Monday, November 24, 2014

World Views of Islam (V)



oleh A. Faisal Marzuki


S
ekarang kita masuk kepada inti tema World Views of Islam yakni, bagaimana ajaran Islam memandang kehidupan manusia di bumi dalam mengartikan hidup ini dan selanjutnya mengaplikasikannya dalam kehidup sehari-hari (berbuat nyata). Dimana sebelumnya baru mukaddimahnya saja. Dengan kata lain mukaddimah dalam 4 seri pembahasan sebelumnya itu baru sebagai pembuka jalan agar tema pokok itu nantinya bukan saja mudah dipahami, 1 tetapi ‘tertangkap-basah’ sebagaimana ‘kiper’ pemain sepak bola professional menangkapnya. Karena apa? Karena telah direngkuh kuat-kuat dalam dekapan dadanya pengertiannya seperti apa yang telah diuraikan dalam World Views of Islam (I) sampai dengan World Views of Islam (IV).

   Boleh sangat jadi (tadinya) telah terpaku kepada (jalan) fikiran yang (mencoba untuk memahami gambar-bentuk model dunia yang dipahami oleh nara sumber pemberitaan) seperti apa yang ada dalam pemberitaan yang tersebar secara sistematis, massif, mendunia melalui aneka jaringan pemberitaan. Yakni yang telah dilakukan secara berlebih-lebihan (karena sakit hati, hasad dan dengki?) melalui jaringan social konvensional (secara halus atau kasar) dalam majalah-majalah; surat kabar-surat kabar; jaringan radio; dan jaringan TV, dan media produk teknologi tinggi seperti internet; text massager; facebook; twitter; whatsapp dengan menggunakan computer desktop atau laptop serta smart phone. Yaitu bahwa Islam itu ‘teroris’ dan ‘agama yang salah’ serta Nabi-Rasul Muhammad itu 'tidak pantas dijadikan panutan'. Pada hal semuanya itu sangat bertolak belakang 180 derajat dari ajaran Islam yang sesungguh dan sebenarnya, yaitu menebarkan kedamaian; keadilan; keselamatan; kebahagiaan; kesejahteraan hidup di dunia dan bahkan di akhirat kelak. Semua bersumber dari Kitab Suci Al-Qur'an baik isinya dan riwayatnya yang jelas, bersih dari campur tangan manusia. Tidak seperti kitab-kitab yang lain, Al-Qur'an adalah benar-benar firman Allah 'Azza wa Jalla (words of the God). Dengan begitu prinsip-prinsip dan dalil-dalil nash al-Qur’an (dan hadits) yang akan diuraikan itu menjadi tidak asing lagi bagi semua orang. Karena kalau tidak, tertolak dengan sendirinya. Artinya jangan sampai baru di sebutkan tema pembicaraan tentang Islam dengan cara langsung 2 (tanpa ada mukaddimah), mereka sudah antipati. Selanjutnya lari, tanpa tahu latar belakang kenapa muslim yang mengerti (ajaran) Islam (yang sebenarnya akan) tidak mungkin melakukan terror dan pengrusakan seperti itu.

   Ajaran Islam bukan ajaran akhirat (religious) saja, dimana sama sekali tidak ada hubungannya atau sangkut pautnya dengan kehidupan di dunia dalam bersosial kemasyarakatan dalam pemerintahan atau dalam bentuk ekstrimnya dilupakan atau diabaikan saja.  Sebaliknya begitu pula, bahwa ajaran Islam bukan tentang ajaran dunia (seculer), tapi ajaran akhirat saja. Artinya beribadat ritual kepada Tuhan saja (untuk hari akhirat saja).  Karena itu tidak ada hubungannya dengan dunia, jadi kalau ada juga ditiadakan atau diabaikan saja dengan berbagai alasan. Dalam ajaran Islam yang benar dan yang sesungguhnya kedua macam kehidupan ini diajarkan secara konprehensif dan kedua ajaran Islam itu diperlukan “● Dan carilah negeri Akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. ● Tapi janganlah kamu lupakan bagianmu (hidupmu semasih) di Dunia.”  3  Hidup di dunia ini ladang ibadah, 4  bagi manusia ‘ruh’ yang berjasad ‘biologis’, sebagai firmannya menyebutkan: “…Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.” 5  “Di sana (bumi) kamu hidup, dan disana (pula) kamu mati, dan dari sana (juga) kamu akan dibangkitkan.” 6  Sungguh, Kami (Allah swt) telah menciptakan manusia (di bumi) berada dalam ‘susah payah’. Maksudnya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan mesti ada usaha terlebih dahulu (hukum sunatullah). Untuk memenuhi kebutuhan hidup ‘basic need’ saja seperti pangan (makan, minum, kesehatan, sekolah, transportasi); sandang (pakaian); papan (perumahan, shelter) dst. perlu asaha atau kerja dengan itu diperoleh pendapatan usaha atau gaji dan upah dalam bekerja. Baru dari hasil usaha atau kerja itu diperoleh laba usaha atau gaji dimana selanjutnya dibelanjakan untuk kehidupan sehari-hari. Usaha atau kerja semacam itu adalah ibadah karena menjalankan sunatullahnya di dunia ini. “Dan Aku (Allah swt) tidak menciptakan Jin dan Manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Allah swt).” 7  Jadi tidaklah sempurna atau seimbang jika sebelah pihak dipenuhi (ajaran akhirat saja), sementara itu pihak yang lain tidak (ajaran hidup di dunia dalam bermuamalah dan berekosistim). Begitu pula sebaliknya. Ajaran Vertical (akhirat) dan ajaran Horizontal (dunia) ini ‘berjalin-berkelindan’, yaitu satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan dalam satu kesatuan yang kompak dan kaffah. Dengan begitu hidup di dunia ini bagi seorang Muslim adalah sangat perlu dan sangat penting, karena dari sinilah awal atau bekal atau jembatan 8 untuk sampai bisa mencapai surga (di akhirat), kelak. Tidak melalui terror dan tidak melalui pengrusakan seperti yang diberitakan itu, bahwa itulah (ajaran) Islam? Rabbana atina fid-dunya khasanah, wa fil-akhirati khasanah. Hidup baik (bahagia dan sejahtera) di Bumi. Hidup baik (bahagia dan sejahtera) di Akhirat. Untuk itu tebarkanlah salam kedamaian dan hidup sejahtera selama di dunia ini.

    
   Yang diajarkan dalam Islam, bukan ‘teori’ yang teoritis. Tetapi ‘teori’ (paradigm Islam; prinsip-prinsip Islam: dan ajaran Islam) yang praktisi (dapat dijalankan, applicable). Ini artinya menjadi ‘make sensefor every human being’. Karena, ajarannya tidak relatif (bisa baik, bisa buruk) melainkan absolute (selalu baik, tidak bisa buruk atau tidak akan menjadi buruk). Ajaran Islam datangnya atau sumbernya dari Tuhan Penguasa Alam Raya; Tuhan Penguasa Manusia; Almighty God as a Singgle Master or Single Lord and Creator of the worlds. Yang Maha Kasih lagi Maha Sayang for His creation. 9 menggunakan jalan paradigma, prinsip-prinsip dan ajaran-Nya itu, manusia dapat hidup dalam damai, aman dan sejahtera. Dengan itu membuat baik dan bahagia dalam hidup di dunia for every single humankind.  Sekarang, pada abad ke-21 ini, telah mencapai enam milyard manusia. Hidupnya di ‘kolong langit’. Tempat tinggalnya itu, ‘fit’ untuk  mendukung kehidupannya. Dan last but not lease agar pula baik dan bahagia hidup di Akhirat bagi mereka yang beriman kaffah-beribadat-taqwa kepada-Nya dan (dengan syarat mesti) melakukan kebajikan kepada sesama manusia dalam ekosistim 10 yang tersedia dan terpelihara baik (pada awalnya, selanjutnya manusia mesti memeliharanya pula seperti sediakala).

   
  Suatu cara pandang yang dipegang teguh, membawa akibat kepada cara penanganan yang sama dengan apa cara pandangannya. Begitu pula prinsip-prinsip. Apa yang menjadi prinsip-prinsip yang dipahaminya itu, menjadikan dasar dari penangan apa yang akan ditanganinya. Begitu pula ajaran, membawa hasil yang sama dengan  apa yang diajarkan dalam ajarannya itu. Begitu pula halnya dengan paradigma Islam mengandung hal-hal seperti tersebut diatas. Dalam Islam sebagai keyakinan agama (religious) bersikap ‘yakin-yang-sempurna’ kepada ajaran aqidah Islam yang ditetapkan dalam kitab Suci al-Qur’an dan al-Hadits yang bertalian dengannya. Kendatipun begitu, toleran dengan keyakinan saudara-saudaranya yang menganut kepercayaan yang lain. 11 Masing-masing beribadah menurut caranya ibadahnya masing-masing. 12 Dalam kewajibannya berdakwah (mengajak) manusia ke jalan Islam, umat Islam tetap mesti melakukannya. 13 Dengan tidak boleh memaksa sama sekali. 14 Semasa the golden age imperium Islam tidak pernah dalam berdakwah (mengajak) dengan cara paksa kepada umat lainnya harus ‘pindah’ agama. Apalagi 'tricky' (deception, tercampur  atau dicampur yang benar dengan yang tidak benar) dalam berdakwahnya. Oleh karena itu dari enam milyard manusia yang ada hanya lebih kurang hanya seperempatnya memeluk agama Islam, selebihnya tidak. Dalam bermuamalah (hubungan sesama manusia, humankind) ajaran Islam mengajarkan normal (sebagaimana biasanya, tidak dilarang) sama dengan warga Muslim dan non Muslim serta mesti berlaku adil. 15  Bahkan dimestikan pula saling lita’arafu yaitu saling kenal dan menghargai, respect each other. 16 Bahkan tolong menolong dalam kehidupan bertetangga, siapapun dia.  17  ©AFM





Catatan kaki:
1 Kewajiban ummat Islam adalah mengajak kepada Islam, ”Serulah (ajaklah manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijak) * dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah (berargumentasilah) dengan mereka dengan cara yang baik. [QS An-Nahl 16:125]

 *Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan yang hak dan yang batil.


2 Dengan tidak diterimanya (atau tidak dihargainya) Islam karena tidak diterangkan hal-ihwal; sebab-akibat atau karena kegunaannya tidak di mengerti bahwa itu bermanfaat baik atau tidak ada contoh dan penjelasan yang baik, maka ajakan dakwah yang ditawarkan itu tertolak dengan sendirinya. Apatah lagi dengan adanya ‘negative campaign’ yang ditujukan kepada Islam. Termasuk dari tulisan Huntington dalam bukunya “The Clach of Civilizations” bahwa setelah usai ‘perang dingin’ musuh berikutnya adalah Islam. The Clash of Civilizations is a theory, proposed by political scientist Samuel P. Huntington, that people's cultural and religious identities will be the primary source of conflict in the post-Cold War world. The theory was originally formulated in a 1992 lecture at the American Enterprise Institute, which was then developed in a 1993 Foreign Affairs article titled "The Clash of Civilizations?", in response to Francis Fukuyama's 1992 book, The End of History and the Last Man. Huntington later expanded his thesis in a 1996 book The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order.

3 [QS al-Qashash 28:77]

4 ”Dan Dia-lah (Allah swt) yang menjadikan kamu khalifah-khalifah* di bumi.” [QS al-An’am 6:165]. “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya**”. (Dalam rangka beribadah melalui perantaraan hidup di dunia). [QS Hud 11:61]
         
       *Para mandatarisnya yaitu menjalankan dan mengelola kehidupan sesuai dengan paradigma Islam; Prinsip-prinsip Islam; dan ajaran Islam yang telah tertuang dalam aturan-utaran ‘manual operating’ yang telah ditetapkan-Nya. Dengan itu manusia menjalankannya sesuai dengan ‘manual operating’ yang telah ditetapkan-Nya itu dan dicontahkan Rasul-Nya.

** Manusia di jadikan dan bertempat tinggal di bumi untuk menguasai dalam rangka memakmurkan bumi bagi kegunaan dan kemanfaatan manusia dalam hidup bersosial kemasyarakatan agar damai dan sejahtera di bumi. Dan bagi umat yang percaya adanya hari akhirat juga akan damai, bahagia dan sejahtera yang abadi di akhirat kelak, dengan memperoleh surga yang sangat menyenangkan.

5 [QS al-‘Arāf 7:24]
6 [QS al-‘Arāf 7:25]
7 [QS Adz-Dzāriyāt 51:56]

8 Idem catatan kaki 3 “●Dan carilah negeri Akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. ●Tapi janganlah kamu lupakan bagianmu (hidupmu semasih) di Dunia.”

9 “Dia-lah (Allah swt) Yang Maha Pemurah (Kasih atau Pengasih) lagi Maha Penyayang. [QS al-Hasyr 59:22]

10 Contohnya seperti memanfaatkan recycling material; dan sembur alam yang renewable seperti sumber listrik bertenaga angin, cahaya matahari, atau air; gasoline dari tumbuhan seperti ethanol yang terbuat dari jagung.

11 Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku [QS al-Kāfirūn 109:6]

12 “Dan kamu (non Muslim) bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. “Dan aku (Muslim) tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu (non Muslim) sembah”. [QS al-Kāfirūn 109:3,4]

13 Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang buta huruf (atheis, agnostic) “Sudahkah masuk agama Islam?” Jika masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk. [QS Ali ‘Imrān 3:20]

14 Tetapi jika mereka (non Muslim) berpaling (tidak mau), maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. [QS Ali ‘Imrān 3:20]  Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. [QS al-Baqarah 2:256]. Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” [QS al-Kahfi 18:29]

15 Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. [QS al-Mumtahanah 60:8]

16 Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal (lita’arafu, respect each other). [QS al-Hujarāt 49:13]

17 Dan berbuat baiklah kepada: ●Dua orang ibu-bapak, ●Karib-kerabat, ●Anak-anak yatim, ● Orang-orang miskin, ●Tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, ●Teman sejawat, ●Ibnu sabil (orang dalam perjalanan). [QS An-Nisā’ 4:36]

Monday, November 17, 2014

World Views of Islam (IV)



oleh A. Faisal Marzuki





M
ukaddimah ke-4 pengantar kepada World Views of Islam selanjutnya adalah dalam meneruskan pembicaraan manusia sebagai species makhluk unggulan dari Sang Pencipta Alam Raya di Raya - universe, dimana manusia khalifah ini diserahi tugas untuk mengelola kehidupan manusia di bumi sebagai pemakmur bumi. 1
   
 Wa idz qõla Robbuka lil-malāikati innī jā-‘ilun fil ardhi khalīfah2 Artinya, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat (para Malak): “Sesungguhnya Aku (Allah swt) hendak menjadikan seorang khalīfah. Kata Arab khalīfah diartikan dalam bahasa Indonesia sebagaimana juga bunyinya dalam bahasa aslinya yaitu khalifah. Sedangkan oleh Abdullah Yusuf Ali, dalam bukunya “The Qur’an, Text, Translation and Comentary” menyebutkan khalīfah dalam bahasa Inggris sebagai visegerent. Visegerent bentuk kata benda yang artinya adalah, a person appointed by another especially by ruler. Yaitu orang yang mendapatkan tugas yang biasanya diberikan oleh seorang penguasa (yang kekuasaannya lebih tinggi daripada yang mendapat  tugas). Untuk apa? Untuk to exercise the latter’s power and authority.  Demikianlah manusia khalifah diciptakan dan diberi tugas untuk melaksanakan kekuasaan dan otoritas dari-Nya. Manusia khalifah tersebut sebagai deputy atau wakil-Nya selaku mandataris untuk mengelola kehidupan manusia di bumi. Latter bentuk kata sifat yang artinya it represents the original. 3 Yaitu melakukannya sesuai dengan apa-apa yang di perintahkan-Nya.
  
  Dari keterangan Abdullah Yusuf Ali tersebut, artinya disini adalah kalaupun dia manusia berkuasa dan mempunyai otoritasnya itu dalam melakukan tugasnya mesti dan sepantasnya sesuai dengan isi perintah dan ketentuan-ketentuan dalam (cara) pelaksanaan dari pemberi mandatnya. Sebagaimana seorang Jendral memerintahkan Prajuritnya. Ada disiplin aturan yang mesti dipatuhinya. Begitu pula seorang Manager terhadap Bossnya. Jadi kalau dia - manusia sewenang-wenang dalam menjalankannya ‘power’ yang ada padanya itu tidak sesuai dengan pemberi mandat maka akan terjadi worst (malapetaka) dan chaos (kekacauan) bagi manusia itu sendiri, karena akan mengacaukan keseimbangan terhadap ‘induk master plan’ yang sudah ada dimana  khalifah menjalankan ‘sub master plan’ yang sudah dibuat oleh atasan-Nya untuk dilaksanakan. Ada amanah yaitu perintah sekaligus diberi kuasa (power) dan otoritas melaksanakannya, maka disitu timbul tanggung jawab dalam melaksanakan tugas kewajibannya. Jadi disini ada nilai moral integritas yang harus dipedomaninya dalam melaksanakan kewajibannya.

●●●
   
  Setelah langit dengan enam langit yang lain; 4 bintang-bintang dalam kelompok galaksinya masing-masing; tata surya yaitu matahari dengan planet-planet yang mengitarinya termasuk bumi, hidup dalam garis edar masing-masing. Kemudian proses ‘evolusi’ berikutnya adalah dengan mulai diciptakan makhluk biologis dari yang bersel satu bentuk sederhana, sampai yang bersel lebih banyak yang kompleks.  Dalam bentuk nabati seperti pepohonan yang hidupnya di tempat dimana akarnya berada. Lainnya lagi adalah khewani yaitu binatang-binatang yang dapat berjalan dan melata di daratan. Ada pula binatang-binatang yang hidup dan berenang di air. Dan ada lagi yang dapat terbang di udara. Adanya kesemua makhluk biologis ini karena di dukung oleh bumi yang subur; air segar yang melimpah; udara yang segar; dan sinar matahari menambah seronok dan marak kehidupan di bumi. Serta rembulan berbentuk bulat di hari ke-15 menambah syahdu di malam hari. Setelah itu semua ada, barulah makhluk insaniyah - manusia diciptakan-Nya dan kelak di tempatkan di bumi. Tidak di bulan atau planet-planit lain dari sistim tatasurya. Kalau makhluk biologis lainnya dapat hidup di bumi, maka manusiapun akan dapat hidup, karena tubuh pisik manusia terbuat dari zat-zat biologis sebagai ‘cangkang’ hidupnya ‘ruh’. Dengan kondisi bumi seperti itu, ditempatkanlah manusia di bumi, karena planet bumilah yang sudah jelas-jelas mendukung kehidupan manusia. Demikianlah manusia khalifah diciptakan yang diberi fasilitas tempat hidup yang ‘fit’ dengan alam tubuh biologisnya, serta menantang ‘ruh’-nya untuk ‘mencoba’ memerankan perannya dengan baik dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi.
   
  Karena demikian besarnya fasilitas kekuasaan dan otoritas di bumi yang diberikan kepada manusia khalifah tersebut, sebatas pengetahuan para Malak (Malaikat) meragukan kemampuannya dalam melakukan tugas sebagai khalifah di bumi. Untuk itu para Malak menanyakan kepada Allah dan memberitahukan kepada-Nya akan akibat fatal yang dilakukan manusia sebagaimana yang sudah dijelaskan pada World Views Islam II yang lalu. Dalam hal ini para Malak (Malaikat) telah alpa (tidak menyadari) bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa juga Tuhan Yang Maha Mengetahui perkara-perkara terang (alam syahadat) dan tersembunyi  (alam ghaib) dan perkara-perkara yang lalu, sedang dan akan datang. His knowledge (absolute) more more step ahead than His creatures knowledge (relative).
   
  Wa ‘allama Ādamal asmā-a kullahā.” 5 Artinya: “Dan Dia (Allah swt) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.” Arti dalam bahasa Indonesia mengenai asmā-a kullahā secara literal artinya nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Oleh Abdullah Yusuf Ali  diartikannya “And He taught Adam the nature of all things.” 6  The nature of all things adalah terjemahan yang diartikan bukan secara literal, sedangkan literalnya adalah “The name of things” yaitu nama-nama (benda-benda) seluruhnya.
  
  Sudah barang tentunya dalam menjalankan tugas manusia sebagai khalifah (mandataris) Allah swt di muka bumi, perlu diberikan pengetahuan, kalau tidak maka dia - manusia khalifah tidak tahu bagaimana menjalankan ‘role’ (peran) kekalifahannya. Jadi wajar sekali Allah mengajarkan ilmu pengetahuan lebih dulu. Dan hal inilah yang tidak di duga sebelumnya oleh Malaikat, yaitu bahwa Knowledge is power.
   
  Karena Adam telah diberi bekal ilmu lebih dulu, kemudian Allah swt mengemukakan kepada para Malak (Malaikat) lalu berfirman (menanyakan): “Sebutkanlah kepada-Ku (Allah swt) ‘nama benda-benda’ itu jika kamu (Malaikat) memang orang-orang yang benar (sungguh mengetahui)!” 7  Mereka (para Malak, Malaikat) menjawab: “Maha Suci (Sempurna) Engkau (Allah swt), tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami (Malaikat); Sesungguhnya Engkaulah (Allah swt) Yang (lebih) Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (daripada kami, Malaikat).” 8 Selanjutnya, Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka (para Malak, Malaikat) ‘nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka benda-benda itu, Allah berefirman: “Bukankah sudah Ku (Allah swt) katakan kepadamu (Malaikat), bahwa sesungguhnya Aku (Allah swt) mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu (Malaikat) lahirkan (sebutkan) dan apa yang kamu sembunyikan (sudah menduga-duga tahu tapi masih disimpan dalam fikiran atau hati)?” 9 Dengan demikian timbullah perasaan Malaikat sekarang ini bahwa memang pantaslah kalau begitu Manusia di jadikan-Nya sebagai khalifah. Maha benar firman-Mu ya Allah.
   
  Yang dimaksudkan oleh firman Allah yang tertulis dalam surat ke-2 al-Baqarah ajat 31 “Wa ‘allama Ādamal asmā-a kullahā.” Artinya: “Dan Dia (Allah swt) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” adalah: ● Meliputi pengetahuan umum; ● Pengetahuan yang berkenaan dengan tugasnya sebagai khalifah; ● Pengetahuan tentang moral yaitu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang mudarat, mana yang pantas mana yang tidak; ● Dan last but not lease adalah, akhlak integritas serta keadilan. Dengan itu manusia-manusia khalifah generasi berikutnya seperti di abad ke-21 ini akan berhasil dalam menegakkan peradaban maju dengan berbekal ilmu-ilmu seperti tersebut diatas. Dengan itu sangat memungkinkan dan terbuka lebar jalan untuk membuat penduduk dunia menjadi respect each others (lita’arafu); peace; safe; and well being, berkat adanya ilmu-ilmu pemberian Allah swt yang bermanfaat bagi manusia dan ekosistimnya. 10   ©AFM


Bersambung ke: World Views of Islam (V)
 

Catatan kaki:
1 QS Hud 11:61.
2 QS al-Baqarah 2:30.
3 Yusuf Ali, The Qur’an, Text, Translation and Comentary, Published by Tahrike Tarsile Qur’an Inc. P.O. Box 1115 Corona-Elmhurst Station, Elmhurst, New York 11373-1115. hal. 24.
4Dia (Allah swt) berkehendak menuju langit, lalu dijadikannya tujuh langit. [QS al-Baqarah 2:29].
5 QS al-Baqarah 2:31.
6 Yusuf Ali, The Qur’an, Text, Translation and Comentary, Published by Tahrike Tarsile Qur’an Inc. P.O. Box 1115 Corona-Elmhurst Station, Elmhurst, New York 11373-1115. hal. 24.
7 QS al-Baqarah 2:31.
8 QS al-Baqarah 2:32.
9 QS al-Baqarah 2:33.
10 QS al-Baqarah 2:31; Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan pena (ilmu-ilmu yang dicatat menjadi buku-buku); (dengan itu) Dia (Allah swt) mengajarkan manusia apa yang (tadinya) tidak diketahuinya. [QS al-‘Alaq 96:4,5]; Yang mengajarkan al-Qur’an; Mengajarnya (mengajarkan Manusia) pandai berbicara (menjelaskannya dan mengajarkan kepada manusia lainnya) [QS ar-Rahman 55:2,4]; Dengan ilmu itu, “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujadalah 58:11). Malah dalam dua hadits berikut ini menyatakan: “Seeking knowledge is compulsory on every Muslim”. “Whoever follows a path seeking knowledge, Allah will make his path to paradise easy”.

Blog Archive