Monday, January 19, 2015

Umat Mesti Bersatu 2



Oleh: A. Faisal Marzuki




  • Bersatu dimulai dari cara berfikir. Dari situ mulai menjadi satu cara pandang. Dari cara pandang yang satu menimbulkan cara penanganan yang sama. Maka, terbentuklah Umat Yang Satu.
  • Bagaimana  gambaran bentuk Umat Yang Satu itu? ”...dan (seperti yang ada) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” [QS Adz-Dzāriyāt 51:21]



K
eith Devlin 1 memandang bahwa hidup manusia itu hendaknya seperti berkehidupannya alam cosmology. Yaitu tertib, disiplin dan harmonis. Tidak berbenturan, masing-masing berjalan menurut garis edarnya. Benda alam seperti bumi dan delapan planet yang lainnya. Benda-benda ini ’hidup’ dalam tertib yang berdisiplin. Begitu pula antar sesama bintang,  hidup dalam kelompok galaxy (kelompok bintang) yang anggotanya berjumlah ribuan milyar. Begitu pula antar sama galaxy (yang banyaknya milyaran galaxy). Cara hidup benda-banda alam yang teratur, tertib dan berdisiplin ini mencengangkan Devlin. Katanya kenapa kita manusia sesama antar manusia tidak hidup seperti itu!

   Species Manusia seperti kita sekarang ini yang telah hidup selama 10-an millennium ini terutama di mellennium ke-3 berdasarkan penanggalan tahun Syamsiyah ’common era’  2  masih dalam keadaan hidup yang hingar-bingar dalam firkah-firkah sesama umat. Blok-blok antar sesama bangsa yang mudah meledak dalam bentuk kalau tidak teror atau perang. Tukas Devlin kenapa kita masih menggunakan cara pandang hidup ala logika yang dibangun Descartes 3, kenapa tidak seperti alam coslomogy hidup yang berdisiplin, tertib dan harmonis itu.

   Pandangan hidup berdasarkan cosmology ini telah disebutkan 14 abad yang lalu dalam surat Āli-’Imrān: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ’orang yang berakal’ (ulil-albab, yang jeli melihat apa arti dan manfaatnya alam raya di raya ini – alam cosmology). 4

●●●

   Telah disebutkan secara tegas (eksplisit) dalam firman Allah Azza wa Jalla yang menerangkan bagaimana sebenarnya gambaran bentuk ‘Umat Yang Satu’ itu, yaitu seperti apa yang ada pada dirimu (dalam tubuhmu) sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan. 5 Maksudnya adalah apa yang mesti dapat dipetik pelajaran dari keadaan yang ada di dalam tubuhmu sendiri itu.

   Untuk memahami ayat tersebut dengan baik maka dapat kita ambil dari ’science’ (baca saiyn) biology dari tubuh manusia yang menerangkan bahwa jasad tubuh manusia merupakan kumpulan sel-sel hidup seumpama ’tembok’ atau ’dinding’ rumah yang terdiri dari susunan batu-bata. Satu batu bata mempunyai ’share’ terjadinya tembok yang kuat dan kokoh sebagai pelindung yang melindungi apa yang terdapat di dalam bangunan itu. Namun cara kerjanya sedemikian rapihnya. Individual sel hidup ini bekerja saling topang-menopang satu sama lainnya menurut fungsinya masing-masing dalam koordinasi yang rapih. Bekerja dengan kesadaran masing-masing. Bekerjanya secara otomatis dan serentak ’in time’ sebagaimana suatu proses kerja yang mesti dijalani, tanpa saling menunda dan tanpa yang satu asyik menganggur dan yang lainnya bekerja. Semuanya aktif bekerja menurut fungsi dan tugasnya.

   Ahli biologi melukiskan berdasar penelitiannya sebagai berikut: Tubuh manusia mengandung miliayaran sel yang dirakit menjadi jaringan (lapisan) dan organ (kumpulan lapisan-lapisan). Kebanyakan sel manusia dapat dilihat dengan alat mikroskop. Sel yang terbesar adalah sel telur (ovum). Besarnya lebih kecil dari (diameter) rambut manusia. Sementara itu yang terkecil adalah sel sperma yang besarnya kurang dari satu-pertiga juta meter (1/3,000,000,000 mm).

   Pada tingkat kumpulan-kumpulan antar sel, tubuh manusia layaknya seperti suatu kota besar sebagaimana suatu cerita fiksi ilmiah. Tidak ada kota (kumpulan sel-sel) yang lebih besar dan kompleks serta efisien seperti yang diselenggarakan oleh kumpulan sel-sel dalam tubuh manusia ini. Seribu atau lebih jenis sel yang kita miliki ini, bekerja dalam harmonis satu sama lainnya. Luar biasa cara kerjanya, untuk mengatur semua kegiatan. Dimana satu sama lainnya memiliki kepentingan bagi suatu kehidupan bersama, seperti produksi pengolahan makanan bagi kehidupan sel-sel yang dikerjakan oleh sel-sel itu sendiri; penyimpanan bahan-bahan (cadangan) kebutuhan hidup sel-sel; perbaikan dan pemeliharaan; transportasi kebutuhan hidup sel-sel dan pembuangan limbah atau ampas yang dilaksanakan oleh sel-sel itu sendiri; sistim pengawasan dan pertahanan dari bakteri dan virus yang mengancam tubuh manusia; komunikasi dan manajemen kerja yang rapih. 6

   Demikian terorganisirnya kegiatan dan cara kerja sel-sel di dalam tubuh, demi menopang kehidupan tubuh manusia sebagai cangkang ruh yang ada di dalamnya. Mereka bekerja independen tanpa diperintah manusia. Nah gambaran bentuk hidup ‘Umat Yang Satu itu’ yang diisyarakat oleh ayat firman Allah Azza wa Jalla “Wa fī anfusikum afalā tubshirūn”. Umat Yang Satu hidupnya seperti apa yang ada pada diri tubuh fisikmu sendiri yang telah dipaparkan seperti diatas. Maka apakah kamu tidak memperhatikannya untuk mengambil pelajaran - maksudnya mencontohnya - sebagaimana ’perintah-Nya’. Demikian Rahman dan Rahim-Nya, Dia, bagi manusia dalam keteraturan (tertib, harmonis, disiplin dan bergiat dalam hidup). Demikian pula hendaknya kita. Bentuk hidup ’Umat Yang Satu’ seperti itu memungkinkan peran umat sebagai ’agent of development’ dan ’agent of change’ 7 akan dapat meraih kesuksesan yang sangat berarti bagi sesama umat dan berimbas pula bagi umat lainnya (Islam sebagai rahmatan lil ’alamīn).©AFM


Kembali ke: Umat Mesti Bersatu 1


Boleh juga dibaca tajuk ini, “Kedudukan Manusia di Bumi 6”
 


Catatan kaki:
1Keith Devlin, Goodbye Descartes, The end of logic and the search for a new cosmology of the mind, John Wiley & Sons, Inc. Keith Devlin Ph.D. adalah Senior Researcher pada Stanford University’s Center dalam bidang studi Bahasa dan Komunikasi.

2Penulis tidak menggunakan tahun masehi, karena tahun kelahiran Isa as itu tidak jelas, walaupun Paus Benecditus XVI menyatakan -sebagai koreksi- bahwa penghitungan tahun Yesus yang selama ini diyakini keliru. Yesus lahir beberapa 6 atau 4 tahun lebih awal dari tahun yang selama ini diyakini. Begitu pula tempatnya bukan di Bethlehem (Bait Lahim) melainkan di Nazareth, kedua kota atau daerah itu terletak di Palestina. Begitu pula tanggal lahirnya bukan 25 Desember yang diyakini selama ini.
3Rene Descartes (1596-1650) seorang yang terkenal sebagai ahli filsafat [juga ahli ilmu pasti, ilmu mekanika, ilmu alam dan kedokteran] yang baru bangun dari tidur kesadarannya (consciousness), apa katanya ‘cogito ergo sum’ [ketika itu bahasa Latin di Eropah menjadi bahasa Ilmu dan Kitab Injil] yang artinya ‘saya berfikir, maka saya ada’. Makanya ‘dunia’ itu diadakan (maksudnya terpahami) kalau kita pikirkan atau kita sadari. Kalau kita sadari ‘ada’, maka ‘adalah dia’. Sebaliknya kalau kita tidak sadari ada, maka tidak ada. Jadi dunia ini tergantung dari kita, kesadaran kita dengan adanya atau tidak adanya sesuatu dihadapan kita. Suatu cara pandangan hidup yang sangat subjektif sekali.
4[Āli-’Imrān 3:190]

5Firman Allah Azza wa Jalla: ”Wa fī anfusikum afalā tubshirūn” artinya: ”dan (seperti) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (apa yang dapat dipetik dari keadaan yang ada di dalam tubuhmu sendiri)? [QS Adz-Dzāriyāt 51:21]

Ayat tersebut diatas didahului oleh ayat yang dipaparkan-Nya sbb: ”Dan di bumi ini terdapat tanda-tanda (ayat-ayat yang dapat dipetik atau dipelajari guna diambil pelajaran hidup - yang merupakan hasil dari kesempurnaan ciptaan atas kekuasaan-Nya yang Maha Sempurna) bagi orang-orang (yang mengerti dan) yang yakin”. [QS Adz-Dzāriyāt 51:20]

”...dan (juga seperti itu pula) pada dirimu (di dalam tubuhmu) sendiri. Maka apakah kamu tidak perhatikan?” [QS Adz-Dzāriyāt 51:21]

6 As the basic units of life, cells are the building blocks of all living things. While the simplest organisms get by with just one cell, the human body contains billions assembled into tissues and organs. Most human cells are microscopic. The largest, the ovum or eggs, is  narrower than human hair, while one of the smallest, the sperm cell, is less than three millionths of 1m (31/2 ft across) or three billionths of 1mm (1/3,000,000,000 mm)

At the cellular level, the human body has been compared to a vast city. But outside the pages of science fiction, no city is as large, complex or efficiently organized as the human body. The thousand or so different types of cell we possess work in superb harmony to regulate all the possess essential for life—food processing, production and storage; repair; transport and waste disposal; surveillance and defense; communication and administration.

7Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan bagi manusia. (Karena) ● Menyuruh kepada yang ma’ruf (mengerjakan kebajikan – ‘agent of development’) ● Mencegah dari yang berbuat mungkar (mengganti dengan perbuatan yang lebih baik – ‘agent of change’) ● (Karena) Beriman kepada Allah (dan berdasarkan ajaran Islam). [QS Āli ‘Imrān 3:110]□□□

Sunday, January 11, 2015

Umat Mesti Bersatu 1



Oleh: A. Faisal Marzuki




  • Bersatu dimulai dari cara berfikir. Dari situ mulai menjadi satu cara pandang. Dari cara pandang yang satu menimbulkan cara penanganan yang sama. Kemudian tidak mudah dipecah belah. Maka, tebentuklah Umat Yang Satu.





A
da sebuah pepatah lama menyatakan: “Rambut sama hitam, tetapi pendapat berlainan". Artinya dengan itu cikal-bakal 'kebebasan berfikir' telah ada. Sekarang masalah ini menjadi barang biasa pada gelombang ke-3 sejarah Indonesia (orde reformasi). Tidak demikian sebelumnya pada gelombang ke-1 (orde lama), gelombang ke-2 (orde baru). Orde reformasi siapa saja bebas berbicara semaunya. Apalagi masyarakat Indonesia dan keturunannya yang tinggal di Amerika Serikat ini, menikmati betul. Hidup kesehariannya seperti itu. Demikianlah ciri-ciri manusia di dunia moderen ini. Konon demikianlah 'takdir' (maunya) manusia hidup di bumi yang fana (sementara) ini.

   Yang menjadi persoalan disini dari anak keturunan Adam as - kita ini adalah 'sebab' dari berlainan pendapat dalam alam 'kebebasan berfikir' ini membawa 'akibat' kepada kebaikan atau keburukan?

   Mari lihat dengan seksama melalui kacamata 'azaz manfaat'. Kebaikan, yaitu 'membangun', untuk kemashalatan bersama. Dengan itu, indah dan kokohlah 'tatanan umat' itu. Sebaliknya 'keburukan', yaitu 'terpecah belah' yang mungkin menguntungkan yang satu dan merugikan yang lain, bahkan bisa kedua-duanya, 'merugi'. Suatu hal yang catastrophic (malapetaka yang sangat besar). Maka, sia-sialah rencana 'tatanan umat' itu, bagai tanah longsor melorot-lunglai dari pebukitan yang jatuh kedasar lembah.

   Begitulah dilema hidup umat itu jika tidak jeli dan cerdas dalam menyikapi kebebasan berfikir kalau tanpa ada melibatkan petunjuk dari ‘ATAS’. Perlu diketahui bahwa perkara kebebasan berfikir ini adalah perkara yang sangat besar, dan tidak semata-mata hanya untuk berbangga diri. Hanya kebebasan berfikir saja yang diagung-agungkan, tapi lupa dan hilang 'akal budi' bahwa berfikir itu adalah untuk mencari 'kebenaran' yang menuju ke 'kebaikan'. Bahwa ada faktor utama lainnya yaitu, Dia (Allah) Yang Mahatahu. Karena Dia melihat dari ATAS, sebagaimana 'GPS' yang menunjukkan jalan sampai ke tujuan yang dimaksud. Allah 'RABB' alam semesta. Allah Pencipta (Master of Mind) dari ummat manusia. Allah Mahatahu apa yang menjadi kebutuhan umat yang sebenarnya. Boleh jadi apa yang menurut manusia baik, tapi menurut Allah tidak. Sebaliknya boleh jadi apa yang menurut Allah baik, bagi manusia "menyangka dan merasa" tidak. Carilah hikmahnya (dibalik peristiwa yang ada) wahai umat yang bijak lagi cerdas!

   
Last but not lease bagi yang mengikuti petunjuk-Nya, hasilnya akan 'pasti' membawa ke keketinggian martabat dan kejayaan umat itu sendiri. Bagi yang mengingkari nikmat-Nya, 'pasti' akibatnya menuju ke lembah kesengsaraan umat itu sendiri."

 Sebagaimana firman-Nya:
  •  Lahā mā kasabat wa ‘alayhā māk-tasabat
  • Dia mendapat (pahala, kenikmatan) dari kebajikan [kebaikan] yang dikerjakannya, dan dia mendapat (siksa, kesengsaraan) dari (kejahatan, keburukan) yang diperbuatnya. [QS Al-Baqarah 2:286]

Artinya di sini adalah yang dituntut dari umat yang melakukan kebebasan berfikir dalam mengemukakan pendapatnya mesti mempunyai tujuan yang baik dan bijak, kemudian dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Kenapa demikian? Karena hasil atau risikonya berpulang kepada umat juga. Umat mendapat kenikmatan dari kebaikan yang dikerjakannya (hasil, benefit). Sebaliknya umat mendapat kesengsaraan dari keburukan yang dilakukannya (keburukan, risiko).

Pangkal surat An-Nahl ayat 93 dalam firma Allah Azza wa Jalla menyebutkan:
  • Wa law syā-alLāhu laja’alakum ummataw wāhidatan ● walākiy yudhillu mayyasyā-u ● wa yahdī may yasyā-u,
  •  “Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya dijadikan-Nya kamu (Wahai  kaum beriman! Menjadi) semuanya umat yang satu. Tetapi disesatkan-Nya barang siapa yang dikehendaki-Nya, dan diberi-Nya petunjuk barang siapa yang dikehendaki-Nya.”
   
   Dapatlah kita mengambil pelajaran disini bahwasanya Allah Ta’ala berkuasa membuat umat khalifah-khalifah menjadi satu. Seperti halnya: Tidak ada berselisih pendapat; Tidak ada pebedaan yang menjurus kepada perpecahan; Tidak ada suatu pertikaian yang menjurus kepada yang satu mengharamkan yang lainnya; Tidak pecah dalam memandang sesuatu untuk kepentingan umat; Tidak mudah dipecah belah dari luar. Tapi itu semua tidak serta-merta (secara instan) untuk mendapatkannya.

Kenapa demikian? Karena manusia di beri kebebasan untuk memilih, tentunya tidak asal memilih. Pada dasarnya manusia ada rasa fitrah diri yang satu dengan satu lainnya, bersatu dalam jamaah. Namun mesti ada kesadaran bahwa jamaah itu memang datang dari diri masing-masing, selanjut berproses mencapai umat yang satu. Dan ini mesti ada kesadaran pengupayaannya untuk menjadi satu jamaah bulat, kompak, yang tergerak secara spontan mesti bersatu. Kenapa mesti ada kesadaraan pengupayaan menjadi satu dalam jamaah? Karena di diri manusia dalam berfikir (pada awalnya) dikendalikan oleh adanya rasa melindungi dan mempertahankan “kepentingan diri sendiri atau kelompoknya”. Para ahli psychology menyebutkan adanya unsur "Ego" atau "Aku" dalam diri jiwa manusia. Demikianlah Allah Ta’ala mentakdirkan bahwa fikiran manusia 'dalam keadaan itu' (menjadi) tidak sama dalam Ego masing-masing dari diri manusia.

   Dijelaskan oleh firman-Nya bahwa dalam berfikirnya itu ada yang sesat (negatif), yaitu hanya untuk diri atau kelompoknya saja yang difikirkan disatu pihak. Dilain pihak, ada yang mendapat petunjuk (positif), yaitu memikirkan kemashlahatan bersama. Di sini terjadilah ujian yang sangat pelik dan berat dari 'kebebasan berpikir itu'. Baik atau tidaknya hasilnya tergantung dari penggunaan timbangan azaz manfaat. Kalau tidak, maka akan timbul hasil yang tidak diharapkan, yaitu pergesekan dan pertentangan di antara satu sama lainnya demi diri (kelompok). Padahalnya yang diharapkan itu adalah untuk (persatuan) bagi  kemashlahatan (bersama) sebagai manusia 'Sosial' ketimbang manusia 'Ego'.

   Dalam diri manusia sebenarnya, disamping ada takdir 'Ego', ada pula takdir 'Sosial', yaitu hidup bermasyarakat. Sebenarnya keselamatan 'Ego' bergantung kepada relasi baik antar sesama 'Ego' lainnya. Oleh karena itu hakekat yang sebenarnya tentang manusia itu pada dasarnya adalah sebagai makhluk sosial, yakni melakukan relasi (hubungan sesama 'Ego') dalam persatuan bagi kemashlahatan bersama sebagaimana maksud firman-Nya dalam surat An-Nah ayat 93 (seperti diatas itu).

    Mencapai kepada ummat yang (menjadi) satu 'yang damai' itu sangat perlu adanya ‘latihan’ (pembelajaran) dari 'takdir Ego' menjadi mampu hidup di dalam 'takdir Sosial'. Perangkat keberhasilannya adalah komunikasi dan relasi dalam semangat lita'arafu (saling kenal mengenal, saling hormat menghormati, respect each others). Dibarengi pula dengan adanya kemampuan dalam menahan diri (pengendalian 'Ego', sabar, dan toleransi dalam hal yang remeh-temeh furuiyah).

   Demikianlah perjalanan diri umat dalam bersosial jamaah yang satu akan selalu diuji, dan di uji lagi, dan seterusnya. Nah, keberhasilan dari pembelajaran (ujian) itu membuat diri dalam bermasyarakat, bernegara, berbangsa, berantar bangsa (menjadi) matang (mature). ©AFM


Bersambung ke: Umat Mesti Bersatu 2



Blog Archive