Monday, February 5, 2018

Makna Akhlaq


Membawa Kemajuan Peradaban Dunia, dan Akhirat




Pendahuluan

“It’s better to be moralist rather than religious”. Lebih baik moralis daripada religious. Itulah salah satu cara orang liberal-sekuler-humanis membunuh agama.


I
It’s better to be moralist rather than religious - Lebih baik moralis daripada religious. Itulah salah satu cara orang liberal-sekuler-humanis membunuh agama. Di Barat sana agama memang pernah menjadi sumber fundamentalisme dan kekerasan, Baca juga ---klik--->SEJARAHSEKULARISME. Disini, di negeri-negeri Islam tidak. Tapi untuk bisa diberi cap yang sama, agama direkayasa agar melakukan kekerasan. Ini misinya.

   Caranya agama dihancurkan dari konsep dasarnya. Salah satunya adalah makna akhlaq. Yang sekuler berupaya mensekulerkan maknanya. Maka ber-akhlaq itu sama dengan bermoral. Yang liberal dan humanis berusaha menghapus konsepnya. Bagi mereka “Muslim tidak perlu ber-akhlaq, berbuat baik pada sesama itu lebih mulia”. Masalahnya apa bedanya moral dan akhlaq serta apa pula makna karakter dan etika itu?


Pengertian Akhlak

A
Akhlaq adalah kata jama’ dari kata khulq. Akar katanya serumpun dengan khalaqa (menciptakan). Artinya adalah sifat jiwa yang melekat (malakah) dalam diri seseorang sesuai dengan asal mula diciptakannya - ahsanu taqwim - (QS 95:4). Allah Subhana Wa Ta'ala menyatakan manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Maksudnya, manusia diciptakan dalam tampilan dan sosok fisikal yang sedemikian rupa memenuhi standar dan syarat untuk bisa menjalani kehidupannya di dunia yang penuh tantangan ini.


Alasannya jelas, jiwa manusia itu diciptakan Allah dengan fitrah-Nya (fitratallah alliti fatarannas alaiha). Maka ber-akhlaq adalah berpikir, berkehendak dan berperilaku sesuai dengan fitrah (nurani) nya.

   Lalu mengapa manusia melawan fitrahnya? Karena kerja orang tua. Orang tua menanam benih kejahatan pada anaknya. Jika ia tanam benih kebaikan, maka sempurnakan fitrah anaknya.

Hadits Nabi ShalalLāhu ‘Alaihi Wasallam jelas, orang tua berkuasa membuat anaknya Muslim atau kafir. Agar fitrah manusia itu sempurna Allah menurunkan fitrah yang lain yaitu al-Qur’an. Ibn Taymiyyah menyebutnya fitrah munazzalah. Dengan al-Qur’an fitrah manusia akan berkembang sempurna.

Fitrah manusia yang berkembang mengikuti al-Qur’an adalah Nabi Muhammad. Karena itulah maka pribadinya menjadi teladan umatnya - wa innaka la’alā khuluqin ‘adzīm - sungguh, telah ada pada ‘diri’  Rasulullah itu suri teladan yang baik  bagimu, QS33:21. Jiwanya memancarkan cahaya. Perilakunya menjadi hukum dan tata etika. Nafasnya adalah dzikir yang berirama. Kalamnya meluncur penuh hikmah bijaksana.

Itulah makna kesimpulan Aisyah bahwa akhlaq Nabi adalah al-Qur’an (Khuluquhu al-Qur’an). Sebab jiwa Nabi tidak saja sesuai tapi tenggelam dalam samudera kebaikan dan kesempurnaan al-Qur’an.

   Bagaimana al-Qur’an bisa menjadi akhlaq, bisa dijelaskan. Fakhruddin al-Razi. Misalnya, menulis buku Kitab al-Nafs wa al-Ruh, Fi ‘ilm al-Akhlaq. Didalamnya terdapat 32 pasal tentang akhlaq dan penyembuhan penyakitnya.

Jiwa manusia (nafs), misalnya, terbagi menjadi tiga tingkatan. Yang Pertama adalah mereka yang tenggelam dengan Nur Ilahi disebut al-Muqarrabun. Kedua adalah mereka yang berorientasi ke langit dan terkadang ke bumi untuk urusan dunianya yang dinamakan al-Muqtasidun atau golongan kanan (ashab al-yamin).

Terakhir, dan terendah adalah yang tenggelam dalam cengkeraman hawa nafsu dan kenikmatan jasmani, disebut al-Zalimun atau golongan kiri (Ashab al-Syimal). Ilmu untuk mencapai yang pertama adalah olah batin (riyadah ruhaniyah). Ilmu untuk mencapai yang kedua adalah ilmu akhlaq. Makna akhlaq dilacak dari sumber perilaku manusia yang berupa aql, ruh, nafs, qalb dan cara kerjanya.


Problematikanya

B
Berbeda dari akhlaq, istilah “moral” dalam Oxford English Dictionary dan kamus-kamus lain diartikan sebagai perilaku baik-buruk manusia. Prinsip-prinsipnya disebut etika atau filsafat moral. Ketika moral menjadi semangat atau sikap masyarakat ia disebut “etos”. Itu semua, termasuk baik buruk yang pastinya bersumber dari kesepakatan manusia (human convention).

Bahkan apa yang disebut “hukum moral” atau dharma dalam agama Hindu juga berasal dari kebiasaan sosial. Maknanya moral dan etika menjadi longgar. Jadi bermoral artinya berperilaku sesuai dengan aturan masyarakat, yang tidak selalu bersifat ilahi dan religious.

   Orang ber-akhlaq dalam arti yang benar pasti bermoral, tapi tidak semua yang bermoral itu ber-akhlaq. Pemimpin yang tidak zalim, pembela kaum lemah, tidak korup dan sebagainya, bisa dianggap bermoral. Tapi ia tidak berakhlaq jika ia seorang lesbi atau homo, pezina, korup, “peminum”, penjudi dan sebagainya. Saudagar kaya raya yang dermawan, zakatnya milyaran, pekerjanya ribuan, peran sosialnya lumayan, bisa dianggap bermoral tinggi. Tapi jika ia adalah pengusaha narkoba atau prostitusi, atau rentenir ia tidak ber-akhlaq.

Kini akhlaq juga diganti dengan istilah “karakter” (Yunani: kharakter). Character diartikan sebagai ciri yang membedakan seseorang karena kekuatan moral atau reputasi. Tapi character juga dimaknai sebagai sifat yang dimainkan seorang aktor dalam sebuah sandiwara, drama atau lakonan - tidak dengan sesungguhnya atau pencitraan saja.

Berkarakter baik bisa diartikan sebagai ber”peran” baik. Ia bukan sifat yang melekat erat dalam identitas diri. Bukan dorongan jiwa tapi dorongan masyarakat. Mungkin nampak sangat manusiawi, tapi tidak yang mesti berdimensi ilahi.

Maka berkarakter juga tidak mesti berakhlaq? Di masa lalu, misalnya, terdapat seorang gubernur yang dianggap berkarakter tinggi. Ia tegas, berdisiplin tinggi, konsisten, berwibawa dan berwawasan luas. Tapi ia membolehkan perjudian dan pelacuran menjadi sumber APBD. Siapapun menentangnya akan dicemooh. Ia berkarakter tapi tidak ber-akhlaq.

Tapi jika makna ber-akhlaq hanya dibatasi secara sempit - seperti diuraikan diatas, maka ia akan sesempit makna moral. Ber-akhlaq yang sempit hanya berpedoman halal-haram atau wajib-sunnah (yang berhubungan dengan Tuhan - hablum minAllah saja. (Tapi lupa atau tidak dilaksanakannya) Hubungannya dengan Tuhan tidak disempurnakan dengan hubungan antar manusia (mu’amalah ma’annas).

Ibadahnya sempurna, pakaiannya sederhana, lidahnya fasih melantunkan ayat-ayatNya. Tapi, tindakan dan ucapannya menyakiti sesamanya atau orang-orang dibawahnya. Inilah makna ber-akhlaq yang salah. Maka jangan heran jika ada tokoh agama terjerumus skandal tahta, harta dan wanita.

   Sebaliknya, bagi Muslim sekuler-liberal-humanis, standar halal-haram, wajib-sunnah ditinggalkan. Standar baik-buruk hanya dari kesepakatan manusia.

Akibatnya, meniru akhlaq Nabi pun menjadi aneh kalau tidak utopis. Berjanggut seperti Nabi kini dianggap seperti berpedang atau bersenjata. Menolak ajakan korupsi dianggap “sok suci”. Berdemo sambil bertakbir sama dengan “ngajak” perang. Menghukumi kesesatan dan kemaksiatan dianggap fundamentalis, teroris dan anti HAM. Berdakwah tidak boleh menggurui dan sebagainya.

Begitulah, karena sekularisme, liberalisme dan humanisme maka beragama menjadi tidak mudah, apalagi ber-akhlaq. Padahal Francis Fukyama mengingatkan bahwa ketahanan suatu bangsa tergantung pada keberagamaan masyarakat dan etikanya.

Dengan etika, katanya, ekonomi dan politik akan berfungsi dengan baik. Mungkin maksudnya akhlaq. Jauh sebelum itu ulama arif bijaksana juga telah mengingatkan “Bangsa-bangsa akan kekal jika masih ber-akhlaq. Jika hilang akhlaq-nya maka hilang pula bangsa itu.

Al-Qur’an lebih tegas lagi jika suatu bangsa itu bertaqwa maka akan diturunkan berkah dari langit, dan jika tidak lagi ber-akhlaq maka pasti dihancurkan oleh Allah.

Jadi sesungguhnya bangsa ini sedang dihancurkan. Bukan oleh kekuatan militer. Tapi oleh upaya penghancuran moral dan bahkan akhlaq pemimpinnya, anak mudanya, anggota DPR-nya, hakim-hakimnya dan cendekiawan Muslimnya dan sebagainya.


Kesimpulannya

D
Dengan Akhlak Islam (yang sesungguhnya) seperti yang disebutkan itu membawa berkah kemajuan peradaban dunia melalui Sains dan Teknologi yang dihasilkan oleh saintis (ilmuan) Islam (muslim) karena kekompatibelannya (berdasar, bersumber) dengan (dari) dinul Islam (agama plus, the true religious). Sebaliknya Barat maju (dalam bentuk materi) dan berjaya kini karena telah meninggalkan agama atau religious atau kekristenannya, lihat Sejarah Sekularisme.

Mark Zuckerberg pemilik Facebook - yang mengantarkannya menjadi salah satu orang muda terkaya di dunia, sangat mengidolakan ilmuwan Muslim Al-Khawarizmi karena (katanya:)tanpa Algoritma dan Aljabar, maka jangan pernah bermimpi ada Facebook, Whats App, BBM, Line, games bahkan komputer.”

Mark benar dan jujur. Lalu, siapa Al-Khawarizmi? Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, dilahirkan di Uzbekistan(194 H/780 M) dan wafat di Baghdad(266 H/850 M). Dia adalah perintis dalam ilmu matematika dan ilmu-ilmu pasti yang lain.

   Al-Khawarizmi, baca juga ---klik---> AL-KHWARIZMI Bapak Aljabar, adalah pelopor dalam penggunaan angka nol dalam matematika yang dikenal dengan nama algoritma. Ia menulis buku babon tentang matematika, yaitu “al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabar wa al-Muqabalah (Kompendium tentang Hitung Aljabar dan Persamaan, tahun 825 M).

Eropa baru mengenalnya pada tahun 1140 M atas jasa Robert Chester yang menerjemahkan kedalam bahasa Latin dengan judul ”Liber Algebras et Almucabola”. Sampai saat ini, metode Al-Khawarizmi masih tetap digunakan, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Algorism (urutan logis pengambilan putusan untuk pemecah masalah).

Mengapa Algoritma menjadi penting? Ini karena angka-angka Romawi, yang digunakan oleh bangsa-bangsa Eropa waktu itu tidak punya angka nol, jadi tidak bisa dipakai untuk angka-angka persepuluhan atau angka-angka di belakang koma. Angka Romawi juga tidak mungkin dilakukan penjumlahan dari atas ke bawah, dan hanya bisa dilakukan dengan cara Algoritma.

Selain itu, Al-Khawarizmi juga yang mengenalkan konsep Trigonometri yang terdiri dari sinus (sin), cosinus (cos), tangens (tan), cotangens (cot), secan (sec) dan cosecan (cosec). Trigonometri adalah nilai perbandingan yang didefinisikan pada koordinat segitiga siku-siku. Dia juga menemukan rumus untuk memecahkan persamaan kuadrat.

Wal-hasil, dengan temuan Algoritma kita bisa mengenal komputer, ATM, medsos bahkan sampai game yang ada di HP pintar yang jamak dipakai oleh para penggunanya. Hanya dengan Algoritma semuanya terpecahkan. Peradaban Romawi Kuno, peradaban Jepang, Tiongkok, Korea, bahkan India tidak mengenal asas Algoritma itu. Maka, sesungguhnya, dunia berhutang budi pada peradabaan Islam.

Tanpa Algoritma nggak kebayang bagaimana kita akan menghitung uang yang trilyunan, misalnya. Juga, bagaimana kita bisa menyelesaikan soal-soal deret hitung dan deret ukur, dan seterusnya.

Pengakuan Mark Zuckerberg kepada Al-Khawarizmi merupakan penghargaan terhadap ilmuwan yang satu ini.


Penutup


D
Demikianlah tulisan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi tentang nilai akhlak sesungguhnya melebihi dari yang mirip-mirip darinya yang sampai-sampai menyatakan “It’s better to be moralist rather than religious” yang dalam konteks sejarah peradaban Barat terjadi seperti itu, tapi tidak halnya dengan Islam.



   Dan, tulisan Herry M. Joesoef yang menuliskan kekaguman Mark Zuckerberg kepada ilmuan muslim, Al-Khawarizmi yang telah meletakkan dasar-dasar Algoritma-nya sebagai sumber adanya komputer dan smartphone. Dan berkembangnya Facebook, Whats App, BBM, Line, games.

   Dengan itu Akhlak Islam - yang mana Makna Akhlaq - mengandung unsur-unsur moral, etika, karakter, integritas, tanggung jawab dan taqwa), dengan itu psiko-motorik - koordinasi dari unsur-unsur aql, ruh, nafs, qalb dan cara kerjanya, akan menggerakkan "perilaku manusia" yang melahirkan kebaikan-kebaikan yang membangun peradaban manusia (bukan saja) di Dunia, (tapi juga dibalas kebaikan Surga) di Akhirat.

Jadi, dengan Akhlak Islam akan membawa kemajuan peradaban Islam dan dengan itu membawa pula Peradaban Dunia yang maju dan berkembang seperti yang telah dicapai pada zaman keemasan Islam abad tengah, khususnya Sains dan Teknologi seperti yang digambarkan oleh Mark Zuckerberg diatas itu, baca juga ---klik---> KONTRIBUSI ISLAM BAGI KEMAJUAN PERADABAN DUNIA. Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM



Sumber:
https://forum.rumahilmu.or.id/discussion/149/makna-akhlaq-oleh-dr-hamid-fahmy-zarkasyi
https://www.islampos.com/ternyata-mark-zuckerberg-berguru-pada-al-khawarizmi-21811/
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2016/01/sejarah-sekularisme.html
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/11/al-khwarizmi-bapak-aljabar-1.html
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2017/02/kontribusi-islam-bagi-kemajuan.html□□

Thursday, February 1, 2018

Kaligrafi Dalam Misi Islam





Nūn wal-Qolami wa Mā Yasthurūn
‘Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis’
[QS Al-Qalam 68:1]


K
Kaligrafi Islam mempunyai kedudukan yang istimewa diantara cabang-cabang seni Islam yang lain. Tidak seperti cabang seni Islam yang lain seperti musik, arsitektur dan lainnya, yang dalam beberapa hal banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya lokal dan dari sejumah seniman non muslim. Maka kaligrafi mencapai puncak keindahannya di tangan-tangan piawai seniman muslim sepenuhnya, tanpa campur tangan pihak lain.

   Tanpa Islam barangkali huruf Arab tidak akan berarti apa-apa. Hal ini dapat dilihat dari perhatian umat Islam terhadap tulisan yang berawal dari perhatian mereka terhadap Al-Qur’an.

Wahyu Allah Subhana wa Ta’āla yang turun melalui Nabi Muhammad Shalallāhu ‘Alayhi Wassalam adalah kalimat suci yang merupakan bahasa Tuhan kepada hamba-Nya. Pertalian langsung antara tulisan dengan nilai-nilai keagamaan yang sakral menjadikan umat Islam selalu termotivasi untuk terus mengembangkannya.

   Pandangan ini kemudian dipertegas lagi dengan kenyataan bahwa bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa liturgis umat Islam. Tulisan Arab menjadi terangkat fungsi dan statusnya, bukan sekedar sebagai alat komunikasi antar manusia, tetapi juga merupakan tulisan religius yang sakral.

   Kehadiran Islam dengan berbagai atribut yang dibawanya, telah membawa perubahan besar dan cepat pada perkembangan tradisi Arab. Betapa tidak, ketika orang-orang Arab tengah asyik-masyuk dengan tradisi verbal yang mereka banggakan, wahyu pertama (al-‘Alaq:1-5) yang berisi perintah Tuhan agar membaca, menelaah, menganalisis justru menghentakkan mereka dari tidur panjangnya seolah menjadi “bom” yang menghempaskan idealisme bangsa Arab, sekaligus “proklamasi” kemestian budaya tulis-menulis dalam risalah yang dibawa Nabi Muhammad Shalallāhu ‘Alayhi Wassalam (baca: Islam).





Wahyu pertama itu segera disusul dengan pengertian lain seperti ‘Tuhanmu yang mengajari manusia dengan pena’. Kemudian dalam surat Al-Qalam (Pena) Allah Subhana wa Ta’āla berfirman yang artinya:

 ‘Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis’. [QS Al-Qalam 68:1]

   Di samping itu, pengertian-pengertian simbolis pentingnya tulisan juga terdapat dalam banyak ayat, misalnya al-Qur’an yang tertulis dalam Lauhul Mahfudz [QS 85:21-22], dua malaikat yang mencatat perbuatan manusia [QS 82:10, 50:16], pemberian buku catatan perbuatan manusia pada hari akhir kelak [QS 17:73, 10:62, 34:4 dan sebagainya], perumpamaan seluruh pohon di bumi dijadikan pena tidak akan cukup menulis kekuasaan Allah [QS 31: 27], dan perumpamaan air laut sebagai tinta yang tidak akan cukup untuk menuliskan kekuasaan Allah meskipun ditambah lagi dengan tujuh kali air laut yang ada di bumi [QS 31:27, 18:109].

Semua ayat diatas merupakan penghargaan yang sangat tinggi terhadap pena, tinta, buku, dan tulisan. Dari sini dapat dipahami bahwa kaligrafi atau tulis-menulis memperoleh asal-usul yang langsung dari Allah Subhana wa Ta’āla lewat firman-firman-Nya.

   Dalam sejarah perkembangan kaligrafi, nilai-nilai dalam al-Qur’an ini menjadi ruh, spirit bagi para kaligrafer untuk terus mencipta dan berkarya.

Penghargaan yang demikian tinggi terhadap tulisan juga terdapat dalam beberapa Hadist Nabi Shalallāhu ‘Alayhi Wassalam. Kata Qalam (pena) misalnya disinggung dalam sebuah hadist tentang nasib manusia yang telah tertulis dan tidak dapat diubah, qad jaffa al-qalam (pena telah kering).



Hadist lain mengatakan: 'Ajarilah anakmu membaca dan menulis, serta penjelasan hadist Nabi Shalallāhu ‘Alayhi Wassalam yang merupakan penghargaan terhadap tulisan indah yang artinya:

‘Bahwa siapa yang menulis BismiLlāhir Rahmānir Rahīm dan memperindahnya, dia akan masuk surga’.

   Dalam sejarah Islam juga diperoleh keterangan bahwa Nabi Shalallāhu ‘Alayhi Wassalam mengerahkan para tawanan perang - yang notabene non muslim, untuk mengajari membaca dan menulis anak-anak Madinah. Kecintaan kepada tulis-menulis seperti dicontohkan Nabi Shalallāhu ‘Alayhi Wassalam akhirnya menjadi tauladan bagi para sahabatnya termasuk Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra, dan Ali ra. Budaya tulis-menulis dalam Islam telah memulai sejarahnya dan terbangun kuat sejak masa-masa awal Islam ini.





Memandang kaligrafi dari perspektif agama, hal ini juga didukung oleh citra bahwa kaligrafi dalam Islam dipandang sebagai manifestasi semangat religiusitas. Ini bermula dari pernyataan-pernyataan Allah Subhana wa Ta’āla sendiri dalam al-Qur’an dan beberapa Hadist seperti yang dikemukakan di atas.



Kualitas religius yang suci ini akhirnya menjadi ciri yang sangat tipikal dalam apresiasi kaligrafi sepanjang peradaban Islam. Melihat betapa dekatnya dunia seni dengan dunia agama dalam visi Islam dan peran besar kaum sufi – yang turut meniupkan ruh keilahian dalam seni Islam – kaligrafi mencapai puncak keindahannya. Hal ini dikarenakan ia tersembul dari spiritualitas (rohani) yang seimbang, serasi, dan harmonis.



   Keindahannya bukan muncul dari imajinasi tak terarah atau selera egois senimannya. Dalam kaligrafi Islam tidak ada kesan rebelli (memberontak), yang ada hanya bebas tetapi harmonis, tenteram dan bermakna. Dan keindahannya, keelastisannya adalah peta batin sang kaligrafer yang telah dinafasi oleh ruh religiusitas tertentu. Billāhit Taufiq wal-Hidayah. □


Sumber:
http://kaligrafimasjidgrc.com/2017/12/25/semangat-kaligrafi-dalam-misi-islam/
dan sumber-sumber lain (image). □□

Blog Archive