Thursday, December 25, 2014

Pelajaran dari Roma (III)



oleh A. Faisal Marzuki

Thomas Jefferson Memorial, Washington DC


Memperkenalkan kepada kalangan pembaca blog ini akan esensi dan kearifan, keindahan dan keagungan daripada kitab suci al-Qur’an surat ke-30 yaitu ar-Rūm ayat 2 sampai dengan ayat 7.

U
ntuk memperlihatkan kesungguhan kebenarannya itu ada ditangun kaum Musyrikin, ditantanglah Abu Bakar ra dengan bertaruh dengan 100 ekor unta. Penawaran taruhan kaum pembesar  Musyrikin Makah diterima Abu Bakar ra, karena Abu Bakar ra sungguh yakin benar akan kebenaran firman Allah swt yang disebutkan dalam ayat 4 surat ar-Rūm itu. Jika pada masa ‘bidh’i sinīna’ 1  belum juga Romawi menang, maka Abu Bakar ra wajib membayar 100 ekor onta. Sebaliknya jika pada masa ‘bidh’i sinīna’ Persia dikalahkan oleh Romawi pada perang berikutnya, maka Abu Bakar ra menang taruhan dengan mendapatkan 100 ekor unta suatu bilangan yang banyak sekali ketika itu. Waktu itu bertaruh belum dilarang dalam ajaran Islam. 2
 
   Kaum Musyrikin Makah sangat yakin sekali akan kemenangannya dalam bertaruh dengan Abu Bakar ra, karena daerah-daerah Byzantium telah benar-benar diduduki oleh Persia saat itu. Mereka mengetahui dengan pasti, karena umumnya penduduk Makah suku Qurasy sebagai saudagar kafilah (caravan) yang datang ke Syam (Syria) - di utara. Bahkan ke Yaman - di selatan. Jadi berita dan situasi setempat mereka mengetahui. 3  Dalam catatan sejarah bangsa Persia menang atas bangsa Romawi pada tahun antara 613 M dan 614 M, yaitu 7 tahun sebelum kaum Muslim Makah hijrah ke Madinah. Dengan begitu umur agama Islam yang dibawa Rasul Allah saw baru 6 tahun sejak perintah kerasulan mesti berdakwah kepada manusia seperti yang terdapat dalam surat al-Muddatstsir  4  yang diturunkan kepada Rasul saw sebagai ‘surat perintah’-Nya kepada Rasul Allah saw (baca RasululLah).

●●●

   Tahun demi tahun belum juga tampak tanda-tanda Romawi bangkit melawan Persia. Kaum Musyrikin Makah mulai lebih berbangga diri lagi dari yang sudah-sudah, karena belum juga ada perlawanan kembali dari Romawi. Berarti bahwa janji Allah yang akan memberikan kembali kemenangan kepada Romawi seperti yang dikatakan Muhammad saw dusta belaka, tanpa ada dasar kebenarannya. Buktinya dalam waktu ‘bidh’i sinīna’ belum menunjukkan adanya gerakan atau perang yang dilakukan bangsa Romawi untuk melawan kembali dan mengambil tanah yang diduduki musuhnya. 
   
   Betapa kritis dan rapuhnya keadaan umat Islam Makah ketika itu. Hanya beberapa orang saja yang teguh imannya dan percaya akan datangnya janji Allah itu, seperti Abu Bakar ra tetap berdiri dibelakang Rasul Allah saw. Karena mereka yakin seyakin-yakinnya kepada janji Allah. Janji Allah bukanlah seperti janji manusia. Kalau Allah berjanji, sebenar-benar berjanji dan terjadi! 5
 
   Kemudian datanglah hal yang tidak disangka-sangka kaum Musyrikin Makah, mulai tahun 621 M yaitu tahun ke-7  dari kekalahan Romawi atas Persia, Kaisar ketika itu bernama Heraclius membangkitkan kembali semangat bangsa Romawi dan menyusun kekuatan serdadunya untuk menebus kekalahannya. Maka diserbulah dengan segenap kekuatannya melawan habis-habisan serdadu Kerajaan Persia yang dipimpin Rajanya bernama Kisra. Akhirnya usaha bangsa Romawi dengan perantaraan serdadu-serdadunya yang dipimpin Kaisar Heraclius ini tidak sia-sia, tanah Syam (Syria) dan Palestina dapat direbut kembali ketangan Byzantium (Romawi Timur). Bahkan sampai pusat Kerajaain Persia sendiri, Madain didudukinya serta Kayu Palang Pusaka tempat menyalib Isa as yang dipercayainya itu berhasil diboyong kembali.

   Kabar kekalahan bangsa Persia yang musyrik itu akhirnya sampai ke kota Makah, dan Abu Bakar ra memenangkan taruhan 100 ekor unta. Namun dalam riwayatnya tidak dinikmati beliau, kecuali dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya.

   Maka terbuktilah sekarang akan kebenaran firman Allah Azza wa Jalla yang disampaikan Rasul-Nya Muhammad saw, pada ujung ayat 4 surat ar-Rum tersebut berfirman Allah swt:

Yaw ma-idziy yafrohul mu’minūn
Pada hari itu orang-orang beriman merasa gembira
    
   Rupanya bersimpatinya kaum Muslimin Makah kepada Ahlul-Kitab selama ini tidaklah salah. Kebenaran Allah adalah kebenaran yang haq, tidak diragukan lagi. Karena apa? Karena kenyataan sejarah (dalam peristiwa yang telah dipaparkan seperti tersebut diatas) tak terbantahkan dan sudah membuktikan, adanya.

   Mereka kini kaum Muslimin Makah yang tadinya berduka sedih, cemas, ragu-ragu akan kebenaran Allah yang Rahman lagi Rahim kini bersuka ria. Harapan akan keyakinan Islam timbul lagi, moral imannya menjadi bertambah kokoh kini.

   Hukum besi artinya hukum kuat, dan tak terbantahkan. Begitu pula peraturan Allah yang telah mengabadi menjadi ‘sunatulLah’ tersebut bukan saja berlaku pada saat Rasul Allah saw hidup saja. Namun masa lalu sejak Nabi Adam as sampai Nabi Isa as. Dan masa mendatang juga, artinya setelah Rasul Allah saw wafat sampai akhir zaman. Rasul Allah (baca RasululLah) saw adalah Nabi terakhir, setelahnya tidak ada lagi Nabi atau Rasul. Pusaka para Nabi dan Rasul semua tersusun dalam Kitab Allah (baca KitabulLah) yang ada di Al-Qur’an Al-Karim (baca Al-Qur’anul Karim) yang keasliannya terpelihara dengan sangat baik. Dengan Kitab Allah inilah kita berpegang dalam menjalani hidup di dunia ini (pasti berhasil) sebagaimana yang dibuktikan dari keberhasilan Romawi merebut tanahnya kembali plus bonus berupa tanah Persia seterunya sebagaimana pertengahan ayat 4 surat ar-Rum menyebutkannya:

Lillahil amru min qoblu wa min ba’du
Keputusan (ketetapan) Allah itu berlaku
pada masa lalu dan masa mendatang.

Demikianlah akhirnya ‘bidh’i sinīna’ yang ditunggu-tunggu dengan rasa cemas dan ragu-ragu terjadi seperti yang dijanjikan-Nya. ©AFM

Bersambung ke: Pelajaran dari Roma (IV)


Catatan kaki:
1‘Bidh’i Sinīna’ dalam bahasa Arab biasanya bermakna kira-kira yaitu waktu antara 3 sampai dengan 9 tahun.
2Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Pada umumnya turunnya sesuai dengan ‘case’ yang dihadapi. Jadi ada ‘case’ ada ‘solution’, disebut sebagai Asbabun Nuzul, turunnya ayat-ayat itu ada sebab-sebabnya. Jadi taruhan ketika itu belum ada ketentuannya.
3Bangsa Arab Makah pekerjaannya berdagang (saudagar perantara) baik ke Syam di utara maupun ke Yaman di selatan sebagaimana diuraikan juga dalam surat Qurasy (surat ke 106) ayat 1 dan 2 sebagai berikut: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. Yaitu kebiasaan mereka bepergian (berdagang atau saudagar dengan menggunakan kafilah atau caravan dengan onta) pada musim dingin (pergi ke Yaman) dan musim panas (pergi ke Syam)." Dengan itu selaku pedagang dia mengetahui berita dan keadaan setempat dimana mereka berada.
4●Hai orang yang berselimut (Muhammad saw)! ●Bangunlah, dan berikanlah peringatan (berdakwah)! [QS al-Muddatstsir 74:1,2]
5Janji Allah! Tidak pernah Allah mengingkari janji-Nya. Tetapi kebanyakan manusia, tidak mengetahuinya. [QS ar-Rum 30:6]

Wednesday, December 24, 2014

Pelajaran dari Roma (II)



oleh A. Faisal Marzuki



Memperkenalkan kepada kalangan pembaca blog ini akan esensi dan kearifan, keindahan dan keagungan daripada kitab suci al-Qur’an surat ke-30 yaitu ar-Rūm ayat 2 sampai dengan ayat 7.


P
ada abad ke-7 M ada dua adikuasa dunia, yaitu Kerajaan Romawi dan Kerajaan Persia. Ketika itu penduduk Kerajaan Persia menganut agama yang menuhankan serta menyembah ‘api’. Dalam ini kaum muslimin di Makah (tempat kelahiran agama Islam) mengkatagorikan agama itu sebagai agama musyrik, yaitu agama yang menyekutukan Tuhan (Pencipta) yang sebenarnya dengan makhluk (api ciptaan-Nya) yang dituhankan. Bagi sebahagian besar penduduk kota Makah mempercayai berhala-berhala dari berbagai patung yang disembahnya, disamping Tuhan (yang dipercainya ada, tapi tidak disembahnya). Jadi mayoritas penduduknya masih musyrik. Musyrikin Makah ini menyukai Kerajaan Persia, karena sepaham dalam hal konsep keagamaannya. Yaitu sama-sama Musyrikin. Yang satu terletak di utara (Kerajaan Persia) yang satu di sebelah selatan tanah Hejaz (Musyrikin Makah). Sedangkan dipihak yang lain Kerajaan Romawi sudah memeluk agama Nashrani yang bagi pemeluk agama Islam di Makah ketika itu disebut sebagai Ahlul-Kitab. Artinya dekat dengan agama Islam ketimbang kaum Musyrikin yang menyekutukan Tuhan seperti halnya penduduk Kerajaan Persia ini. Kita sudah memaklumi bahwa dalam ajaran Islam suatu kekeliruan (dosa) yang paling besar adalah menyekutukan Tuhan. Hal itu dipegang teguh oleh masyarakat Islam pada waktu itu, bahkan sepanjang zaman termasuk kita yang hidup di abad ke-21 ini. Karena apa? Karena ketauhidan (keesaan) kepada Tuhan adalah haq (mutlak benar).

   Pada zaman Nabi Muhammad saw Kerajaan Romawi telah terbagi dua. Bagian barat dengan ibukotanya, Roma. Dari sini pulalah diambil nama kerajaan itu, Kerajaan Romawi. Sedangkan di Bagian timur yang dibentuk belakangan (setelah ada di bagian barat) ibu kotanya Byzantium. Kemudiannya namanya dirubah oleh Kaisarnya (nama Kaisarnya Constantine) menjadi nama baru ibu kotanya Constantinopel yang terambil dari namanya (Constantinopel ini sekarang disebut Istanbul, Turki). Kerajaan Romawi Timur ini kemudiannya lebih maju dibanding dengan Kerajaan Romawi Barat, karena kerajaan di sebelah barat ini terjadi firkah-firkah yaitu pecahan-pecahan seperti kerajaan kecil yang dimulai tahun 476 M. Mulai tahun 476 M Kerajaan Romawi Barat tidak memegang peranan lagi, kecuali Kerajaan Romawi Timur (Eastern Roman Empire) yang berdiri tahun 474 M sampai tahun 1453 M. Oleh karena ibukotanya Byzantium, maka sering Kerajaan Romawi Timur ini disebut dengan nama Kerajaan Byzantium (Byzantine Empire). Daerah kerajaan Byzantium ini meliputi negeri-negeri Mesir, Palestina, Turki dan Syria (juga Lebanon, Jordan dan Irak sekarang), nanti meliputi juga Persia (Iran). Daerah-daerah mana kemudiannya dan sampai kini menjadi kawasan yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

●●●

   Ketika agama Islam baru lahir dimana pemeluknya masih sedikit, maka ketika itu pulalah disebelah utara tanah Hejaz (tempat kota Makah berdiri) terjadi pertempuran dahsyat antara kedua adikuasa dalam rangka memperluas pengaruh dan tanah jajahannya. Dalam peperangan itu dimenangkan oleh Kerajaan Persia.

   Kekalahan Romawi ini membuat kaum Musyrikin Makah bersukaria. Keyakinan akan ‘kemusyrikan yang benar’ menjadi lebih kokoh lagi dari yang sebelumnya. Semula mereka (kaum Musyrikin Makah) menyangka di kemudian hari mereka akan tergeser oleh kaum Muslimin yang berkeyakinan tauhid (lawan kata dari keyakinan Musyrik atau mensyerikatkan Tuhan adalah Tauhid - mengesakan Tuhan).

   Dengan itu kaum Musyrikin Makah ini berkeyakinan sangat bahwa Islam akan pasti tidak akan berkembang lagi. Karena akan ditinggalkan penganut yang sudah ada (apalagi masih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan Musyrikin Makah yang mayoritas dan solid itu), dan kemudiannya akan mati seperti Kerajaan Romawi yang kalah perang itu.

   Sebaliknya kejadian kalahnya Romawi ini yang membuat naik daunnya moral kaum Musyrikin semakin menguat dan bertambah kokoh. Dengan itu tambah membuat dukacita kaum Muslimin. Bahkan membuat jatuh moral umat Islam saat itu. Kok Ahlul Kitab (Romawi) bisa dikalahkan oleh kaum Musyrikin (Persia)? Bagaimana dengan iman Islam kita? Dimanakah kebenaran Tuhan ini? Apakah benar bahwa ada Islam yang datang dari Allah yang mengatasi dari agama yang percaya dengan api sebagai Tuhannya (Musyrik), kok kenyataannya bisa berjaya?

      Disaat keadaan iman Islam kaum Muslimin yang masih relatif baru lagi sedikit jumlahnya itu mengalami kegoncangan dahsyat yang tidak terperikan (seolah-olah tali kuat silaturahimnya dengan Allah selama ini yang telah mulai bersemi), tiba-tiba rapuh tak berarti sama sekali. Maka, pada saat-saat genting seperti itulah ayat-ayat surat ar-Rūm ini diturunkan Allah Azza wa Jalla untuk mengokohkan kembali moral kepercayaan (yang telah merosot tajam dan mulai cenderung roboh itu) agar tegak dan mengakar kembali di hati kaum Muslimin.

   Bukan fakta sejarah saja yang mencatat bangsa Romawi Nashrani dalam peperangan yang hebat itu dapat dikalahkan oleh bangsa Persia yang Musyrik ketika itu, tapi lebih-lebih lagi dinukilkan oleh ayat al-Qur’an. Kemudiannya kita tahu bahwa kejadian itu sangat strategic bagi masa depan agama Islam yang perlu mendapat keteguhan langsung dari firman-Nya itu. Mari kita simak ayat 2 dari surat ar-Rūm ini sebagai berikut:

Gholibatir Rūm
Telah dikalahkan bangsa Romawi,

Di daerah atau tempat manakah bangsa Romawi ditaklukkan oleh bangsa Persia? Hal ini diterangkan lagi pada ayat 3 berikutnya dalam surat yang sama, pangkal ayatnya berbunyi:

Fī adnal ardhi,
di negeri yang terdekat,

Yang dekat dari Makah itu adalah sebelah baratnya adalah Palestina sebelah timurnya adalah Syria. 1 Kedua daerah itu selama ini menjadi jajahan Byzantium (Romawi Timur). Kekalahan bangsa Romawi sangat meremukkan hati perasaan bangsa Romawi. Sebab Kayu Palang Pusaka tempat menyalib Nabi Isa as menurut kepercayaan mereka, telah pula menjadi rampasan perang yang kini menjadi milik bangsa Persia. Tetapi ujung ayat ini memberi obat penghilang duka cita yang dialami serta memberikan kepercayaan teguh akan kemenangan bangsa Romawi kepada kaum muslimin Makah.

Wa hum mim ba’di ghalabihim sayagh-libūn
Dan mereka (bangsa Romawi) sesudah dikalahkan, akan menang.

   Bila mereka akan menang? Pertanyaan ini mendasar sekali, karena rasa cemas kamum Muslimin yang belum berdaya itu ingin kepastian waktu dari Tuhan Rabbul ‘Alamin. Sebentar lagi, besok atau seratus tahun lagi, yang terlalu lama. Isi hati kaum Muslimin yang masih berada di bawah sadar itu sudah diketahui Allah swt. 2  Kepastian waktu itu kemudian diberitahukan Allah seperti pangkal ayat 4 surat ar-Rūm ini:

Fī bidh’i sinīna
Dalam beberapa tahun (lagi) 3

   Apakah memang benar demikian? Kebenaran perkiraan waktu itu disangsikan (memang pantas disangsikan), karena belum kejadian. Terutama kaum Musyrikin Makah tidak mempercayai sama sekali. Kecuali dalam hal ini Abu Bakar ra sangat percaya bahwa pasti bangsa Romawi (yang telah kalah itu) dalam perang berikutnya akan menang atas bangsa Persia dalam antara 3 dan 9 tahun itu. Ia yakin benar dengan kata-kata Rasul Allah saw itu, karena itu dari wahyu Allah Azza wa Jalla.

   Sikap dan kepercayaan Abu Bakar ra ini dicemoohkan oleh kaum Musyrikin, sampai-sampai kaum Musyrikin Makah mengajak bertaruh Abu Bakar ra sebanyak 100 ekor onta. Hal itu dilakukannya karena mereka yakin betul bahwa bangsa Persia yang Musyrik itu akan berjaya selamanya dan Romawi yang Nashrani tidak bangkit lagi. ©AFM


Bersambung ke: Pelajaran dari Roma (III)


Catatan kaki:
1Kalau disebut Palestina dan Syria dulu kala maksudnya adalah daerah-daerah yang kini  bernama Israel, Palestina, Jordania, Lebanon, Syria dan Irak. Sedang Persia adalah Iran.
2Dia Allah, tiada Tuhan selain Dia. Maha Mengetahui perkara yang ghaib (tersembunyi) dan yang syahādat (terang, nyata). [QS al-Hasyr 59:22]
3Diantara 3 sampai 9 tahun.

Blog Archive