Wednesday, August 26, 2015

Peranan Akal Dalam Al-Qur’an



Oleh: A. Faisal Marzuki




…supaya kamu menggunakan akal pikiran (la‘allakum ta’qilūn) - untuk mengerti atau memahami. [QS Al-Mu’min/Ghāfir 40:67]


PENDAHULUAN

K
alau kita menyebutkan AKAL, maka serta merta terbayang disana OTAK sebagai alat manusia untuk berfikir - yaitu menimbang dan menyimpulkan (karena mengerti dan memahami) serta dengan itu mengambil keputusan. Secara umum pendapat ini tidaklah salah, bahkan biasa digunakan orang. Manusia di karuniai otak dari Allah Maha Pencipta diri manusia sebagai alat untuk membantu dalam keperluan hidupnya.

Dari segi bentuk pisiknya berat otak manusia lebih kurang 1.500 gram. Mengambil ruang (volume) sekitar 1.350 cc. Di dalam otak ini  terdapat banyak  sel-sel, jumlahnya 100 milyar. Otak ini memiliki banyak kabel-kabel syaraf. Kabel-kabel mana mengandung pula sel-sel sebanyak 1 triliyun (1.000 milyar), fungsinya sebagai penghubung satu sama lain.

Sedang otak kecil yang terletak antara belakang kepala bagian bawah dan leher belakang (lihat poster gambar diatas), memiliki sel-sel sebanyak 70 milyar. Selanjutnya otak kecil ini memiliki pula kabel-kabel syaraf. Kabel-kabel mana mengandung sel-sel sebanyak 1.000 milyar, fungsinya sebagai penghubung dengan syaraf-syaraf yang berada di dalam tulang belakang. Kondisi dari kualitas otak manusia ini melebihi otak-otak dari makhluk khewan yang ada.


FUNGSI-FUNGSI OTAK

S
ebenarnya fungsi otak tidak hanya untuk berfikir saja, akan tetapi juga sebagai pusat pengaturan. Otak mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh ‘homeostatis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh tubuh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran (akal). Otak dan sel syaraf didalamnya dipercayai sebagai faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya ‘kognisi’ (pengenalan sesuatu, cognition) bagi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi perkembangan ilmu psikologi kognitif. Fungsi otak bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, motorik (motor penggerak), pengenalan dan pembelajaran serta segala bentuk pembelajaran lainnya.

Dengan demikian otak kita adalah suatu yang menakjubkan. Ia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan adanya milyaran sel syaraf di otak kita ini, ia menjadi pusat kehidupan dalam mengenali Dunia melalui indera. Dengan proses itu kita dapat mengerti dan memahami Dunia melalui pemikiran, yang dengan itu kita memutuskan segala sesuatu yang harus kita lakukan. Jadi walaupun pisik otak itu beratnya hanya seperseratus dari berat tubuh, namun peranannya luar biasa.

Dengan itu pantaslah Allah memberi tugas kepada manusia 'yang berakal' (juga harus berakhlak mulia - adil, jujur dan bertanggung jawab sebagai makhluk yang beribadah kepada-Nya) sebagai Pemakmur Bumi dengan jabatan (para) Khalifah di Dunia. Dimana dalam ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan fungsi akal yang merupakan bagian dari kerja otak yang bersangkut paut pula dengan indra dan hati (consciousness, cognition). Sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an menyebutkan antara lain yang artinya:

Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mau menggunakan akal (ya’qilūn). [QS Al-Mā’idah 5:58]

Tidakkah kamu menggunakan akal fikiran (afalā ta’qilūn) - untuk mengerti atau memahami. [QS Yūsuf 12:109]

…supaya kamu menggunakan akal pikiran (la‘allakum ta’qilūn) - untuk mengerti atau memahami. [QS Al-Mu’min/Ghāfir 40:67]

Akal manusia ini sebagai sistim yang bekerja simultan antara ‘otak’ (sebagai alat memikir) dengan ‘telinga’ (sebagai alat mendengar suaranya) dengan ‘mata’ (sebagai alat untuk melihatnya) dengan ‘hati’ (yang dapat ‘menyadari’ kejadian dan keberadaan serta sebab akibat suatu objek). Khusus mengenai masalah ‘hati ini’ secara ilmiah disebut consciousness (kesadaran, hati) yang tidak terlihat tapi ada (sifatnya bathin) sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’an menyebutkannya yang artinya:

Orang-orang yang kurang akal (bodoh, al-sufahā-u, tidak memahami, tidak menyadari) di antara manusia akan berkata….[QS Al-Baqarah 2:142]

...wahai orang-orang yang berakal (ūlil-albāb - ‘berakal’ dan ‘beriman kepada Tuhan Rabb ‘Alamīn’), ….[QS Al-Baqarah 2:179]

…bertaqwakah hai orang-orang yang berakal (ūlil-albāb - ‘berakal dan beriman kepada Tuhan Rabb ‘Alamīn’). [QS Al-Baqarah 2:197]

Dan jangalah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (al-sufahā-u)...[QS An-Nisā’ 4:5]

Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (ya’qilūn). [QS Yūnus 10:100]

Demikianlah kedudukan manusia di Dunia dalam melihat, merencanakan, mengerjakan atau mengeksekusi untuk mencapai target atau rencana, dan memecahkan masalah yang ada dalam kehidupannya. Mempelajari dan memahami ayat-ayat Kauniyah - yakni tanda-tanda dari gejala-gejala atau fenomena-fenomena di alam, di masyarakat dan di dunia zaman lalu, kini dan akan datang.

Juga ayat-ayat Qauliyah - yakni tanda-tanda atau makna-makna firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk kehidupan. Untuk memahaminya menggunakan segala karunia yang ada pada diri manusia seperti akal, pendengaran, penglihatan dan kesadaran hati sebagaimana firman-Nya menyebutkan yang artinya:

“Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan [1] dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) roh (ciptaan)-Nya, [2] dan Dia menjadikan kamu pendengaran, [3] penglihatan, [4] hati. [5] (Tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. [6] [QS As-Sajdah 32:19].


Penjelasan:

[1] Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan, maknanya: Fungsi-fungsi organ tubuh biologis serta akal fikiran (otak) dan panca indra serta hati untuk siap pakai.

[2] dan meniupkan ke dalam (tubuh-biologis manusia) roh (ciptaan)-Nya, maknanya: Fungsi organ ruh seperti penglihatan ruhani (sensing dari penglihatan rohani ke mata biologis dan sebaliknya sensing dari mata biologis ke penglihatan ruhani); pendengaran ruhani (sensing dari pendengaran rohani ke telinga biologis dan sebaliknya sensing dari telinga biologis ke pendengaran ruhani); dan hati nurani (akal budi yakni suatu kesadaran yang dalam yakni tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana yang haq dan mana yang bathil, yang mana baik serta berguna dan yang buruk serta tak berguna; menjadi mengerti; menjadi paham dari hati nurani ke akal fikiran otak dan sebaliknya) untuk siap pakai.

[3] dan Dia menjadikan kamu pendengaran, maknanya: Daya simak (dan pemilah) dari apa yang didengar.

[4] penglihatan, maknanya: Daya memahami (dan pemilah) apa yang dilihat.

[5] hati, maknanya: Daya kesadaran merasakan dan menghayati dari apa yang didengar oleh telinga, dan apa yang dilihat oleh mata (dan mampu memilahnya kemudian diambil nilai baiknya, sebagai pembelajaran hidup).

[6] (Tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur, maknanya: Tidak banyak orang yang menyadari fungsi dan penggunaan yang sebenarnya dari apa yang didengar, dilihat dan dirasakan dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.


KELEMAHAN AKAL OTAK

N
amun demikian ‘otak ansich’ (otak sendiri saja) sebagai alat berfikir bukanlah segala-galanya tanpa petunjuk dan bimbingan dari-Nya. Karena apa? Karena kalau hanya otak ansich digunakan (otak sebagai alat pikir tanpa ada dasar pijak Qur'anik) untuk mengambil keputusan akan berbahaya, karena akal otak mempunyai kelemahan.

Dibawah ini daftar beberapa cara otak mengacaukan pandangan kita mengenai kehidupan seperti 'kacau, galau, samar, tidak pasti, ragu, nekad'-nya pikiran terhadap suatu masalah atau kejadian yang ada dan sedang dihadapi.


Beberapa Kelemahan Akal Otak

Adanya kelemahan-kelemahan dari penggunaan Akal Otak saja (ansich) tanpa yang ‘lain’ bisa menyesatkan yang menyebabkan keputusan atau tindakan mengalami fail (kegagalan, menyesatkan) disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang berupa: Confabulation, Implicit Memory, Halusinasi, Change Blindness, Saccadic Masking, Proprioception, Lucid Dreaming. Penjelasan dari pengertian dan cara kerja faktor-faktor yang menyebabkan kelemahan fungsi ‘akal otak ansich’ dapat diikuti sebagai berikut.


Confabulation

Confabulation adalah suatu kondisi dimana kita bisa mengingat ingatan yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Hal ini biasanya terjadi pada ingatan-ingatan masa kecil yang mengerikan. Kondisi ini bisa dimasukkan ke dalam pikiran kita oleh orang lain seperti media massa, film, majalah, komik, cerita novel, permainan-game dan cerita horor. Kasus yang terkenal menyangkut seorang yang dipandu oleh terapis kejiwaan untuk mengingat masa lalunya, yaitu bahwa dirinya sebagai anggota aliran sesat (satanic, satanik). Ia dicekam rasa takut, karena diburu oleh sesuatu yang menakutkan (dihantui). Padahal itu semua tidak pernah terjadi karena semuanya itu hanya rekaan yang dibuat otaknya sendiri yang telah tertanam sebelumnya.

Kondisi lain lagi adalah pernah Anda bertemu dengan kawan lama yang berbicara tentang suatu yang terjadi semasa Anda kecil, namun Anda tidak pernah mengikuti acara tersebut? Otak Anda terkadang langsung mengira Anda seakan ikut acara itu. Dalam menceritakannya, "menciptakan" detail-detail kecil untuk mendukung kenangan palsu tersebut seperti "Saya datang kok, memakai baju biru, ketemu si fulan disitu".

Pada suatu kondisi tertentu ternyata kerja otak sangat buruk dalam mengingat kenangan di masa lalu. Sering kali otak hanya mengingat detail besar dan digambarkannya dalam rupa detail kecil, bahkan selalu melupakan asal dari kenangan tersebut.

Untuk masalah ini sebenarnya Allah Yang Maha Menciptakan Manusia mengetahui betul "kondisi kelemahan manusia" ini. Kalau tidak, fatal akibatnya. Maka dari itu Allah Yang Maha Tahu sebagai Arsitek Pencipta Manusia perlu mengingatkan dengan memberitahukan keberadaan-Nya (kehadiran-Nya, His existing) dan hubungannya antara Allah Pencipta (Creator, Khaliq) dan Manusia (Creation, Makhluk) sejak dini, yaitu ketika manusia berada di alam 'Premordial' yaitu alam dimana saat akan mulai diciptakannya (sebelum kelahiran manusia, akan ditempatkan di rahim ibunya) sebagai 'akad perjanjian' kenal dengan Maha Penciptanya. Kisahnya diceritakan dalam surat Al-A'raf sebagai berikut ini yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari 'sulbi' (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap 'Ruh' mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami lengah [tidak tahu, tidak diberitahu, tidak tahu Tuhan penciptanya menurunkan bimbingan dan petunjuk serta aturan hidup] terhadap [masalah] ini. [QS Al-A'rāf 7:172].


Implicit Memory

Orang cenderung lebih percaya kepada alam pikirannya sendiri daripada suatu pernyataan yang sering kali dikemukakan, tapi tidak akrab dengan pikiran yang telah ada pada dirinya. Sebuah contoh yang sangat lucu (dan ini menunjukkan betapa mudahnya Orang Amerika tertipu oleh keyakinan dirinya sendiri) yaitu 60% orang Amerika percaya bahwa Obama itu seorang Muslim.

Untuk meyakinkan bahwa Obama bukan seorang Muslim seperti tersebut diatas kami beri gambar Obama minum bir. Isu ini dihembus-hembuskan terus agar menjadi sebuah ilusi kebenaran bahwa Obama itu seorang Kristen yang taat. Namun mereka (60%-nya) tetap saja menyebutkan Obama seorang Muslim. Aplikasi kelemahan pikiran ini sangat banyak, contoh lainnya adalah pemimpin di negri kita sendiri (maksudnya Indonesia) yang sering "pasang tampang benar" daripada berbuat sesuatu yang benar.

Sebaliknya kalau sesuatu itu belum diketahuinya (belum menjadi keyakinannya) maka beritakanlah sesuatu itu berulang kali, maka lama kelamaan isi berita ini diterimanya walaupun beritanya itu bohong adanya. Inilah 'jahatnya' (karena ada kepentingan didalamnya, vested interest) dari sponsor media massa itu, bisa memelintir yang sebenarnya tidak ada (kalau ada kecil sifatnya) dikatakan ada (yang kecil itu dibesar-besarkan). Kejadian ini terjadi dalam kasus 'Islam itu terorist' (padahal tidak, lihat ajaran Islam yang sesungguhnya).

Jadi dengan itu media itu bisa memelintir berita yaitu sesuatu berita yang sebenarnya tidak ada bisa menjadi ada, yang sebenarnya salah bisa menjadi benar (dengan suatu teknik penyajian yang 'canggih'). Sesuatu itu jika dijejali setiap kali, berita kebohongan itu menjadi kebenaran bagi (kesan) publik (pemerhati dan pemirsa).

Maka, disinilah pentingnya moral kebaikan dan akhlak (sincere - jujur,  integrity - kejujuran, integritas) yang ditanamkan oleh agama (kesalehan sosial, ajaran Islam dalam bersosial kemasyarakatan). Artinya dalam hal ini peran ad-dīn al-Islām (baca addinul islam, agama kaffah) sangat sangat sangat diperlukan sekali. Karena kesalahan menerapkan nilai moral akhlak bersosial kemasyarakatan berakibat fatal di dunia - sepertihalnya penyebab perang 6 tahun dalam Perang Dunia II yang memakan korban matinya 8o juta manusia boleh dibilang hanya soal ego-ego bangsa, disinilah peran pengadilan di akhirat sebagai medium pertanggungan jawab di mahkamah yang maha adil (fair).


Halusinasi

Anda ingin merasalan halusinasi? Cobalah percobaan ‘Ganzfeld Effect, legal dan aman. Potong sebuah bola pingpong menjadi dua. Setelah itu pergunakan belahan bola pingpong tersebut untuk menutup mata Anda dalam keadaan duduk, celentang atau tiduran santai. Dalam keadaan seperti itu hidup dan dengarkan radio saluran tanpa stasion (hanya bunyi keresek saja pada radio Anda). Biarkan radio yang didengar itu hidup selama setengah jam dan mungkin saja setelah itu Anda akan mulai halusinasi ilusi mulai bekerja, yaitu berbicara Anda dengan keluarga Anda yang sudah meninggal, melihat tugu Monas sedang jalan-jalan, atau mungkin bertemu si fulan di tengah jalan?


Change Blindness

Bila Anda sedang melihat sebuah pemandangan, misalnya Surga dengan Malaikat-Malaikat. Dan kemudian sepersekian detik saja mata Anda teralihkan ke arah lain, maka ketika kembali lagi ke posisi ingin melihat seperti semula yaitu Malaikat-Malaikat, ternyata Anda tidak menyadari bahwa ada perubahan penglihatan dari latar belakangnya menjadi seperti Neraka, bukan Surga lagi.

Kenapa demikian? Karena fokus Anda ke Malaikat-Malaikat telah menjadi berubah. Para ahli menamakan fenomena ini change blindness (buta terhadap perubahan). Beberapa teori menyatakan bahwa kesadaran (menjadi ketidak sadaran) otak tidak mampu membaca perubah yang terjadi pada persepsi Anda, atau dari awal persepsi Anda mengenai sesuatu itu 'tidak lengkap' sehingga bagian yang tidak lengkap dibuang begitu saja oleh ketidak sadaran otak.

Hal ini kerap kali juga terjadi ketika kita tengah melakukan 'shalat yang kurang khusyu' - terburu-buru atau memikirkan sesuatu sebelum mulai shalat atau tengah dalam shalat, jadi shalatnya tidak tu'maninah. Apa yang kita baca dan gerakkan yang terburu-buru menjadikan shalatnya tidak fokus lagi. Pengaruh tidak fokus, kadang kala lupa apa yang mesti dibaca atau rakaat keberapanya tidak tahu (lupa).


Saccadic Masking

Masih berkaitan dengan fenomena di atas. Tahukah Anda bahwa sebagian waktu Anda menggunakan mata Anda, otak Anda menjadi bulat. Sekarang kita tes. Tengok ke kiri dengan cepat, pandang dinding di sebelah Anda, lalu tengok ke kanan, lihat dinding di kanan Anda. Saat Anda menengok, dimana gerakan kita terlalu cepat sehingga mata tidak dapat memfokuskan pandangan. Saat itu otak Anda bergambar blur (kabur, samar-samar, tidak tajam) itu tidak akan banyak berguna, maka ia akan membuang pandangan itu dari ingatan dan persepsi Anda. Saat itulah secara efektif Anda buta. Fenomena ini disebut ‘Saccadic Masking, dimana ‘Saccade itu adalah gerakan cepat mata.


Proprioception

Proprioception adalah kemampuan otak untuk mengetahui "dimana" bagian tubuh Anda sebenarnya. Nah otak kita yang tidak sempurna ini sering kali rusak ‘proprioception-nya, tepatnya tidak rusak tapi kebingungan. Percobaan yang paling terkenal disebut ‘efek pinokio’. Anda harus melakukannya bersama teman Anda. Ajak teman Anda duduk di bangku depan Anda sedangkan Anda duduk dibelakangnya. Pegang hidung Anda dan hidung teman Anda secara bersamaan (dengan tangan berbeda tentunya), kemudian mulai elus-elus lembut hidung Anda dan hidung teman Anda. Satu menit kemudian Anda akan merasakan bahwa hidung Anda menjadi sangat panjang. Disinilah ‘proprioception otak Anda terhadap sang-hidung menjadi bingung. Anda bisa melakukan percobaan ini pada bagian tubuh lainnya, hasilnya tentu akan sangat lucu.


Lucid Dreaming

Teori ‘lucid dreaming adalah apabila pada mimpi Anda, Anda sadar bahwa Anda tidak bermimpi dalam mimpinya itu. Maka Anda dapat berbuat apapun, dan menciptakan apapun dalam mimpi Anda itu. Otak kehilangan kemampuan ‘nalar’-nya saat kita bermimpi dan tidak mampu membedakan suatu persepsi benar atau salah. Jadi Anda tidak bermimpi dan melihat sebuah kuda pink (berwarna pink, hampir seperti merah muda) bersayap, otak Anda akan menolak persepsi itu. Namun di dunia mimpi otak Anda tidak bisa menolak persepsi mimpi tersebut dan akan menerima saja sebagai suatu kenyataan.


KESIMPULAN

D
engan itu, boleh jadi kemelut dunia yang tidak habis-habisnya sejak dulu sampai di seperlima abad ke-21 dalam millennium ke-3 ini ialah karena disebabkan manusia hanya menghandalkan pemikiran akal otak ansich sebagai sumber nalar-nya satu-satunya dalam mencapai konsensus sesama manusia (itupun umumnya tidak bulat 100 persen) tanpa menghadirkan sedikitpun petunjuk dari wahyu Al-Qur'an Al-Karim yang datang dari Yang Maha Tahu atas segala Alam Semesta dan Alam Manusia. Maka, dari itulah sebabnya kemelut manusia tidak habis-habisnya. Sebaiknya gunakan juga nalar atau akal otak - ini tidak salah malah dianjurkan, namun plus “wahyu” yang berkenaan dengan masalahnya atau dan berdasarkan “moral” atau “akhlak” yang diajarkannya.

Oleh karena itu alangkah bijak bila kembali kepada ajaran-Nya (paradigma, nilai-nilai moral - kejujuran, keadilan, sebagai yard stick dalam menilai pandangan atau pendapat serta keputusan manusia itu melenceng atau tidaknya) melalui Al-Qur’an Al-Karim sebagai petunjuk dan berita gembira dari-Nya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Penyelamat Kehidupan Manusia.


Buku Petunjuk (Manual Operating System Kehidupan, GPS)

Kita perlu petunjuk ‘semacam Manual Operating System Kehidupan atau boleh juga sebut saja GPS’ (Geo Positioning System) dari-Nya - agar tidak nyasar dijalan - dalam menapaki kehidupan yang benar dan adil. Hanya dengan itu kita akan dapat mencapai hidup selamat dan sejahtera serta aman di Dunia daripada hanya bergantung kepada ‘akal ansich’, pendapat manusia ansich yang versinya macam-macam pula. Yang satu merasa pendapatnya yang paling benar, begitu sebaliknya. Dalam hal ini yang kuat yang akan menang, dan lemah akan kalah dan diaturnya setelah itu agar tunduk kepada yang kuat.

Prinsip keadilan yang datang dari manusia, tidak pernah adil. Kerena apa? Karena kesadaran diri (kelompok) dari hidup manusia pertamanya adalah untuk diri (kelompoknya) saja didahulukan (disamping pada umumnya memang ada kepentingan, interest, ego sentris, vested interest), sementara Tuhan Maha Pencipta tidak.

Dia tidak berhajat dengan Harta, karena Dia sumber dari Harta dan Dia sendiri Maha Kaya. Dia tidak berhajat dengan ‘power dan kekuasaan', karena Dia sendiri sumber dari ‘power dan kekuasaan’ dan Dia sendiri Maha Powerful, Maha Kuasa. Dia tidak berhajat kepada keadilan, karena Dia sumber dari keadilan dan Dia sendiri Maha Adil. Dia dihajati makhluk (ciptaan, creation), karena Dia tidak berhajat kepada makhluk dan Dia sendiri adalah sumber hajat dari para makhluk-Nya. Dia tempat bergantung dari para makhluk-Nya, karena Dia adalah Khaliq Pencipta segala makhluk-Nya. Dia tidak berhajat kepada manusia, melainkan manusia berhajat kepada-Nya. Dia Maha Kasih lagi Maha Sayang dengan itu diberikan-Nya buku petunjuk berupa Kitab Suci Al-Qur'an. Tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana firman-Nya menyebutkan yang artinya:

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa - taqwa yaitu mengikuti hukum-Nya (melakukan apa yang diperintah-Nya, meninggalkan apa yang dilarang-Nya). [QS Al-Baqarah 2:2]

Firman-Nya lainnya menyebutkan yang artinya:

Thō Sīn, inilah ayat-ayat Al-Qur’an sebagi sebuah Kitab yang menjelaskan, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman (percaya kepada Kebesaran-Nya dan Kebenaran-Nya dari apa-apa yang dijelaskannya dalam Al-Qur’an). [QS An-Naml 27:1-2].

Semoga kita mendapat petunjuk dan bimbingan-Nya agar selamat sejahtera dan bahagia serta damai hidup di Dunia ini (planet Bumi atau planet lainnya) dan mendapat Surga ‘Adn dikemudiannya bagi mereka yang percaya kepada-Nya dengan ‘menegakkan shalat dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan menunaikan zakat sebagai reperesentasi kepedulian kepada manusia yang belum beruntung dalam kehidupan materi, percaya kepada adanya hari akhirat’ sebagai tempat kembali manusia dan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. [QS An-Naml 27:3].

Dengan itu selama hidup di Dunia marilah kita melakukan keadilan dan berbuat kebaikan-kebaikan lainnya sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan itu kita selamat, sejahtera dan damai di planet Bumi ini. Jadilah sebagai intelektual sebagaimana inteleknya ūlil-albāb. Semoga Allah Subhana Wa Ta’ala memberkati kita, Amīn. Wallāhu A'lam Bish-Shawab. Billāhit Taufiq wal-Hidāyah. □ AFM


Baca juga (klik --->) Penggunaan NalarRasionalitas


Sumber:
Al-Qur'an Tafsir Perkata ALHIDAYAH, PT KALIM, Jakarta
http://www.afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/04/kedudukan-manusia-di-bumi-6.html
http://www.kaskus.co.id/thread/51efafdf7e12438d23000005/kelemahan-otak-manusia/?ref=postlist-21&med=recommended_for_you
http://www.afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/05/ulil-albab-adalah-intelektual-muslim.html
https://jendelailmu-faisal.blogspot.com/2019/03/penggunaan-nalar-rasionalitas.html  □□□

Blog Archive