Thursday, October 29, 2015

Membaca Sebagai Jendela IPTEK




Buku adalah jendela ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Dari ilmu pengetahuan, kita bisa mempelajari berbagai hal serta mengembangkan diri. Buku yang menuntun kita menjelajah berbagai kemungkinan dalam kehidupan ini memandu untuk mengatasi bermacam persoalan, mendorong penemuan, dan membangun peradaban manusia yang lebih maju.

Indonesia merayakan Hari Buku Nasional (17 Mei). Hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan kali ini berlangsung sepi, baik secara seremonial maupun subtansial. Tidak ada kegiatan yang benar-benar mengentak atau menyulut kesadaran baru tentang buku.

K
elihatannya, perhatian kita belum sepenuhnya mengarah kesana. Padahal kamajuan ada erat hubungan dengan budaya membaca, sebagai landasan pacu majunya peradaban suatu bangsa. Buktinya, di abad ini adalah Amerika dan Jepang dan negara-negara maju lainnya. Spanyol Al-Andalus, 1,300 tahun lalu juga telah membuktikan juga antara lain dengan adanya Al-Khwarizmi dengan aljabar dan alogaritminya, Al-Jazari dengan teknik enjineringnya, Al-Haitham dengan ilmu optiknya, Al-Zahrawi dengan ilmu bedahnya, Maryam Asturlabiya dengan astrolabenya.

   Apakah kita cenderung menyepelekan buku? Mungkin tidak sepenuhnya demikian. Soalnya, memang belum ada usaha serius bersama untuk mempromosikan Hari Buku Nasional bulan Mei yang lalu. Kondisi sepi ini justru menggambarkan keadaan kita senyata-nyatanya. Kita memang belum terlalu serius mau membaca buku. Ini tantangan yang mesti kita jawab dengan aksi nyata.

   Hari Buku Nasional ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar pada tahun 2010. Tanggal 17 Mei Hari Buku Nasional, diambil dari tanggal yang sama ketika pendirian resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 1980. Kebijakan itu diambil demi lebih mempopulerkan buku kepada masyarakat, meningkatkan daya baca, sekaligus mencerdaskan bangsa lewat buku. Penetapan ini bermula dari adanya fakta yang memprihatinkan terkait minat baca di Indonesia yang masih rendah.

Pada tahun 2012, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Perpusnas telah melansir data serupa terkait jumlah buku yang dibaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah dibandingkan negara lain.

Tabel Banyak Buku Yang Di Baca Pertahun

No.
NEGARA
JUMLAH/THN
1
Amerika Serikat
10 s/d 20 buku
2
Jepang
10 s/d 15 buku
3
ASEAN (diluar Indonesia)
2 s/d 3 buku
4
Indonesia
0 s/d 1 buku

   Berdasarkan data dari tabel diatas dapat dilihat disana bahwa masyarakat Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun.

Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Jepang membaca 10-15 buku setahun. Saat bersamaan, warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Masih menurut Perpusnas, Indonesia hanya memiliki terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Ini jumlah kecil dibandingkan penduduk kita yang sekitar 250 juta orang. Artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang. Meski masih perkiraan, angka ini tentu memprihatinkan.

Sebenarnya, buku adalah jendela ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari ilmu pengetahuan, kita bisa mempelajari berbagai hal serta mengembangkan diri. Buku yang menuntun kita menjelajah berbagai kemungkinan dalam kehidupan ini memandu untuk mengatasi bermacam persoalan, mendorong penemuan, dan membangun peradaban manusia yang lebih maju.

   Bangsa yang maju adalah bangsa yang membaca buku. Sebaliknya, kian rendah daya baca masyarakat, kian sulit bangsa itu maju. Ingat saja pernyataan terkenal dari penyair kelahiran Amerika Serikat yang kemudian hijrah ke Inggris, TS Eliot (1888-1965), “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca.” Dengan demikian, jika ingin Indonesia lebih maju, kita perlu meningkatkan daya baca buku.
Rumusan ini mudah diucapkan, tetapi perlu kerja keras untuk mewujudkannya. Penyebabnya, meski sudah 70 tahun merdeka dari keterpurukan panjajahan yang cukup lama sekali. Sulit merubah mental dari keadaan yang terjajah menjadi mental yang benar-benar merdeka, dalam artian punya harkat diri sebagai bangsa merdeka dan ada kerja nyata untuk maju. Data angka melek huruf masih rendah. Program Pembangunan PBB (UNDP) merilis, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sebagai perbandingan, angka melek huruf di negeri jiran kita, Malaysia, mencapai 86,4 persen. Hal ini terkait dengan pendidikan kita yang masih belum maju benar. Sebagai gambaran, berdasarkan data UNESCO, Indonesia berada di urutan ke-69 dari total 127 negara dalam indeks pembangunan pendidikan UNESCO.

Tantangan kian berat karena masyarakat kita sekarang mulai mengenal teknologi informasi yang semakin canggih dan menawarkan hiburan yang memikat, khususnya televisi dan internet. Sebagian masyarakat lebih tergoda menonton televisi atau berselancar di dunia maya ketimbang membaca buku. Memang ada temuan terbaru, yaitu buku digital, tetapi jumlahnya masih terbatas. Itu pun rata-rata hanya bisa diakses bagi penduduk yang tinggal di perkotaan.

Dalam hal ini, buku dianggap sebagai ‘suatu keharusan mutlak’ yang membuat Mohammad Hatta kuat menjalani tekanan pemerintah kolonial Hinda Belanda saat itu. Bung Hatta pernah berkata, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena, dengan buku, aku bebas.” Saat diasingkan di Boven Digoel, pedalaman Papua, tahun 1934, Bung Hatta bahkan menulis buku Alam Pikiran Yunani. Saat menikah, buku itu pula yang menjadi mas kawin Hatta untuk istrinya, Rachmi Rahim.

   Salah satu proklamator Republik Indonesia itu telah memberi teladan mencintai buku. Perpustakaan pribadinya mencatat tidak kurang ada sekitar 30,000 buku? Bagaimana dengan kita, bangsa Indonesia, yang menikmati kemerdekaan yang beliau perjuangkan?

●●●

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan  [QS Al-Mujādilah 58:11]

Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia ) dengan pena (penulisan di kertas). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS Al-‘Alaq 96:3-5]

 “Carilah ilmu walau sampai ke negeri China, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut.” [HR Ibnu Abdil Bar]


P
ada masa keemasan (the golden ages) Islam di Spanyol Al-Andalus 1,300 tahun yang lalu, kertas sebagai bahan untuk menulis dan mencetak buku masih belum diketahui di Barat, sementara itu di Spanyol Islam kertas di mana-mana. Ada toko-toko buku dimana-mana dan perpustakaan dimana-mana. Hal ini membuat kita risih, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, maka tantangannya dipertaruhkan kepada kualitas dan kinerja terutama kepada para Ulama dan Ustadz selaku pengajar yang banyak bertalian  mata pelajaran ibadah. Diharapkan pula Orang Tua benar-benar memperhatikan dan membantu perkembangan anaknya. Menjadi kewajiban pula Ilmuan Muslim yang banyak bertalian dengan ilmu ghaira mahdah (ilmu dunia yang diridhai-Nya) turun tangan juga  dalam membangun umat seperti yang telah dicontohkan Rasul Muhammad saw.

   Dengan kata lain Ulama dan Ustadz, Orang Tua, Ilmuan Muslim tentunya dapat menyadari dengan sungguh hal ini. Belum lagi pengetahuan umum (‘ibadah’ ghaira mahdah) bagi Ulama dan Ustadz dalam urusan hidup di dunia [1] yang mesti pula diketahuinya (ada hubungan yang erat) bahkan perlu memahaminya disamping pengetahuan (ajaran) agama (‘ibadah’ mahdah) yang memang sudah ada (namun kualitas dan pendekatan mesti mengacu kepada Islam yang islami – damai). 

   Ajaran-ajaran Islam menyebutkan, diutus manusia adalah sebagai khalifah-khalifah [2] untuk memakmurkan hidup di bumi. [3] Bagaimana bias menjalankan peranannya sebagai khalifah-khalifah bagi umat manusia (baik tingkat nasional atau internasional) seandainya ilmunya belum memadai dan apalagi tidak suka membaca (padahal ayat yang pertama diturunkan Allah swt adalah ayat perintah membaca – iqra’). Juga pesan Allah swt kepada umat Islam adalah sebagai pelaku amar ma’ruf (agent development) dan nahi mungkar (agent of change) [4], dalam rangka beribadah kepada-Nya. [5] (Ajaran) Islam yang dibawa Rasul saw sebagai rahmat bagi Alam Semesta. [6] Dengan itu pendekatannya bukan dengan cara ‘kekerasan’ [7] dan bukan mengabaikan aqidah yang sudah ada. [8] Artinya disini mesti ditegakkan koeksistensi hidup damai dalam keadilan (dan akhlak kejujuran). [9] Sejarah telah mencatat sebagai testimoninya terhadap Rasulullah saw yang berhasil sukses mendirikan dan membangun Masyarakat Madinah. [10] dan puncaknya terjadi ketika Spanyol Al-Andalus berdiri selama 700 tahun lebih [11]

   Suatu tantagan besar bagi umat Islam untuk mengejar ketertinggalannya dalam rangka berpartisipasi aktif sebagai bagian dari anggota masyarakat nasional dan internasional. Dan pula sesuai dengan panggilan-Nya sebagaimana firman-Nya menyebutkan: “Kamu (Umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (Karena kamu ada ajaran Islam yang terbaik – yang bisa kamu gunakan) menyuruh (yang dengan itu kamu dapat berbuat) yang ma’rufagent of development, dan mencegah (orang berbuat) dari yang mungkaragent of change  dan (kamu) beriman kepada Allah.” Dengan itu, Dunia dapat, Akhiratpun juga (insya Allah). [QS Āli ‘Imrān 3:110] □ AFM



Teks terjemahan ayat Al-Qur’an sumbernya dari:

Al-Qur’an Tafsir Per Kata Di Sarikan Dari Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka ALFATIH


Catatan Kaki:


[1] Belum lagi pengetahuan umumnya ('ibadah ghaira mahdah) dalam urusan hidup di dunia: Menegaskan tentang pentingnya Akhirat juga Dunia: "Dan carilah negeri Akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan kepadamu. Tapi janganlah kamu lupakan bagianmu di Dunia." [QS al-Qashash 28:77]


Juga menyebutkan pula: "Barang siapa menghendaki keuntungan di Akhirat, akan kami tambahkan keuntungan itu. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di Dunia (hanya Dunia-hubud dunya), Kami berikan sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di Akhirat." [QS Asy-Syūra 42:20]

Maksud ajaran Islam bukanlah semata-mata (memperbaiki) hubungan dengan Allah, melainkan juga (mengokohkan) hubungan sesama antar manusia. Lihat QS 2:112, yaitu supaya jangan putus tali hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla (hablum minallah) dan tali hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Kedua sayap kehidupan (kaffah) inilah yang akan diperbaiki (diperkuat) oleh Islam. [Tafsir Al-Azhar Juz IV hal. 87]

[2] Manusia sebagai Khalifah-Khalifah di Bumi: "Dan Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi." [QS Al-An'am 6:165]

[3] Pemakmur Bumi: "Dia (Allah) telah menciptakanmu (jasadmu) dari bumi (tanah) dan menjadikanmu (manusia) pemakmurnya. [QS Hud 11:61]

[4] sebagai pelaku amar ma'ruh - agent of development dan nahi mungkar - agent of change: Kamu (Umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang ma'ruf - agent of development dan mencegah yang mungkar - agent of change dan beriman kepada Allah." [QS Ali 'Imrān 3:110] 

[5] Dalam rangka beribadah kepada-Nya: "Dan Aku (Allah) tidak menciptakan Jin dan Manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS Adz-Dzariyāt 51-56] 


[6] Rahmat bagi Alam Semesta: wa mā arsalnāka illā rahmatan lil’ālamīn. Dan tiada Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad saw, yang membawa Dinul Islam), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi Alam Semesta [QS Al-Anbiyā’ 21:107]

[7] Pendekatannya bukan dengan cara ‘kekerasan’: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah mereka dengan cara yang baik. [QS An-Nahl 16:125]

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang yang buta huruf (atheism, agnostic), “sudahkah kamu masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. [QS Ali ‘Imrān 3:20]

Dan katakanlah , “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa yang menghendaki (kafir) biarlah dia kafir…” [QS Al-Kahf 18:29]

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)…” [QS Al-Baqarah 2:256]

[8] dan bukan juga mengabaikan aqidah yang sudah ada: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” [QS Al-Kāfirūn 109:6]

 “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama(mu) dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [QS Al-Mumtahanah 60:8]
 
 “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu (menjadikan sebagai kawan) (yaitu) orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari negerimu” [QS Al-Mumtahanah 60:9] 

[9] Musti ditegakkan koeksistensi hidup damai dalam keadilan (dan kejujuran): “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” [QS Al-Kāfirūn 109:6]

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang yang buta huruf (atheism, agnostic), “sudahkah kamu masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. [QS Ali ‘Imrān 3:20]

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. [QS Al-Mā’idah 5:8]

[10] Sejarah telah mencatat, hal ini sudah testified ketika Rasulullah saw mendirikan dan membangun Masyarakat  Madinah dengan sukses: “Pilihan saya Muhammad memimpin daftar orang-orang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan pembaca dan dapat dipertanyakan oleh orang lain, tapi dialah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil baik dalam tingkat religious (agama) maupun seculer (dunia).” Michael  H. Hart

[11]http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/06/bangun-dan-jatuhnya-andalusia.html


Sumber: 

http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/08/islam-di-spanyol-dan-peninggalannya.html

http://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/17/masa-millennium-ketiga-adalah-masa-nya.html 

Kompas

http://print.kompas.com/baca/2015/05/19/membaca-sebagai-jendela-untuk-melihat-dunia

Tafsir Al-Azhar, Juz IV, Prof Dr Haji Abadulmalik Abdulkarim Amarullah, Penerbit Panjimas, Jakarta. [][][]

Blog Archive