfi syahrin
  • Artinya: Lailatul Qadr (Malam Kemulian) itu lebih baik daripada 1000 bulan. [QS Al-Qadr 97:3]


1000 bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan, dan Allah menyatakan bahwa amalan dalam Lailatul Qadr tidak setara dengannya, akan tetapi lebih baik dan lebih banyak daripada itu. Allah tidak menyebutkan secara spesifik berapa kali lipat baiknya, tergantung kehendal Allah swt.


Keutamaan Lailatul Qadr

Di antara keutamaan Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan) adalah sangat banyak para malaikat yang turun ke bumi di malam itu - karena banyaknya berkah di dalamnya. Dan yang dimaksudkan dengan malaikat disini adalah malaikat rahmat, sehingga mereka turun dengan membawa rahmat, kebaikan, dan keselamatan bagi siapa saja yang beramal saleh di malam itu. Dari Abu Hurairah ra dia berkata: Rasulullah saw bersabda tentang Lailatul Qadr:

  • "Sesungguhnya dia itu adalah malam ketujuh atau dua puluh sembilan. Sesungguhnya pada malam itu jumlah malaikat lebi banyak daripada jumlah pasir." [HR Ahmad no, 10316]


Di antara keutamaan Lailatul Qadr adalah bahwa pada malam itu sama sekali tidak ada kejelekan sanpai terbit fajar, sebagaimana Allah swt berfirman:

  • Salāmun hiya hattā marhla'il fajr
  • Artinya: Kesejahteraan (pada malam itu) sampai terbitnya fajar. [QS Al-Qadr 97:5]

Nabi saw menjelaskan bahwa sebab tidak adanya kejelekan di malam itu adalah karena setan-setan tidak ada yang keluar di malam itu. Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit ra bahawa Rasulullah saw bersabda:

  • "Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir, barang siapa bangun di malam-malam itu dengan dorongan mencari pahala, Allāh Tabāroka wa Ta'ala mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang berikutnya, ia terjadi pada malam ganjil: kesembilan, ketujuh, kelima, ketiga atau malam terakhir. Tanda-tanda Lailatul Qadr adalah malamnya yang terang seperti ada rembulan terbit, tenang, sunyi, tidak dingin, tidak panas, dan tidak dihalalkan bagi bintang-bintang (meteor-meteor) untuk dilemparkan (jatuh ke atmosfir bumi) di malam itu hingga pagi. Dan di antara tanda-tandanya adalah di pagi harinya matahari terbit merata, pancaran cahayanya tidak menyilaukan, cahayanya seperti cahaya bulan, dan tidak halal bagi setan untuk keluar di saat itu." [HR Ahmad no. 21702]


Di antara keutamaan Lailatul Qadr, di dalamnya ditetapkan takdir untuk tahun itu samapi tahun depannya, yang diistilahkan dengan nama at-taqdir as-sanawi (takdir tahunan), sebagaimana Allah swt berfirman:

  • Fīhā yufraqu kullu amrin hakīm
  • Artinya: Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. [QS Ad-Dukhan 44:4]


Sebagian ulama salaf menyatakan bahwa pada malam itu ditakdirkan siapa yang meninggal pada tahun itu, siapa yang naik haji tahun itu, dan seterusnya dari masalah umur dan rezeki. Karenanya disyariatkan untuk memperbanyak do'a kebaikan pada malam itu, karena tidak ada yang bisa memperbaiki takdir kecuali do'a. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata; Wahai Rasulullah! Apabila aku mengetahui malam Lailatul Qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya?" Beliau saw menjawab:

Bordo'alah dengan:

  • Allāhumma innaka'afuwwun karīm tuhibbul 'afwa fa'fu 'annī

  • Artinya: Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Ampun dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku. [HR At-Tirmizi no.3435. Dan dia berkata: "ini adalah hadits hasan shahih"]


Di antara keutamaan Lailatul Qadr adalah siapa saja yang Shalat Lail di malam itu atas dorongan keimanan dan mengharap pahala, maka semua dosanya yang telah lalu akan Allah ampuni. Dari Abu Huarairah ra Nabi saw beliau bersabda:

  • "Barangsiapa yang shalat pada Lailatul Qadr karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya". [HR Al-Bukhari no. 1768 dan Muslim n0. 1268]


Adapun kapan waktu datangnya Lailatul Qadr, maka dari 'Aisyah radhiallahu 'anha bahwa Rasulullah saw bersabda:

  • "Carilah Lailatul Qadr pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan," [HR Al-Buhkari no. 1878]

  • Hal ini juga didukung oleh hadits 'Ubadah bin Ash-Shamit ra diatas.

Dari 10 hari terakhir ini, yang paling berpotensi menjadi Lailatul Qadr adalah malam ganjil pada 7 malam terakhir. Dari Ibnu 'Umar ra dia berkata bahwa ada beberapa shahabat Nabi saw yang menyaksikan Lailatul Qadr terjadi di dalam mimpi mereka pada tujuh terakhir. Maka Rasulullah saw berkata:

  • "Aku lihat mimpi-mimpi kalian tentang Lailatul Qadr semuanya sama menunjukkan pada tujuh malam terakhir. Karenanya siapa saja yang mau mencarinya, ka hendaklah dia mencari pada tujuh malam terakhir." [HR Al-Bukhari no. 1876 dan Muslim no.1985]

Kemudian dari 7 hari terakhir ini, yang paling berpotensi menjadi Lailatul Qadr adalah 2 malam ganjil terakhir. Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Ahmad di atas.

Kemudian dari kedua malam ini, yang paling berpotensi adalah malam ke-27 Ramadhan. Dari Ubay bin Ka'ab ra dia berkata tentang malam Lailatul Qadr:

  • "Demi Allah, saya benar-benar mengetauinya. Dia adalah suatu malam yang Rasulullah saw memerintahkan kami untuk menunaikan shalat padanya. Tepatnya malam itu adalah malam ke-27." [HR Muslim no 2000]




PENUTUP DAN HARAPAN

Mengapa Allah swt merahasiakan kapan terjadinya Lailatul Qadr? Ada beberapa hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadr, tiga diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama: Sebagai Bukti Keimanan

Lailatul Qadr, tidak dapat dibuktikan yang mana harinya yang pasti diantara kemungkinan kemungkinan tadi. Karena wilayahnya adalah wilayah dibalik dunia indrawi (beyond reality, ghaib) yang tidak dapat dibatasi atau diketahui variabel-variabelnya. Allah hanya memfirmankan tentang adanya dan keutamaannya. Adapun turunnya malaikat pada malam itu juga termasuk perkara ghaib yang tidak dapat diketahui secara indrawi, tapi dapat dirasakan dalam iman.

  • Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al-Qadr 97:1-5]


Maka mempercayai Lailatul Qadr dan berupaya mencarinya adalah bukti keimanan. Sebab ia telah beriman kepada firman Allah swt dan hadits Nabi saw bahwa ada Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Kedua: Agar Umat Islam Giat Beribadah

Dirahasiakannya secara pasti dari tanggal Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan) terjadi membuat umat Islam lebih giat beribadah sebagaimana contoh dan nasehat Rasulullah saw:

“Sungguh aku diperlihatkan Lailatul Qadr, kemudian aku dilupakan -atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil.” [Muttafaq alaih]

Seandainya Lailatul Qadr dipastikan turun pada tanggal tertentu, mungkin banyak umat Islam yang beribadah penuh pada malam itu saja, tetapi enggan beribadah seperti di malam-malam lainnya. Sebab ia berpikir telah mendapatkan malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Dengan adanya hadits “malam ganjil”, maka banyak umat Islam yang giat beribadah di malam-malam ganjil. Dan karena seringkali umat Islam berbeda pendapat tentang awal puasa, malam ganjil bagi sebagian umat Islam adalah malam genap bagi sebagian umat Islam lainnya. Dan karena tidak ada yang dapat memastikan mana yang tepat benar dan Lailatul Qadr turun di malam ganjil yang mana, maka semangat beribadah itu mestinya menjadi merata di 10 hari terakhir Ramadhan.

Ketiga: Agar Hamba Tak Menyombongkan Diri

Karena tanggalnya dirahasiakan dan kepastian apakah malam itu Lailatul Qadr atau bukan juga dirahasiakan, maka umat Islam lebih selamat dari sifat sombong atau takabur.

Jika saja tanggal Lailatul Qadr dipastikan dan sifat malam itu diketahui secara pasti, mungkin sebagian orang yang mendapati Lailatul Qadr akan menyombongkan diri karena telah beribadah di malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, Allāhu a’lam bish-shawab.

Harapan

Harapan semuanya tentu dan semoga kita dapat bertemu dengan malam yang mulia ini, malam yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh setiap insan yang beriman kepada Allah, malam yang dapat diibaratkan sebagai seorang tamu besar yang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya, sehingga kita dapat memperoleh kemuliaannya yaitu, Lebih Baik Daripada Seribu Bulan. Āmīn, Allāhumma āmīn. □ AFM


Catatan Kaki:

[1]http://video.foxnews.com/v/1503897188001/nasa-scientist-fired-for-his-faith/?#sp=show-clips

[2]http://pojoksatu.id/news/2015/07/07/pejabat-nasa-masuk-islam-lantaran-mukjizat-malam-lailatul-qadar/[][][]

Tuesday, June 14, 2016

Pembebasan Kota Makkah 3





Memasuki Kota Makkah

Kemudian, Nabi saw memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah Azza wa Jalla:

Innā fatahnā laka fatham mubinā

“Sungguh, Kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. [QS. Al-Fath 48:1].


B
eliau mengumumkan kepada penduduk Makkah, “Siapa yang masuk Masjid Al-Haram maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.” Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:

Jā alhaqqu wazahaqal bāthilu innal bāthila kāna zahūqā

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sungguh yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [QS Al-Isrā’ 17:81]

 Jā alhaqqu wamā yubdiul bāthilu wamā yu’īdu

“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” [QS Saba’ 34:49]

Kemudian, Nabi saw memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.

Beliau bersabda: “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”

Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam Masjid Al-Haram, menunggu keputusan Beliau saw.

Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau mengucapkan dzikir tahlil, takbir, tahmid dan bersabda:

Lā ilāha illallāhu wahdah lā syarīkalah lahul mulku walahuhamdu wa huwa ‘alā kulli syay in qadīr shadaqa wa’dah wa nashara ‘abdah wa hazamal ahzāba wahdah



“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”


Kemudian beliau berkhutbah dengan mengutip ayat 13 dari surat Al-Hujurāt sebagai berikut:

Yā ayyunnāsu innā khalaqnākum mindzakariw waintsā waja’alnākum syu’ūbaw  waqabāil lita’ārafū inna akramakum ‘indallāhi atqākum innallāha ‘alīmun khabīr.

Artinya:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui dan Mahateliti. [QS al-Hujurāt 49:13]

“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.” Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Pada hari kedua, Nabi saw berkhutbah di hadapan manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang beralasan dengan perang yang dilakukan Nabi saw, maka jawablah: “Sesungguhnya Allah mengizinkan Rasul-Nya saw dan tidak mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang hari. Hari ini Keharaman (Kesucian) Makkah telah kembali sebagaimana keharamannya (kesuciannya seperti) sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir (pesan Rasul saw ini).”

Nabi saw diizinkan Allah untuk membebaskan dan berperang untuk mempertahankan diri di Makkah hanya pada hari pembebasan kota Makkah dari sejak terbit matahari hingga Ashar, sungguh perang kontak senjata masal tidak terjadi. Beliau tinggal di Makkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan. Sejak saat itulah, Makkah menjadi negeri Islam, sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Demikianlah kisah singkat kemenangan yang sangat nyata bagi kaum muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah. Suku-suku Arab berbondong-bondong masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan kepada kota Makkah dan penduduknya yang telah memeluk agama Islam semuanya, baik laki-laki maupun perumpuan dari warga kota Makkah.


PENUTUP

Pada proses pembebasan atau pembukaan kota Makkah untuk dikembalikan kepada fungsinya semula yakni untuk tempat peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bebas dari penyekutuan terhadap-Nya, yaitu Tauhid, untuk itu Nabi Muhammad saw melakukan suatu tindakan yang amat bijak, yaitu memerintahkan kepada para shahabatnya untuk tidak merusak dan mengotori kota Makkah dengan peperangan.

Kedatangan pasukan Islam yang amat besar ini dipergunakan oleh Nabi saw sebagaimana yang disebut zaman kini strategi perang urat syaraf dan hanya untuk memberi peringatan kepada orang-orang kafir Quraisy bahwa umat Islam telah bangkit dan mereka akan menjadi masyarakat yang maju dan menghancurkan tradisi jahiliyah mereka.

Sebelum memasuki kota Mekkah, Nabi Muhammad saw memerintahkan kepada para sahabat dan pasukannya untuk berkemah di diluar kota Makkah. Hal ini dilakukan sebagai salah satu langkah persiapan dalam pembebasan kota Makkah. Melihat kenyataan ini, paman Nabi yang bernama Abbas bin Abdul Muthalib datang menemui Nabi saw dan menyatakan keislamannya. Kemudian sesudah itu, Abu Sufyan juga datang menemui Nabi saw dan menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad saw dan umat Islam dari rombongan pembebas Makkah dari Madinah.

Setelah Abu Sufyan menyatakan keislamannya, Nabi saw memberikan kepercayaan kepada Abu Sufyan bin Harb (nama lengkapnya) untuk menjadi perantara dengan masyarakat Quraisy lainnya, karena memang ia ditunjuk sebagai wakil masyarakat Quraisy dalam persoalan keselamatan mereka dan kota Makkah dari kemungkinan atau sangkaan terjadinya serangan yang akan mematikan orang-orang Musyrik Makkah yang dilakukan umat Islam dari Madinah.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw memberikan keamanan penuh kepada Abu Sufyan dan keluarganya dengan menyarankan bahwa siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat, orang yang masuk Masjid al-Haram Makkah juga akan selamat, begitu juga mereka yang menutup pintu rumahnya rapat-rapat akan selamat.

Sesampainya di kota Makkah, Abu Sufyan menyampaikan pesan perdamaian kepada orang-orang Quraisy dan langkah-langkah kebijaksaan Nabi saw yang dibawanya dari Nabi Muhammad saw dalam usaha pembebasan kota Makkah.

Oleh karena kaum kafir Quraisy mengetahui bahwa Abu Sufyan telah masuk Islam, akhirnya orang-orang Quraisy lainnya mengikuti jejak Abu Sufyan dan menyatakan diri sebagai pengikut Nabi Muhammad saw dan menjadi Muslim. Abu Sufyan kemudian menyampaikan pesan perdamaian yang dibawanya dari Nabi saw dan pasukannya ketika umat Islam memasuki kota Makkah.

Langkah persiapan yang telah dilakukan Nabi saw membuat Nabi saw dan pasukannya tiba di Makkah tanpa perlawanan yang berarti. Nabi dan umat Islam masuk dengan damai, tanpa menumpahkan darah yang berarti, tidak terjadi perang masal. Itu adalah kemenangan besar umat Islam dalam sejarah.

Setelah kota Makkah dibebaskan, Nabi saw mengunjungi Ka’bah serta melakukan thawaf. Setelah itu, baru menghadapi orang-orang yang telah berkumpul di dalam Masjid Al-Haram. Nabi memaafkan semua kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap diri dan para sahabatnya. Kemudian barulah Nabi Muhammad saw menghancurkan berhala-berhala yang mengelilingi Ka’bah, tidak kurang 360 berhala dari yang terkecil hingga yang terbesar yang yang ada di dalam Ka’bah maupun di luar dan sekitar Ka’bah.

Allah swt berfirman, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap,” [QS Al-Isrā’ 17:81]

Selesai membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala pujaan kaum musyrikin  Quraisy, Nabi Muhammad saw memerintahkan Bilal bin Rabbah untuk melakukan adzan di atas Ka’bah. Kemudian umat Islam melakukan shalat berjamaah bersama Nabi saw.

Pada hari itu tampaklah kemenangan umat Islam, karena sejak saat itu datang berbondong-bondong penduduk Makkah, laki-laki, perempuan, tua, muda, semua menyatakan keislamannya di hadapan Nabi saw. Hal ini tertuang dalam Kitab Suci Al-Qur’an dalam surat An-Nashr ayat 1 sampai dengan 3:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.”

Di antara pembesar Quraisy yang masuk Islam pada saat itu adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, Hindun binti Uthbah dan Muth’ib bin Abu Lahab, Ummu Haniy binti Abi Thalib dan lain-lain.

Selama penaklukan kota Makkah, Nabi Muhammad saw tinggal selama 15 hari di kota Makkah ini. Dalam waktu yang sangat singkat itu, beliau tidak saja mengatur dan menyiarkan ajaran Islam, juga memberi contoh kepada kaum muslimīn dan muslimāt Makkah cara beribadah kepada Allah. Di samping juga mengatur urusan kenegaraan dan pemerintahan.

Demikianlah peristiwa-peristiwa penting dalam proses penaklukan kota Makkah. Langkah dan kebijaksanaan Nabi saw dalam pembebasan kota Mekkah patut menjadi contoh bagi manusia dan para pemimpin dunia lainnya, bahwa penaklukan tidak harus dengan kekerasan dan peperangan, tapi bisa juga dilakukan dengan cara damai. Ternyata cara-cara ini, hasilnya cukup besar dengan banyaknya orang-orang Quraisy yang masuk Islam pada saat itu.  Allahu A’lam Bish-Shawab. Wabillahi Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Dapat pula disaksikan dua video youtube Pembebasan Kota Makah dari tangan Kaum Musyrikin Makah:







Bahan Bacaan:

●Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur.
●Sejarah Kebudayaan Islam, Dr. H. Murodi, MA, Penerbit PT Karya Toha Putra,  Semarang
http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html
http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2014/05/islam-kemanusiaan.html
●http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/09/makna-wukuf-arafah-ii.html
●https://www.islampos.com/dengan-cara-damai-itulah-langkah-politis-dan-strategis-yang-dilakukan-nabi-muhammad-saw-dalam-fathu-mekkah-129016/
●https://id.wikipedia.org/wiki/Pembebasan_Mekkah
●Terjemahan dari bahasa Al-Qur’an ke bahasa Indonesia berpedoman kepada AlFatih – Al-Qur’an Tafsir Per Kata Di Sarikan Dari Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka AlFatih. □□□

Blog Archive