Saturday, February 10, 2018

Peran Intelektual Islam Al-Andalus




Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. [QS Al-Mujadalah 58:11]


D
Di kota Kordoba Al-Andalus, di masa mulai tahun 711 sampai tahun 1492, ia menjelma menjadi kota seribu cahaya. Megacity yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum, jalan-jalan aspal, lampu kota yang menambah kesan megah, jembatan-jembatan cantik, dan bangunan yang sedap dinikmati aura kegagahannya. Disini bermukim 5 juta penduduk, mewakili banyak peradaban, belajar, bekerja, berkarya dan bertukar pikiran.

Penguasanya bersemangat menimba ilmu, menghadirkan ulama, kaum intelektual dan mengumpulkan naskah-naskah ilmiah yang penting, dan dijadikan khazanah peradaban yang kelak akan dipersembahkan kepada generasi setelah mereka. Saat kemegahan itu terbentang di hadapan dunia, ia menyita perhatian masyarakat dunia. Hingga pemuda pemudi Eropa, Arab Afrika bahkan China sekalipun berbondong-bondong melakukan studi di sana. Begitulah peradaban Islam memimpin dunia, kala itu.

   Kemudiannya, kekuasaan umat Islam di Al-Andalus praktis berakhir dengan jatuhnya Granada. Namun pengaruhnya pada dunia intelektual Barat, tidak terelakkan, telah berakar kuat sampai saat ini. Dengan itu usaha menjelajah sejarah intelektual Islam zaman Al-Andalus tetap relevan sebagai refleksi kekinian dan kekitaan saat ini. Montgomery Watt memberi pandangan bahwa wajah sejarah Barat dan atau Amerika saat ini tidak lain adalah pengaruh langsung dari sejarah umat Islam Al-Andalus (Spanyol Islam).

Here an oriental culture has entered Europe and left behind magnificent architectural remains. It offers important example of close contact of diverse  culture, and one that has contributed to making Eouropean and American historian what he is. [1]

Di sini budaya timur telah memasuki Eropa dan meninggalkan sisa-sisa arsitektur yang luarbiasa indahnya. Hal ini merupakan contoh penting dari adanya hubungan yang erat antar beragam budaya, dan salah satu yang telah memberi kontribusi untuk menjadikan sejarawan Eropa dan Amerika mengenal siapa dirinya yang  sebenarnya.

   Tentu ada latar kesejarahan yang menyuburkan dunia intelektual Islam Andalusia sehingga berkembang pesat. Ada situasi sosial-politik yang melatari perkembangan: sastra; pendidikan; dan keilmuan. Ketiga ranah itu cukup menjadi penanda tumbuh suburnya dunia intelektual masa itu yang membangunkan Peradaban Manusia pasca the dark ages Eropa (Barat) abad tengah menjadi bangkit seperti sekarang ini.

Dengan batasan ketiga ranah itu, tulisan ini tidak membahas bidang-bidang peradaban lain semisal: pertanian; hukum; arsitektur; administrasi publik maupun pemerintahan; militer; armada laut; ekonomi yang juga sangat menonjol saat itu.


Kemajuan dunia intelektual di Al-Andalus yang di sebabkan dari Faktor Internal

   Sebagian besar penguasa di Andalusia yang masuk dalam line up silsilah kekuasaan di Al-Andalus adalah orang-orang yang memiliki komitmen sekaligus bakat keilmuan dan kecintaan pada sastra. Abdurrahamn I, Hisyam, Abdurrahman II dan III sedari muda adalah para pecinta ilmu dan sastra. Tidak diragukan pemerintahan mereka mendorong tumbuh kembangnya budaya keilmuan. Kelimpaham materi yang dicapai penguasa Al-Andalus dimanfaatkan untuk pengembangan dunia keilmuan dan kecintaan pada buku.



Edward Gibbon, penulis sejarah kekaisaran Romawi, membuat catatan, bahwa ia terkagum-kagum dengan kecintaan masyarakat muslim di Al-Andalus yang jauh melampui kultur Kristen zaman pertengahan yang antibuku. Di Kordoba saja ada 70 gedung perpustakaan. Khusus perpustakaan khalifah sendiri memiliki koleksi judul buku sebanyak 600.000. [2] Sumber yang lain menyatakan 400.000.


   Selain perpustakaan, sejumlah tempat-tempat penelitian, pusat-pusat kesehatan dan teknologi dibangun. [3] Kordoba benar-benar menjadi kota peradaban yang dibangun sejak Abdurrahman I dan diperluas dan semasa Abdurrahamn II dan Al-Hakam.

Pameran dan pasar buku sangat ramai. Tawar-menawar dan lelang buku di kalangan pecinta dan kolektor buku menjadikan harga buku jauh melampui harga riilnya. [4] Perpustkaan Kordoba bisa jadi semacam “The Library of Congress” di Washington saat ini. Sementara gairah akan buku masyarakatnya bisa dianalogikan dengan “Frankfrut Book Fair”, perhelatan buku terbesar di dunia saat ini. [5]

   Jika di Eropa banyak buku-buku disegel oleh gereja, pikiran-pikiran kritis dan bertentangan dengan penguasa dan gereja dibungkam seperti yang terjadi pada Copernicus dan Galileo. Lain halnya di Al-Andalus, pemikiran tumbuh subur dan kritis. Semasa Abdurrahman III, seorang khatib bernama Al-Mundzir bin Sa’id mengkritik keras megaproyek pembangunan Madinah Az-Zahra. Seorang penasihat khalifah membisiki agar sang khatib itu dipecat atau diberi sanksi. Akan tetapi, dengan besar hati, Abdurrahman III menerima kritik itu sebagai peringatan untuk dirinya. [6]

Penguasa Bani Umayyah juga terkenal dekat dan akrab dengan banyak penyair. Seringkali Abdurrahman II, misalnya mengundang sastrawan ke kediamannya. Seorang pujangga yang dekat dengan penguasa adalah Ibn'Abd Rabbih (994-1064) atau Ibn'Abd Rabbihi adalah seorang penulis dan penyair Moor yang dikenal luas sebagai penulis Al-'Iqd al-Farīd.

Pujangga besar lain yang beraliran Platonis adalah Ibnu Hazm. Puisi platonis memandang keindahan romantisme sebagai wakil dari keindahan abadi. Bagi puisi platonis, kecintaan pada dunia adalah anak tangga bagi kecintaan pada Ilahi. Cinta sejati yang  terungkap dalam puisi tidak lain adalah jalan pendakian untuk berkontempelasi pada Yang Maha Kuasa. “Love is  a means of ascent to comtempletion of Devine,” kata Stanford yang mengutip Plato. [7] 

   Ibnu Hazm (994-1064) - Abū Muhammad'Alī ibn Ahmad ibn Sa'īd ibn Hazm adalah seorang penyair Al-Andalus, polymath, sejarawan, ahli hukum, filsuf dan teolog, lahir di Kordoba, seorang kristen yang menjadi mualaf. Pernah menjabat di kabinet, tetapi kemudian mengundurkan diri dan lebih memilih jalan hidup sebagai seorang sastrawan. [8] Kordoba benar-benar menjadi enclave dan episentrum kegiatan ilmu dan satra.

Nyaris semua pengunjungnya baik berasal dari Al-Andalus maupun manca negara memberi pujian sebagai perhiasan dunia (The Ornament of World). Dicacat oleh As Sirjani, sejumlah tokoh semisal Ibnu Hauqal, Al-Idrisi, Al Himyari Abu Al Hasan bin Bassam, Ibu Al Wardi memuji Kordoba sebagai pusat bertemunya orang-orang hebat, berilmu, dan cerdas. [9]
  
Kesusastraan Islam zaman Al-Andalus, diakui mempengaruhi dunia sastra Eropa pada saat itu. Sampai saat inipun semua kritikus Don Xuisote karya Carvantes mengakui dalam karyanya ada pengaruh sastra Arab. Kekuatan prosaik Don Xuisote pun hanya bisa ditandingi oleh karya-karya Shakespeare. Secara khusus Gunawan Muhammad memberikan catatannya dan menerjemahkan satire Don Xuisote yang pernah difilmkan.

Syahdan, adegan dimulai dengan Miguel de Cervantes, penyair, pemungut pajak, dan prajurit, yang ditangkap bersama bujangnya yang setia. Jawatan Inkuisisi, lembaga Gereja Katolik Spanyol yang dengan tangan besi menjaga keutuhan umat dan iman, menjebloskan mereka ke dalam kurungan di bawah tanah. Tak ayal, dalam Calabozo yang seram itu mereka dikerubuti para tahanan lain bahwa semua milik yang mereka bawa harus diserahkan kepada Gereja. [10]

   Bersama dengan kemajuan dunia sastra di Al-Andalus, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan juga berkembang pesat. Baik ilmu agama maupun ilmu alam berkembang dengan pesat. Khusus tentang pengajaran Al-Qur’an, dalam catatan Ibnu Khaldun, masyarakat Al-Andalus sangat sadar akan pentingnya mengajarkan Al-Qur’an. Pada anak kecil Al-Qur’an diajarkan dengan kemampuan membaca. Pelajaran Al-Qur’an diberikan tanpa tambahan tafsir, tambahan pelajaran menulis pada anak-anak tersebut. Ini dilakukan untuk menancapkan kecintaan pertama kali pada Al Quran. [11]



Pada usia yang lebih remaja, mereka diajari menulis dan tatabahasa Arab. Sebagai pelajaran tambahan murid-murid diajari sejarah, tafsir Al-Qur’an, tata bahasa Arab, puisi, leksikografi dan geografi. Guru-guru mendapatkan tempat yang terhormat. Kaum wanita pun tidak banyak dibatasi untuk belajar. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pemerataan pendidikan dilakukan. Pada zaman Abdurrahman III dinyatakan bahawa tidak ada penduduk dewasa di Kordoba yang buta aksara. Kordoba juga memiliki universitas besar. Asal-mulanya adalah Masjid Kordoba  yang dibangun tidak hanya untuk tempat ibadah, tetapi juga untuk aktivitas intelektual. Boleh jadi Universitas Kordoba saat itu bandingannya adalah seperti “Sarbone University”, Perancis  atau Harvard Universiy, Amerika Serikat saat ini.

   Selain Kordoba, kota-kota Spanyol seperti Sevilla, Malaga, Granada juga juga memiliki universitas. Universitas Kordoba membuka berbagai jurusan, yaitu: astronomi, matematika, kedokteran, hukum dan teologi. Univeritas Granada yang dibangun zaman Khlalifah Nashiriah, tidak kalah dengan univeristas Kordoba, bahkan di Granada dibuka jurusan kimia menambahi jurusan yang ada di Kordoba.

Kemajuan pendidikan di kota-kota Al-Andalusia (Spanyol Islam) menjadikan kaum Yahudi mengiblat. Kurikulum pendidikan mereka tak ayal lagi berusaha mengadopsi dan menyerap tingkat perkembangan pendidikan Islam. Umat Yahudi ikut menikmati kejayaan Al-Andalus bagi kesejahteraan hidup mereka. Dalam amatan orang Yahudi, tidak hanya Kordoba yang menjadi pusat perkembangan ilmu dan budaya, kota-kota lain seperti Sevilla, Granada, Malaga berusaha keras bisa menyamai Kordoba. Sejumlah orang Yahudi yang berkibar menjadi tokoh, pujangga, ilmuwan diataranya adalah Juha Halevi, Maimondes, Joseph Ibnu Nagrela, Hasdai Ibn Shaprut. [12] Kota-kota Al-Andalus, terutama Kordoba saat itu adalah tujuan kegiatan fellowship (hubungan persahabatan dan beasiswa).


Kemajuan dunia intelektual di sepanyol yang di sebabkan dari Faktor Eksternal

   Dominasi intelektual generasi umat Islam di Andalusia, tidak pelak lagi, menjadikan bahasa Arab adalah lingua franca (bahasa pergaulan, bahasa sehari-hari) saat itu. Bahasa menjadi kiblat ilmu pengetahuan saat itu. Bahasa Latin yang sudah lama mendominasi konstelasi peradaban Eropa tergeser oleh bahasa Arab. Digambarkan oleh Menocal, bagaimana seorang Pendeta Kristen Paul Alvarus menjadi gelisah melihat kenyataan anak-anak muda penduduk asli Al-Andalus (maksudnya Spanyol) merasa lebih optimis belajar bahasa Arab.

Banyak orang Kristen juga senang mempelajari berbagai syair Arab. Tatabahasa Arab yang indah menjadi daya tarik bagi orang Kristen Eropa. “Adakah rakyat jelata yang masih mau membaca tafsir-tafsir kitab suci berbahasa latin,” begitu keluh Alvarus dalam bukunya The Unmistitakable Sign – tanda yang jelas, kepastian. [13] Gejala ini mungkin tidak jauh beda dengan kondisi masyarakat intelektual kita sekarang yang cenderung mengiblat pada bahasa Inggris.

   Universitas-universitas di kota-kota Al-Andalus benar-benar menunjukkan diri sebagai center of excellent. Jika saja saat itu sudah ada badan pemeringkatan Perguruan Tinggi sebagaimana Time Higher Education, tidak mustahil, Univeritas Kordoba akan menduduki peringkat atas jajaran World Class University. Peringkat yang saat ini diidam-idamkan dan dikejar-kejar Perguruan Tinggi seluruh dunia.



Salah satu alumnus Kordoba adalah Al-Idrisi, nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti. Dikalangan orang Eropa (Barat) dikenal dengan nama Dreses. Muhammad al-Idrisi lahir di kota Afrika Utara, di kota semenanjung Ceuta (Sabtah), Maroko tahun 1100. Dia adalah pakar geografi, kartografi, mesirologi, botani  Dia seorang pengembara yang tinggal di istana Raja Roger II. Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah di Maroko. Ia keturunan dari Hasan bin Ali, putra Ali ra, dan cucu Nabi Muhammad saw. Ia tumbuh dan besar di Ceuta dan menempuh pendidikan di Kordoba, Al-Andalus. Dan wafat tahun 1166 M di Sisilia - pulau, sekarang bagian negara Italia.

Al-Idrisi juga merupakan ahli farmakologi dan seorang dokter. Namun, minatnya yang besar pada matematika dan astronomi menjadikannya sangat ahli di bidang navigasi. Hal ini membawanya menjadi seorang yang sangat pakar di bidang geografi dan pembuatan peta (kartografi).

Buku al-Idrisi Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq merupakan sebuah ensiklopedia geografis yang berisi peta rinci dan informasi negara-negara di Eropa, Afrika, dan Asia. Dia kemudian menyusun sebuah ensiklopedia yang lebih komprehensif berjudul Rawd-Unnas wa-Nuzhat al-Nafs.

Bukunya tentang geografi sangat populer selama beberapa abad. Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Salah satu terjemahan yang di terbitkan pada 1619 M di Roma adalah sebuah edisi singkat dan penerjemahnya tidak mencantumkan nama Al-Idrisi - sebagai penemu dan penciptanya.

Eropa memerlukan tiga abad untuk memanfaatkan bola dunia dan peta dunia yang dibuat Al-Idrisi, Christopher Columbus dan Vasco Da Gama sesungguhnya menggunakan peta karya Al-Idrisi itu. Dengan peta dunia yang dibuat Al-Idrisi inilah, Christopher Columbus menemui Amerika. [14]

Sayang sekali belum ada Univeritas Islam di dunia Islam, jangan lagi UIN di Indonesia masuk dalam daftar World Class University itu. [15]


Tokoh dan Ilmuwan dalam kemajuan dunia intelektual di Al-Andalus

Dari rahim kemajuan dunia intelektual di Al-Andalus itu, lahirlah tokoh-tokoh ilmuwan muslim pengembang berbagai bidang keilmuan. Tentu tidak bisa didaftar satu-persatu. Beberapa berikut yang disebut cukuplah mewakili gambaran keunggulan warisan inteletual dan dunia keilmuan umat Islam di Andalusia. Diantara mereka yang mewakili zamannya sepanjang sejarah Islam di Spanyol adalah  Al-Zahrawi, Ibnu Khaldun, Ibnu Thufayl, Ibny Rusyd, dan Ibnu Bathutah.

   Al-Zahrawi, adalah dokter ahli bedah semasa kekuasaan Al-Hajib Al-Muzaffar.  Al-Zahrawi pula yang memperkenalkan pada dunia medis modern alat-alat bedah, prinsip-prinsip pembedahan yang mengikuti jalur pembuluh darah dan menemukan benang jahit paskabedah. [16] Ibnu Khaldun (1332-1406) mengulas sejarah dan sosiologi dengan melihat faktor fisik demografis dan spritualitas yang berpengaruh kuat pada dinamika kesejarahan bangsa Arab dan Berber (Moor, bangsa Afrika Utara kulit hitam).

   Ibnu Thufayl seorang dokter juga seorang filsuf besar. Selain dokter istana, ia adalah penasihat Dinasti Muwahhidun, tepatnya Khalifah Abu Yaqub Yusuf. Ia sorang penganut paham neoplatonis. Ia belajar kedoktern di Granada. Karya filsafatya ditulis scara prosaik: Hayy ibnu Yaqdzan (Hidupnya Anak Kesadaran; Arabic: حي بن يقظان‎ "Alive, son of Awake"; Latin: Philosophus Autodidactus "The Self-Taught Philosopher"; English: The Improvement of Human Reason) adalah judul karyanya. Buku itu selian komtemplatif juga mengibur. Buku itu memuat gagasan. Bahwa salah satu kapasitas akal manusia adalah mengetahui tanpa bantuan sedikitpun dari luar. Ilham, pengetahuan rohani, ide-ide spiritualisme bisa diraih tanpa bantuan (melalui) panca indra. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Latin pertama kali oleh Edward Pococke. Gaya menulisnya konon mirip dengan pendahulunya Ibnu Sina, tetapi inspirasinya berasal dari Al-Farabi.[17]

   Ibnu Rusyd (1126-1198), selain dokter dan hakim, ia tekenal terutama di kalangan Barat karena ulasanya tentang Arsitoteles. Nalar Barat terbantu dalam memahami alam pikiran Yunani terutama karya-karya Aristoteles berkat ulasan-ulasan Ibnu Rusyd. Ia hidup semasa Ya’qub Al-Manshur salah satu penguasa Dinasti Muwahhidun.

Di dunia Islam, pandangan-pandangan Ibnu Rusyd dikenal bertentangan dengan pandangan Al-Ghazali. Dalam perkembangan sejarah berikutnya, Al-Ghazali lebih diakrabi oleh kaum muslimin di belahan Asia dan Afrika. Sementara orang-orang Kristen Barat mengiblat pada Ibnu Rusyd. Andai saja umat Islam dalam kesejarahan mutakhir bisa melakukan elaborasi yang seimbang pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, mungkin saja akan berdampak lain pada wajah peradaban umat Islam hari ini.

   Ibnu Bathutah (1304-1377), sebenarnya ahli fikih, tetapi pengembaraannya menjadikannya terkenal karena catatan demografi, etnografi dan geografi dari wilayah-wilayah yang dikunjuginya dari Afrika, India, China, Konstantinopel dan ke Al-Andalus. [18] Dalam perjalanannya dari Delhi ke China, Ibnu Bathutah, singgah di Samudra Pasai (Nusantara, Indonesia) pada tahun 1345. Saat itu penguasa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Sultan Malikus Zahir. [19]


Penutup

   Demikian dalam pembahasan kemajuan dunia intelektual yang “par excellence” di Al-Andalus yang mendunia di Abad Tengah - Abad Keemasan Peradaban Islam yang berasal dari penduduk Timur Tengah yang pengaruh sangat terasakan.

Seperti halnya dari Al-Khwarizmi dengan algoritmanya, dunia bisa mengenal komputer, ATM, medsos bahkan sampai game (dan video, foto, tv dan film, kalkulator, map serta GPS, google dan adzan) yang ada di smartphone yang jamak dipakai oleh para penggunanya. Peradaban-peradaban Romawi Kuno, Jepang, Tiongkok, Korea, bahkan India tidak mengenal asas Algoritma itu. Maka, sesungguhnya, dunia berhutang budi kepada intelektual pada zaman keemasan peradabaan Islam. [20]  Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Catatan Kaki:
[1] William Montgemary Watt and Pieere Cachia, A History of Islamic Spain (Eidenburg: Eidenburg University Press, 1997), 1.
[2]  Maria Rosa Menocal, Sepotong Surga di Andalusia, 39.
[3] Janes S. Gerber, The Jews of Spain: A Historic of Sephardic Experoence (New York: McMillan, 1994),29.
[4] Philip K. Hitti, The History Arabs, 717.
[5] Tentang bergengsinya pameran buku di Frankfrut Jerman Dorothea Rosa Herliany, penyair Indonesia yang tinggal di Jerman, menggambarkan dalam artikelnya ”Frankfurt Book Fair: Pentingnya Sastra di Sebuah Bangsa”, Kompas, 6/10/2013.
[6] Roghib As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 22.
[7] Stella Stanford, Plato and Sex (Cambridge, USA: Polity Press, 2010) 27.
[8] Philip K. Hitti, The History of Arabs, 710.
[9] Rogib, As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 367.
[10] http://goenawanmohamad.com/2010/08/23/majenun/
[11] Ibnu Khladun, Muqoddimah, terj. (Jakarta: Al Kaustar, 2001) 1003.
[12] Janes R. Gerber, The Jews of Spain: A History of Sephardic Experience (Macmillan, 1994), 36-38.
[13] Maenocal, Sepotong Surga di Andaluisa, 77
[14] Al-Idrisi Pencipta Peta Dunia, A. Faisal Marzuki (blog)
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2015/11/al-idrisi-pencipta-peta-dunia-1.html
[15] Soal ulasan capaian peringkat PT Indonesia dan sejumlah PT dunia yang berhasil menembus daftar World Class University, “Bambang Cipto, Di Balik Terpuruknya Peringkat PT” (Kompas: 14/10/2013).
[16] Roghib, As Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, 328.
[17] Hitti, History ofArabs, 742.
[18] Ibid, 839.
[19] Ensiklopedia Islam (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1996 ) 249.
[20] Makna Akhlaq, A. Faisal Marzuki (blog)
https://afaisalmarzuki.blogspot.com/2018/02/makna-akhlaq.html


Sumber:
sejarahislamarab.blogspot.com
id.wikipedia.org
afaisalmarzuki.blogspot.com □□

Friday, February 9, 2018

Sebab-Sebab Berakhirnya Al-Andalus







“Maka ceritakanlah (kepada mereka - ummat Muhammad di kemudian hari) kisah-kisah itu (sajarah umat-umat terdahulu) agar mereka berpikir.” [QS Al-A’rāf 7:176]


MUKADDIMAH


A
Ada catatan emas sejarah sekaligus kelamnya di semenanjung itu, semenanjung Iberia namanya, di selatan benua Eropa. Selama 8 abad lamanya kaum muslimin menghadiahkan peradaban besar nan memukau di dunia barat, justru ketika Eropa berada dalam gelap gulita inkuisisi, begitu kerasnya otak pendeta tak mau menerima pengetahun ilmiah, dan penyakit menular disebabkan kotornya cara hidup mereka.

Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejak Pertempuran Guadalete, ketika pasukan Umayyah pimpinan Thariq bin Ziyad mengalahkan orang-orang Visigoth (berasal dari Jerman) yang menguasai Iberia (Spanyol dan Portugis sekarang). ● Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750) yang berkedudukan di Baghdad (Iraq sekarang), ● lalu berubah menjadi sebuah Keamiran (750-929), ● selanjutnya sebuah Kekhalifahan sendiri (929-1031), ● dan akhirnya terpecah menjadi "taifa" yaitu kerajaan-kerajaan kecil (1031-1492).

   Di kota Kordoba, di masa antara tahun 711 sampai tahun 1492, ia menjelma menjadi kota seribu cahaya, Megacity yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum, jalan-jalan aspal, lampu kota yang menambah kesan megah, jembatan-jembatan cantik, dan bangunan yang sedap dinikmati aura kegagahannya. Ada 5 juta penduduknya, mewakili banyak peradaban, belajar, bekerja, berkarya dan bertukar pikiran.



Penguasanya bersemangat menimba ilmu, menghadirkan ulama, kaum intelektual dan mengumpulkan naskah-naskah ilmiah yang penting, dijadikan khazanah peradaban yang kelak akan dipersembahkan kepada generasi setelah mereka. Saat kemegahan itu terbentang di hadapan dunia, ia menyita perhatian masyarakat dunia. Hingga pemuda pemudi Eropa, Arab Afrika bahkan Cina sekalipun berbondong-bondong melakukan studi di sana. “Begitulah peradaban Islam memimpin dunia, kala itu”.

   Namun di tulisan ini, kita ingin bertanya satu hal sederhana: Mengapa hari ini Islam seakan-akan tidak pernah ada di Spanyol? Mengapa hari ini sedikit sekali penduduk Spanyol yang muslim? Itulah yang banyak dipertanyakan dan dicari akar masalahnya hingga hari ini. Dan berikut sekelumit alasan sebab-sebab di antara ratusan faktor mengapa peradaban Islam di Andalusia (Spanyol hari ini) hilang bak ditelan kelam. Kalau ada pun hanya meninggalkan reruntuhan puing-puing yang bergeletakan disanasini di tanah yang tak terurus lagi. Beruntung sebahagiannya direstorasi sebagian perlindungan dari khasanah  warisan dunia yang "excelence" oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa – UNESCO World Heritage.


Ziryab - Sang Penyanyi yang Melenakan Umat

   Disebutkan dalam salah satu majelisnya, Dr. Raghib As-Sirjani, seorang Sejarawan Islam terkemuka menanyakan kepada hadirin dalam pembahasan sejarah Islam di Spanyol tentang sebuah nama - Ziryab. “Apakah kalian tau siapa itu Ziryab?” Tanya Dr. Raghib kepada hadirin. Lalu kemudian beliau sebutkan bahwa Ziryab adalah salah satu “faktor besar yang menyebabkan kejatuhan peradaban Islam di Spanyol.”

   Siapakah Ziryab? Dia adalah seorang penyanyi Baghdad yang besar di sana. Bersama Gurunya, Ibrahim Al-Maushili yang juga guru besar musik, Ziryab dididik menjadi seorang pemusik yang menyanyikan lagu-lagu melenakan di hadapan khalifah di masa itu. Nyanyian yang ia dendangkan semakin hari membuatnya terkenal, sehingga sang Guru, Ibrahim Al-Maushili iri padanya.

Ibrahim Al-Maushili kemudian membuat sebuah rencana dan tekanan kepada Ziryab agar ia pergi dari Baghdad dan tidak lagi menyaingi popularitas gurunya. Berbagai hal ia lakukan sehingga Ziryab putus asa. Ziryab akhirnya melihat keadaan kaum muslimin dari ujung barat sampai ujung timur dan menimbang-nimbang kemana ia akan berpindah. Maka pilihannya jatuh di Andalusia. Sebuah wilayah kaya yang akan menghasilkan banyak uang untuk dirinya.

   Akhirnya Ziryab berangkat dari Baghdad menuju Andalusia, berbekal alat musiknya dan pengetahuan tentang hikayat serta syair-syair puitis, ia yakin akan mendapatkan nama besar di Andalusia. Inilah awal-awal masa melenakan bagi Umat Islam.

Sampai di sana, saat itu Negeri Andalusia tak tahu menahu apa itu nyanyian. Ketika Ziryab datang ke sana, Masyarakat takjub padanya dan menyambutnya dengan semarak. Akhirnya sampailah ia di hadapan Khalifah, menyanyikan lagu-lagu terbaiknya, mendatangi pertemuan masyarakat dan bersyair dengan kelihaiannya. Ia keluarkan apa yang ia dapat dari gurunya untuk mendapat popularitas di Andalusia.

   Tak hanya nyanyian, Ziryab mulai memasuki babak baru, yaitu mengajarkan not-not nada kepada generasi muda muslimin, hingga menjauhkan mereka dari pelajaran Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Bahkan, “dia juga mulai mengajarkan seni mode, pakaian musim panas musim dingin musim semi dan musim gugur, bahkan ada model pakaian khusus untuk setiap moment yang bersifat khusus maupun umum”, kata Dr. Raghib As-Sirjani dalam ceramah sejarahnya.

Naas, Masyarakat Andalusia semenjak kedatangan Ziryab telah mengganti tradisi keilmuannya dengan budaya syair dan nyanyian. Jumlah penyanyi semakin banyak di Andalusia. Setelah itu, menyebar pula tarian yang pada mulanya hanya di kalangan kaum pria tapi kemudian berpindah kepada kalangan wanita.

   Puncaknya, adalah ketika Ziryab memalingkan majelis-majelis ilmu yang diisi para Ulama, menyeret masyarakat untuk lebih mencintai hikayat palsu tentang raja-raja dan lagu-lagu mendayu yang semakin hari semakin tak jelas maknanya. Itulah mengapa Dr Raghib As-Sirjani menyebut Ziryab sebagai “salah satu alasan besar kejatuhan peradaban Islam di Andalusia.”


Adakah Dampak Ziryab Bagi Negeri Muslim Lainnya?

   Sejarah mencatat, pengaruh Ziryab dengan lagu-lagunya menyebar di saentero Andalusia, lalu menjadi gelombang melenakan yang terdengar sampai Aljazair, Maroko dan Tunisia. Hari ini, masyarakat di sana lebih mengenal Ziryab daripada Khalifah Abdurrahman Ad-Dakhil yang melegenda atau Abdurrahman Al-Ausath yang mencintai ilmu pengetahuan.

Masyarakat Tunisia, Aljazair dan Maroko juga Spanyol lebih familiar dengan Ziryab daripada mengenal panglima Islam yang menorehkan sejarah hebat. Tidak hanya itu, biografinya juga telah diajarkan di sana sebagai salah seorang tokoh pencerahan dan kebangkitan. Ia dipuji karena perlawanannya terhadap kejumudan dan perjuangannya untuk seni. Itulah Ziryab, dengan lagunya, ia melenakan, menjauhkan umat Islam dari Al-Qur’an, dan jatuhlah Andalusia sebab ulahnya.


Mengapa Hari Ini Islam Seakan Tak Pernah Ada Di Spanyol?

   Hari ini, jumlah kaum muslimin yang tinggal di Spanyol tidak lebih dari 100 ribu orang, terlalu sedikit untuk komunitas muslim dibanding negeri-negeri lainnya di dataran Eropa. Bahkan di sebuah kota di Amerika Serikat saja, bisa ada lebih dari 100 ribu muslim. Mengapa demikian? Seseorang bertanya kepada Dr. Raghib Sirjani, kemudian beliau mengulas demikiannya.

Sesungguhnya penjajahan dua Kerajaan Kristen -Aragon dan Castillia- atas peradaban Islam di Spanyol adalah penjajahan yang sangat intensif. Berbagai lini diarahkan untuk menjatuhkan peradaban Islam di Andalusia (Spanyol dan Portugal). Mesir pernah dijajah 70 tahun oleh Inggris, Aljazair, Libya, Tunisia juga pernah dijajah berbelas tahun oleh kekuatan Imperialisme, namun mengapa hari ini mereka masih dalam keislaman mereka?

   Jawabannya: Karena penjajahan di Spanyol diselesaikan secara menyeluruh oleh tentara, oleh kekejaman dan dengan pemaksaan. Hingga terjadilah di Spanyol saat akhir keruntuhannya di tahun 1492, orang-orang Islam memilih menjadi nasrani karena terancam dengan pembunuhan yang keji. Sedangkan dalam imperialisme ala Barat, mereka menjajah tak sepenuhnya dengan militer, mereka juga menggunakan politik kerjasama dan masih menggunakan jalur diplomasi.



Kedua, penjajahan atas peradaban Islam di Spanyol adalah “penjajahan yang membuat lupa”. Mengapa? Karena umat Islam Spanyol yang lari dan hijrah ke Maroko dan Tunisia pasca serangan pasukan Kristen lebih memilik untuk melupakan peristiwa itu tanpa ada keinginan untuk memperjuangkannya. Saat itu keadaan mental masyarakat muslim Andalusia dalam keadaan kritis, disebabkan jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan sunnah. Hingga akhirnya mereka lebih memilih melupakan Andalusia, daripada merebutnya kembali.


Al-Qur’an Kunci Kemenangan

   “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” Begitulah yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 176. Ketika kita berbicara keruntuhan Islam di Spanyol, kita bukan ingin ikut meratap untuk mengenang masa-masa kesedihan. Justru di situlah Allah ingatkan kita untuk mengambil pelajaran. Apa sebab kekalahan? Mengapa kalah? Dan apa hal yang harus dilakukan untuk mengembalikan kekalahan menjadi kemenangan?

Sebab kekalahan dalam kisah sedih Andalusia, adalah jauhnya Umat Islam pada Al-Qur’an, hadist dan ilmu agama, sehingga menciptakan generasi rapuh yang terlena dengan lagu-lagu. Mengapa mereka kalah? Bagaimana tidak? Jika Umat ini lebih memilih para Penyanyi sebagai tempat mendengar dan meninggalkan Ulama yang berkewajiban menjaga aqidah umat, itulah tanda runtuhnya peradaban.

   Dan apa hal yang harus dilakukan untuk mengembalikan kekalahan menjadi kemenangan? Al-Qur’an. Bukankah dengan Al-Qur’an, Allah meninggikan derajat suatu kaum dan menghinakan derajat kaum yang lain? Umat Islam akan berdiri tegak jika Qur’an ada sebagai aturan hidup, diamalkan dan dikaji, juga menjadi sumber ilham. Jika tidak? Ketahuilah musuh akan tertawa dan bersiap melumat kita.




PERPECAHAN MUSLIM DI AL-ANDALUS
DAN BANGKITNYA TAIFA-TAIFA


D
Dalam sejarah, perpecahan dunia Islam selalu menjadi sebab kejatuhan atas kekuasaan yang paling kuat sekalipun. Salah satu contohnya adalah periode Taifa. Taifa secara etimologis bangsa atau golongan, secara istilah artinya adalah negara-negara kecil yang tumbuh di Al-Andalus, Muslim Spanyol pada abad 11. Pada tahun 700-an, Al-Andalus menjadi bagian provinsi dinasti Umayah yang makmur dan kuat.

Namun setelah revolusi Abbasiyah pada tahun 750, Al-Andalus akhirnya menjadi negara yang berdiri sendiri di bawah kedaulatan sisa-sisa Umayyah.

   Al-Andalus mencapai puncaknya pada tahun 1000. Kekhalifahan Umayyah di Cordoba menjadi negara paling kuat di Eropa Barat secara politik dan ekonomi. Pencapaian seni, ilmu pengetahuan dan sosial di Al-Andalus pada waktu itu tak tertandingi, berbarengan dengan kecermelangan peradaban Muslim di Irak, Mesir dan Persia. Namun dalam kurun 50 tahun kemudian, semua keadaan itu berbalik. Al-Andalus berubah dari negara besar yang bersatu menjadi negara yang terpecah-pecah, lemah dan secara politik bergantung dengan kekuatan asing. Masa itu disebut sebagai “periode Taifa”, yang menjadi faktor kemunduran Al-Andalus dan akhirnya jatuh pada tahun 1492.


Bangkitnya  Taifa-Taifa

   Pada 976, seorang anak yang berusia 10 tahun naik tahta sebagai khalifah Dinasti Umayyah di Al-Andalus. Karena masih kanak-kanak, maka kekuasaan diserahkan kepada Mansur ibn Abi ‘Amir, penasehat hukum dinasti Umayyah. Selama 3 dekade sebagai penguasa efektif Al-Andalus, kekuasaan Muslim mencapai puncak kejayaannya di semenanjung Iberia (Sekarang: Spanyol dan Portugis). Namun, konsekuensi monopoli kekuasaan Mansur adalah hilangnya peran khalifah sendiri. Sepeninggal al- Mansur pada tahun 1002, Andalusia diguncang perpecahan, ketika khalifah tidak dapat menjalankan kontrol kekuasaannya secara efektif dan para “komandan pasukan” bangkit menciptakan negara-negara merdeka dari “kekhalifahan – pemerintahan Al-Andalus, yang disebut Taifa-Taifa di seluruh semenanjung Iberia. Inilah menjadi awal Periode Taifa-Taifa.

Gambaran tentang bangkitnya Taifa-Taifa (negara-negara kecil terlepas dari Kekhalifahan Al-Andalus) dijelaskan secara tepat oleh Abdallah ibn Buluggin, seorang cendekiawan yang melihat langsung peristiwa itu:

“Ketika dinasti Amirid (al-Mansur) berakhir dan rakyat ditinggal tanpa pemimpin, maka setiap komandan militer bangkit membangun kotanya dan melindungi diri mereka sendiri dengan benteng untuk memperkuat posisinya, membangun tentara dan memperkokoh sumber dayanya sendiri. Orang-orang ini saling bersaing dengan lainnya untuk merebut kekuasaan dan mengalahkan lawan-lawannya.”


   Para raja Taifa tidak berasal dari keluarga Umayyah atau memiliki klaim tradisional atas kekuasaan, sehingga tidak pelak kemampuan mereka untuk menjalankan kekuasaannya hanya terbatas kepada wilayah-wilayah yang ditaklukannya. Dengan lusinan para komandan militer pada pertengahan abad 11, maka konflik diantara mereka tidak dapat dihindarkan.

Taifa biasanya hanya berpusat di kota-kota besar di Andalusia, semacam Toledo, Granada, Seville dan Cordoba. Para raja Taifa menggunakannya rakyatnya sebagai pasukan untuk bertempur dengan taifa lainnya. Perang antara raja-raja Muslim ini menimbulkan bencana bagi eksistensi Islam di Spanyol.


Karakter Taifa

   Para pemimpin Taifa berbeda dengan masyarakat Andalusia sendiri. Di bagian selatan semenanjung Iberia, para Taifa berasal dari keluarga-keluarga Arab kaya yang menonjol seiring melemahnya peran Khalifah. Seville, Zaragoza dan Cordoba dipimpin oleh mereka. Di bagian utara, etnik Berber (Moor) secara tradisional telah bermukim sejak 700-an. Kondisi di Iberia Tengah hampir sama dengan kampung halamannya di Afrika Utara. Dengan demikian, raja-raja Taifa cenderung berasal dari etnik Berber.



Hanya menariknya, perang diantara Raja Taifa Muslim tidak didasarkan kepada perbedaan etnik, namun lebih karena ambisi diantara raja-raja tersebut  untuk menumpuk kekuasaan. Dengan menggunakan pasukan yang loyal terhadap dirinya, para raja itu saling menyerang Taifa tetangganya, merebut dan menaklukkan kota-kota Taifa lainnya. Akibatnya, kebangkitan Taifa di awal 1000-an hingga 1080-an, jumlah kerajaan Taifa turun dari 30 menjadi 9 karena sebagian Taifa lainnya dapat ditaklukan karena posisinya yang lemah.


Invasi Pasukan Kristen

   Satu-satunya pihak yang diuntungkan dengan periode Taifa adalah kerajaan-kerajaan Kristen di sebelah utara. Ketika negara-negara Muslim saling berperang satu sama lain, negara-negara Kristen mengambil keuntungan tersebut dengan menekan ke selatan dan menundukkan wilayah-wilayah Muslim. Dalam banyak kasus, banyak raja-raja Taifa juga mengundang raja-raja Kristen untuk berperang melawan Taifa-Taifa Muslim lainnya, dan ini yang sebenarnya menyebabkan hilangnya banyak wilayah Muslim pada abad 11.



Taifa pertama yang meminta bantuan Kristen dalam perang antar mereka adalah Cordoba, bekas ibukota dinasti Umayyah. Setelah kejatuhan kekhilafahan Umayyah di awal abad 11, konflik pecah di dalam kota antara penduduk Cordoba dengan tentara Berber yang baru saja pindah dari Afrika Utara. Antara 1010 dan 1013, kedua belah pihak menyewa pasukan bayaran Kristen untuk memperkuat kedudukan mereka di dalam kota. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, pasukan non Muslim ikut pawai di jalanan kota Cordoba, ibukota Muslim di Spanyol.

   Hal itu menjadi preseden bagi lainnya, para Taifa Muslim lainnya juga berlomba mempekerjakan orang-orang Kristen sebagai tentara mereka, atau langsung meminta bantuan para raja Kristen di utara untuk berperang melawan Muslim lainnya. Pada 1043, raja Taifa Toledo meminta bantua kerajaan Krsiten Navarre untuk berperang melawan Taifa Guadalajara. Sebagai imbalannya, Raja Garcia Sanchez menerima hadiah, perbekalan dan hak memanen kebu di pedesaan Toledo. Karena itu, Taifa Guadalajara juga meminta bantuan Fernando I dari Leon-Castille, yang juga menerima imbalan besar karena berperang melawan Taifa musuh Taifa Guadalajara.

Akibat yang tampak dari konflik ini benar-benar dirasakan kaum Muslimin di Al-Andalus. Pasukan Kristen mulai mendesak maju ke wilayah selatan. Kerajaan-kerajaan Kristen tersebut berperang melawan Taifa-Taifa di sekitarnya, menundukkan dan kemudian mencaplok wilayah Taifa yang ditaklukkannya. Akibatnya, kota-kota yang dulunya dimiliki Taifa Muslim kini berada di bawah kendali kerajaan-kerajaan Kristen yang semakin kuat. Belum lagi, kaum Muslim diperlakukan semena-mena di wilayah yang diduduki dan berakhir dengan pembersihan etnik sehingga tidak ada lagi Muslim yang tersisa.

   Konsekuensi lain dari perang ini adalah ekonomi. Sebagai imbalan keterlibatan pasukan Kristen dalam berperang untuk raja-raja Taifa, mereka menuntut bayaran yang tinggi dan pasokan perbekalan. Tidak pelak, hal ini menimbulkan kemunduran ekonomi, pajak semakin naik untuk membiayai perang dan tidak ada investasi ekonomi lagi.


Berakhirnya Periode Taifa

   Ketika perang Taifa pecah di semenanjung Iberia, gerakan baru muncul di Afrika Utara. Pada 1040, Abdullah Ibnu Yasin, seorang ulama Berber di Afrika Utara mendirikan gerakan yang dinamakan Murabitun. Tujuan dari gerakan ini adalah menerapkan praktik Islam yang ketat dan menghilangkan praktik dan hukum yang tidak islami. Moto mereka adalah “amar ma’ruf nahi munkar, dan menghapus pajak yang tidak islami.” Karena tradisi kemiliteran yang dimiliki etnik Berber, para Raja Taifa pada waktu itu mengandalkan Murabitun untuk menghadapi invasi pasukan Kristen. Misalnya, 1091, ketika Taifa Seville terancam jatuh ke tangan Alfonso VI dari Castille, yang telah berhasil merebut kota Muslim Toledo. Karena kondisinya yang kritis, akhirnya Raja-Raja Taifa meminta Ibnu Tashfin, pepimpin Murabitun pada akhir abad 11, datang ke Andalusia untuk membebaskan negeri-negeri Muslim.



Ibnu Tashfin memahami karakter politik kotor yang terjadi diantara para Raja Taifa, maka dia hanya menyanggupi untuk menyingkirkan Alfonso VI dan setelah itu kembali ke Afrika Utara. Namun setelah berulang kali diundang ke Andalusia untuk menghadapi invasi pasukan Kristen, Ibnu Tashfin akhirnya didesak para ulama, termasuk Imam Ghazali sendiri untuk menggulingkan para Raja-Raja Taifa yang lemah dan menjadikan Andalus sebagai bagian Murabitun. Dia melakukannya pada 1090, merebut beberapa Kerajaan Taifa dan menyatukannya untuk menghadapi invasi Kristen. Meskipun Murabitun tidak dapat lagi merebut wilayah yang telah dicaplok pasukan Kristen, namun eksistensi Murabitun dapat mencegah laju aneksasi pasukan Kristen di sebelah selatan, sehingga membutuhkan lebih dari 400 tahun untuk kemudian mereka dapat menduduki semua wilayah Muslim di Andalusia.


Penutup


   Akhirul Kalam, sejarah telah mencatat kejatuhan Al-Andalus (di Semenanjung Iberia – Spanyol-Potugis sekarang) yang menjadi pelajaran sebagaimana yang diingatkan oleh Rabb ‘Ālamīn (Tuhan Seluruh Alam Semesta) untuk mengambil ‘itibar - suatu contoh untuk dijadikan pelajaran dari kejadian sejarah tersebut, sebagaimana yang diingatkan-Nya dalam firman-Nya yang artinya:

“Maka ceritakanlah (kepada mereka - ummat Muhammad di kemudian hari) kisah-kisah itu (sajarah umat-umat terdahulu) agar mereka berpikir.” [QS Al-A’rāf 7:176]

Untuk itu Allah Subhāna Wa Ta’āla mengingatkan untuk bertaqwa kepada ajaran dan perintahnya untuk mengambil ‘itibar dari kejadian sejarah tersebut yang artinya:

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah (agama, ajaran Islam dalam ketaqwaan dan khususnya dalam persatuan), dan jangalah kamu bercerai berai (tidak bersatu), dan ingatlah nikmat Allah (bahwa persatuan itu menjadi kamu kuat) kepadamu katika kamu (masa jahiliyah) bermusuhan (satu sama lain bertikai dalam i’tilaf), lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara (lagi), sedang (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka (perpecahan dan dan berantakan – jika tidak diperhatikan “perintah-Nya, kemudian akan menjadi hancur luluh), lalu Allah menyelamatkan kami (jika kamu mengikuti perintahnya) dari sana (peristiwa/kejadian itu). Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kami mendapat petunjuk (dari peristiwa sejarah yang telah diuraikan diatas). [QS Āli ‘Imrān 3:103].

   Inilah yang dikatakan sahabat penulis - Bang Duta, dalam komennya terhadap tulisan penulis yang bertema MENELUSURI LIMA KOTA UTAMA ANDALUSIA sbb: “Berkunjung ke Andalusia (Al-Andalus) menyisakan kesedihan dan kepedihan, betapa peradaban yang dibangun selama hampir 8 abad sirna karena umat meninggalkan Al-Qur’an” - yang sebab-sebab berakhirnya kekhalifahan al-Andalus sebagaimana yang disebutkan dalam surat Āli ‘Imrān ayat 103 seperti tersebut diatas (sebenarnya juga, bagaimana cara menghindarinya). Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM


Lihat pula video ini ---klik---> Jatuh dan Runtuhnya Peradaban Islamdi Andalusia – suatu nasehat yang menyentuh akal dan hati kita.



Sumber:
https://www.dakwatuna.com/2015/03/17/65866/fakta-penting-tentang-berakhirnya-islam-di-andalusia/#axzz56cfDBvTl
http://permatafm.com/home/perpecahan-muslim-di-andalusia-periode-bangkitnya-taifa/
https://www.youtube.com/embed/_DHhDr-xCbg
https://jendelailmu-faisal.blogspot.com/2018/02/menelusuri-lima-kota-utama-andalusia.html
dan sumber-sumber lain □□

Blog Archive